Konten dari Pengguna

Memupuk Kejujuran ASN Sejak Dini

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendrizon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kreasi Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kreasi Gemini AI.

Orang yang paling jujur di dalam Islam disebut dengan gelar Al Amin. Nama itulah yang disematkan kepada baginda nabi Muhammad SAW karena kejujurannya diatas segala-galanya. Orang yang jujur ( Al Amin) sangat relevan sekali dengan perilaku orang yang dapat dipercayai (memegang amanah), karena memiliki iman yang kuat (Orang Beriman). Bila dirangkaikan satu persatu asal kata tersebut terdiri dari kata Al-Amin (الأمين) – Al Amanah (الأمانة) – Al Iman (الإِيـمَانُ).

Tiga kata dalam bahasa Arab diatas tersebut berasal dari akar kata Amana (امن) artinya "aman" atau "keamanan". Jadi proses membentuk ASN yang jujur dimulai dari rasa mempunyai iman yang kuat (Beriman) dan hanya bisa diraih bila seseorang itu memiliki hati yang bersih tanpa dinodai oleh setitik noda dosa sedikit pun (Orang Yang Amanah).

Jika diibaratkan sebuah cahaya, kejujuran itu akan menyinari setiap sudut dari kegelapan Kegelapan itu akan berubah menjadi keadaan yang terang benderang. Namun jika ada yang menjadi penghalang, maka yang menghalangi itu adalah dosa yang telah diperbuat.

Di dalam konteks kehidupan modern seperti sekarang ini, nilai suatu kejujuran menjadi hal yang teramat “mahal”. Ia bagaikan mutiara di dalam lumpur yang dalam menjadi rebutan semua orang. Biasanya hal ini terjadi ditengah-tengah keadaan dan tuntutan kehidupan dunia.

Kejujuran adalah kunci kesuksesan karena akan membangun kepercayaan, menghindari konflik, menciptakan ketenangan batin, dan membuka peluang besar. Orang yang jujur dihormati, lebih dipercaya, dan memiliki integritas yang kuat, sehingga lebih mudah meraih kesuksesan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk bisnis dan karir.

Namun bila sebuah kejujuran harus digadaikan oleh situasi dan kondisi maka tak dapat tidak kejujuran tak dapat disalahkan. Namun yang sebenarnya situasi dan kondisi itulah yang menyesuaikan dengan kejujuran bukan sebaliknya mempertaruhkan kejujuran demi sesuatu yang tak prinsipil.

Alasannya adalah bila kita sanggup menggadaikan suatu kejujuran, maka sebenarnya kita telah menggadaikan sebuah keimanan dan merubah sikap seseorang menjadi tidak lagi bisa dipercaya (Amanah). Keadaan tentu akan terus berubah ke bentuk berperilaku khianat, dan bila sudah berkhianat tentu sudah termasuk tindakan yang tidak terpuji bahkan itu adalah termasuk perbuatan menzhalimi. Bila keadaan seperti ini telah terjadi, maka keadilan pun sulit untuk diwujudkan.

Sangat miris bila kejujuran sampai digadaikan dan di komandoi. Bila ini sampai terjadi, orang akan sanggup memanipulasi data dan keadaan bahkan secara sistematis, terstruktu. Ujung-ujungnya akan terjadi kekacauan dan perkelahian, sakit hati, iri dengki, Al hasil keadaan tak lagi menjadi sesuatu yang kondusif tapi akhirnya terjadilah perpecahan.

Oleh karena itu mari bersikap jujur sejak dini, karena kejujuran adalah cerminan dari hati yang bersih dan kejujuran akan mengantarkan kita menjadi orang yang benar baik dalam bersikap maupun dalam berbuat. Sebagai penutup marilah kita renungkan satu hadist dari rasulullah SAW Hadits Jami' At-Tirmidzi No. 1894 – Kitab Berbakti dan menyambung silaturrahim tentang Jujur dan bohong

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ شَقِيقِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الْعَبْدُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ وَعُمَرَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ وَابْنِ عُمَرَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Hannad, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari A'masy dari Syaqiq bin Salamah dari Abdullah bin Mas'ud ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Hendaklah kalian bersikap jujur, karena kejujuran itu akan membawa pada kebaikan, sedangkan kebaikan akan membawa kepada surga. Tidaklah seorang bersikap jujur dan selalu berbuat jujur hingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan hendaklah kalian menjauhi sikap dusta, karena kedustaan itu akan membawa pada kekejian, sedangkan kekejian akan membawa kepada neraka. Dan tidaklah seorang berbuat dusta dan selalu berdusta hingga ia ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta." Hadits semakna juga diriwayatkan dari Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar, Abdullah bin Asy Syikhkhir dan Ibnu Umar. Abu Isa berkata; Ini adalah hadits Hasan Shahih.