Konten dari Pengguna

Ketika Kejujuran Bicara

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendrizon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo hasl kreasi Chat GPT AI
zoom-in-whitePerbesar
Photo hasl kreasi Chat GPT AI

Sore itu, jemari Pak Ridwan tampak makin sibuk menari di atas keyboard laptop. Wajahnya yang keras dipaksa tersenyum selebar mungkin tiap kali sang Kepala Kantor Pak Basri melintas di depan mejanya. Ridwan adalah tipe staf yang tidak hanya rajin, tetapi juga terlampau lebai dalam menyanjung atasan. Segala titah Pak Basri, sedemikian kelirunya pun, akan dibela Ridwan mati-matian bak seorang prajurit melindungi komandannya.

Beberapa bulan lalu, ketika Bayu seorang operator muda yang dikenal sangat jujur dan teliti, menolak keras memalsukan rincian anggaran kegiatan kantor, Pak Basri murka. Kekuasaan yang melekat pada jabatannya dipakai sewenang-wenang. Pekerjaan sistem dan verifikasi aplikasi keuangan daerah yang semula dipegang Bayu, diambil alih secara paksa oleh Pak Basri dan diserahkan penuh kepada Ridwan.

Bayu yang tak mau mengotori tangannya memilih diam dan mengalah. Bagi Pak Basri dan Ridwan, tersingkirnya Bayu dianggap sebagai kemenangan.

"Tenang saja, Pak Kasubag," kata Ridwan kala itu sambil menepuk dada, "Semua persoalan pasti beres. Operator sok suci itu cuma bikin lambat kerjaan kita!"

Pak Basri pun tersenyum lega. Segala kelakuan miring dan dosa-dosa administrasinya tertutup rapat berkat keahlian Ridwan mengemas kebohongan secara berlebihan. Ridwan dengan bangga menganggap dirinya pahlawan penyelamat kantor, tanpa sadar bahwa ia hanyalah perisai dari sebuah kejahatan.

Namun, roda kehidupan berputar tanpa kompromi. Kepindahan Bayu dari kantor itu ternyata menjadi awal jalan terang baginya. Kejujuran dan integritasnya terdengar hingga ke gedung pimpinan daerah. Tak butuh waktu lama, Bayu diangkat menjadi Asisten Pribadi dari Atasan Pemerintah Daerah yakni sosok nomor satu yang membawahi seluruh instansi, termasuk kantor tempat Pak Basri dan Ridwan bernaung.

Di dunia informasi publik yang makin transparan dan terintegrasi, tugas baru Bayu memungkinkannya mengakses seluruh data kearsipan dan laporan keuangan daerah secara digital. Dari balik layar kerjanya yang baru, Bayu hanya bisa mengelus dada saat memeriksa rekam jejak keuangan kantor lamanya. Ridwan dan Pak Basri telah melakukan rekayasa sistem yang teramat jauh: mark-up anggaran, pembuatan laporan fiktif, hingga manipulasi data pada aplikasi keuangan daerah demi menutupi tindak korupsi mereka.

Hingga akhirnya, hari penghakiman itu tiba. Sebuah Majelis Evaluasi Laporan Kinerja Instansi digelar megah di aula utama pemerintah daerah. Seluruh kepala dinas, kepala instansi, dan para staf ahli hadir. Di dinding aula, membentang spanduk besar berisi motto instansi Pak Basri: "Jujur, Adil, dan Beradab". Sebuah motto yang terasa sangat ironis.

Pak Basri hadir dengan penuh percaya diri, didampingi Ridwan yang sejak pagi terus menyombongkan pencapaian instansinya kepada staf dari dinas lain. Ridwan yakin, laporan keuangan tahunan yang dirancangnya bersama sang atasan akan kembali menuai pujian.

Saat sesi evaluasi dibuka, pimpinan daerah mempersilakan Bayu naik ke mimbar utama untuk memaparkan hasil audit kinerja dan efisiensi sistem keuangan seluruh instansi.

Dengan tenang dan lugas, Bayu menayangkan paparan di layar proyektor besar. Di hadapan ratusan pasang mata, Bayu membedah data aplikasi pemerintah daerah secara real-time. Satu per satu angka yang dipalsukan Ridwan dibuka secara gamblang, disandingkan dengan bukti transfer dan rekapitulasi riil yang sebenarnya.

"Laporan kinerja dan keuangan dari instansi ini, sama sekali tidak mencerminkan kenyataan, Semua angka yang disajikan adalah bohong belaka," ujar Bayu tenang.

Ruang aula seketika senyap. Wajah Ridwan yang semula tersenyum penuh kebanggaan mendadak pucat pasi. Peluh dingin menetes deras di pelipisnya. Pak Basri di sebelahnya tertunduk dalam-dalam, tak berani menatap layar.

Bayu melanjutkan paparannya tanpa nada dendam, melainkan dengan ketegasan seorang profesional yang memegang teguh kebenaran. Ia membongkar bagaimana stampel resmi instansi digunakan secara sembarangan hanya untuk melegalkan dokumen-dokumen fiktif.

"Motto instansi adalah Jujur, Adil, dan Beradab," kata Bayu seraya menatap lurus ke arah Pak Basri dan Ridwan. "Namun perilaku dan laporan yang disajikan hari ini sangat jauh dari apa yang diharapkan dari moto yang megah itu. Seolah tak ada lagi rasa malu, apalagi keimanan dalam menjalankan amanah rakyat."

Di tengah majelis yang riuh oleh bisik-bisik kekecewaan, kejujuran telah menelanjangi kepalsuan. Ridwan benar-benar dipermalukan di hadapan publik. Segala aksi lebai dan pembelaan butanya selama ini berubah menjadi bumerang yang menghancurkan dirinya sendiri. Orang-orang di dalam ruangan tak lagi menaruh hormat sedikit pun baik kepada Pak Basri maupun Ridwan. Instansi yang semula mereka banggakan kini hanya tinggal nama dan stempel tanpa wibawa.