Konten dari Pengguna

Ketika Gaya Hidup Gen Z Berhadapan dengan Tantangan Memiliki Rumah

Ilustrasi: Dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Dokumen pribadi

Penjualan properti belakangan ini mengalami penurunan. Berdasarkan data dari hasil survei Bank Indonesia, laporan data di tahun 2025, faktor utama penjualan rumah merosot disebabkan oleh beberapa faktor seperti kenaikan harga bangunan (18,17%) diikuti suku bunga KPR (15,56%), masalah perizinan (14,79%), dan masalah DP yang tinggi ketika pengajuan KPR (9,91%), dan perpajakan (9,42%).

Kondisi ini tentunya sangat memengaruhi generasi muda sebagai calon pembeli rumah pertama mereka. Data dari Rumah123.com menunjukkan bahwa 75% yang mencari informasi properti di platform Rumah123 berasal dari kelompok usia 18-44 tahun yang di dominasi generasi muda.

Namun mayoritas ruang lingkup pencarian mereka masih sebatas berfokus kepada rumah dengan ukuran yang kecil dan harga yang terjangkau. Kondisi tersebut mencerminkan generasi muda masih memiliki minat yang cukup tinggi untuk membeli rumah, tetapi kemampuan finansial menjadi faktor yang menjadi penghalang.

Memiliki rumah kini menjadi tujuan yang semakin sulit direalisasikan, sementara pengeluaran untuk gaya hidup, hiburan, fashion, dan kebutuhan konsumtif lainnya justru semakin mudah dilakukan. Kemudian timbulan pertanyaan, mengapa investasi jangka panjang semakin tertunda, tetapi konsumsi jangka pendek semakin meingkat?

Gambaran tersebut juga dibuktikan dengan survey YouGov Indonesia yang dilakukan secara daring pada tanggal 17 sampai dengan 24 April tahun 2025. Survey ini membuktikan bahwa Gen Z lebih banyak mengalokasikan pengeluaran untuk gaya hidup, terutama produk kecantikan (21%) dan fashion (20%).

Temuan ini mengindikasikan bahwa di tengah tekanan ekonomi, sebagian anak muda masih sempat untuk menggeser skala prioritas. Sehingga jelas kepemilikan rumah, yang merupakan aset jangka panjang akan semakin sulit diwujudkan.

Kemudahan yang dirasakan oleh Gen Z pada era cashless saat ini juga mendorong mereka untuk cenderung berperilaku konsumtif, sehingga lebih sering mengeluarkan uang tanpa memikirkan benda tersebut benar-benar dibutuhkan atau tidak. Hal ini terjadi karena uang yang dikeluarkan tidak terlihat sehingga rasa tanggungjawabnya berkurang ketika uang tidak terlihat dalam bentuk secara fisik.

Menurut Taqwa & Mukhlis (2022), perilaku konsumtif merupakan kecenderungan individu untuk melakukan aktivitas konsumsi yang didorong oleh orientasi hedonis, yaitu lebih mengutamakan pemenuhan keinginan dibandingkan kebutuhan.

Kondisi ini banyak ditemukan pada Generasi Z karena kelompok Gen tersebut mudah dipengaruhi oleh berbagai perubahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya, baik perkembangan sosial maupun teknologi, yang pada akhirnya turut membentuk pola dan perilaku konsumsi mereka.

Fenomena tersebut dalam beberapa tahun terakhir disebut dengan istilah Doom Spending. Istilah ini menggambarkan kecenderungan seseorang yang membelanjakan uang demi memperoleh kepuasan sesaat sebagai respons terhadap kecemasan, ketidakpastian ekonomi, atau ingin mengunggah di media sosial sebagai self reward. Dengan kata lain, berbelanja tidak lagi didorong oleh kebutuhan, melainkan juga oleh dorongan psikologis untuk sekadar kepuasan sesaat.

Fenomena Doom Spending menunjukkan bahwa keputusan membeli suatu produk tidak selalu berdasarkan kebutuhan harian saja. Contohnya dalam masyarakat modern, tingkat konsumsi terhadap suatu barang semakin dipengaruhi oleh arti atau makna yang melekat pada brand tersebut.

Pakaian bermerk, gawai terbaru, hingga liburan merupakan sesuatu yang di luar kebutuhan dasar melainkan menjadi simbol pencapaian, identitas dan pengakuan sosial. Akibatnya kepuasan yang diperoleh dari konsumsi jangka pendek ini sering kali terasa lebih real dibandingkan dengan upaya membeli rumah.

Dalam perspektif kritis, fenomena tersebut tidak cukup dipahami sebagai persoalan pilihan konsumsi individu. Fuchs (2020) melalui Critical Theory of Communication memandang komunikasi sebagai bagian dari proses sosial yang tidak terlepas dari struktur ekonomi, ideologi, dan relasi kekuasaan. Komunikasi tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga dapat berperan dalam membentuk cara masyarakat memahami kebutuhan, keinginan, nilai, dan tujuan hidup.

Dalam konteks konsumsi, perspektif ini memungkinkan perilaku membeli barang secara lebih kritis, terutama ketika komunikasi komersial turut membangun pemaknaan tertentu mengenai simbol keberhasilan, status, dan gaya hidup. Dengan demikian, kecenderungan doom spending dapat dilihat bukan semata-mata sebagai kelemahan individu dalam mengendalikan pengeluaran, tetapi juga sebagai bagian dari lingkungan sosial yang terus memproduksi dan memperkuat nilai konsumtif.

Dalam konteks tersebut, fenomena ini dapat dipahami melalui perspektif networked branding yang dikembangkan oleh Thomas J. Billard dan Rachel E. Moran (2019). Perspektif ini mengintegrasikan kajian komunikasi dan pemasaran untuk menjelaskan bahwa praktik branding tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi mengenai produk, tetapi juga berkembang menjadi proses komunikasi yang menghasilkan ekspresi simbolik dan membangun makna yang berkaitan dengan suatu merek.

Dalam proses tersebut, merek dapat menjadi sarana untuk mengkomunikasikan nilai, identitas, status, dan gaya hidup tertentu kepada konsumen. Dengan demikian, keputusan konsumsi tidak selalu terbentuk berdasarkan manfaat fungsional suatu produk, tetapi juga melalui makna simbolik yang dikonstruksi dan dikomunikasikan secara berkelanjutan. Perspektif ini relevan untuk menjelaskan bagaimana komunikasi merek dapat berkontribusi terhadap terbentuknya orientasi konsumsi yang menempatkan barang sebagai simbol pencapaian dan pengakuan sosial.

Perubahan cara pandang produk tidak terjadi begitu saja. Arti tersebut dibentuk melalui proses komunikasi yang berlangsung secara sustainable, mulai dari iklan, strategi merek, hubungan masyarakat, hingga pengalaman yang dibuat perusahaan untuk konsumennya. Akibatnya, suatu produk tidak hanya diartikan berdasarkan fungsi dan manfaatnya, tetapi juga berdasarkan citra, status dan nilai yang melekat di dalamnya.

Hungara & Nobre (2021) menegaskan bahwa keputusan memilih suatu barang merupakan bagian dari proses pembentukan makna dalam kehidupan sosial. Pandangan ini diperkuat oleh Dalla Chiesa & Dekker (2022) yang menyatakan bahwa barang konsumsi juga berfungsi sebagai sarana untuk mengkomunikasikan identitas seseorang kepada lingkungannya.

Dengan demikian fenomena Doom Spending tidak dapat dipahami sebagai persoalan finansial saja, melainkan sebagai konsekuensi dari proses komunikasi yang membentuk persepsi mengenai simbol kesuksesan, status dan gaya hidup ideal.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kesuksesan perlu dibangun secara bertahap, bukan dengan cara yang instan. Selama ini kesuksesan sering kali dikait-kaitkan dengan simbol-simbol yang terlihat dari luar saja, seperti barang bermerek, atau gaya hidup tertentu. Padahal, membangun keamanan finansial melalui pembelian aset, termasuk rumah juga justru menjadi bagian yang penting dari keberhasilan yang layak dipublikasikan kepada publik.

Pada akhirnya, fenomena doom spending bukan sekedar persoalan pilihan individu, melainkan cerminan perubahan cara masyarakat memaknai kesuksesan.

Ketika kepemilikan barang bermerek lebih dijadikan ukuran pencapaian daripada membeli rumah, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya perilaku konsumenya, tetapi juga narasi yang terus dibangun dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa disadari narasi tersebut dapat menggeser orientasi dari membangun masa depan menjadi mengejar impian sesaat.

Pada akhirnya, tantangan terbesar Gen Z mungkin bukan sekadar menahan keinginan untuk berbelanja, melainkan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Selama keberhasilan lebih sering dinilai melalui memiliki simbol-simbol merek barang tertentu, fenomena Doom Spending akan terus menemukan ruang untuk tumbuh.

Karena itu pertanyaan yang patut diajukan bukan lagi mengapa Generasi Z sulit membeli rumah, melainkan bagaimana cara kita membangun narasi tentang kesuksesan yang tidak lagi diukur dari apa yang dimiliki hari ini, tetapi dari apa yang bisa diwujudkan untuk masa depan.