Mengapa Kepercayaan Publik Lebih Sulit Dibangun daripada Infrastruktur?
Tulisan dari Hendriko - tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seringnya pejabat publik tidak menepati janji ketika telah terpilih dan menjabat, membuat kepercayaan masyarakat semakin memudar. Kepercayaan publik tidak bisa diresmikan dengan hanya sesimpel menggunting pita seperti meresmikan jembatan baru. Kepercayaan tersebut lahir dengan proses yang perlahan. Di tengah derasnya arus informasi media sosial, masyarakat semakin mudah melihat pembangunan infrastruktur, di sini publik mempertanyakan apakah menjawab kebutuhan mereka.
Jalan tol, jembatan, bendungan, sekolah hingga rumah sakit merupakan symbol kemajuan yang dapat dilihat dan terukur. Namun dibalik bangunan tersebut ada hal yang lebih sulit dibangun, yaitu kepercayaan. Ketika masyarakat didengar, dilibatkan dan diperlakukan secara adil, maka dengan sendirinya kepercayaan akan tumbuh. Sebaliknya, ada satu saja kebijakan tidak transparan maka dengan otomatis dapat menghilangkan kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Banyak negara menghadapi tantangan serupa. Di era gempuran media sosial, setiap keputusan pemerintah mendapat sorotan yang tajam. Informasi menyebar dalam hitungan detik, begitu pula kritikan, spekulasi dan juga berita hoaks. Karena itu, membangun kepercayaan kini tidak cukup hanya melalui hasil kerja, tetapi juga melalui cara menjelaskan proses kerja tersebut.
Kepercayaan juga berkaitan erat dengan konsistensi. Publik cenderung memaafkan kesalahan jika pemimpin mau mengakui kekeliruan dan memperbaikinya. Sebaliknya, inkonsistensi membuat masyarakat ragu, meskipun pembangunan terus berjalan. Dalam konteks ini, komunikasi bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan membangun hubungan.
Hal lain yang sering terlupakan adalah partisipasi. Masyarakat ingin merasa menjadi bagian dari proses, bukan sekadar penonton. Ketika aspirasi mereka didengar, keputusan yang sulit sekalipun lebih mudah diterima. Sebab, rasa memiliki sering kali lebih kuat daripada sekadar rasa setuju.
Infrastruktur memiliki target waktu, anggaran, dan indikator keberhasilan yang jelas. Kepercayaan publik tidak demikian. Ia dibangun melalui pengalaman sehari-hari: pelayanan yang ramah, birokrasi yang sederhana, penegakan hukum yang adil, serta keterbukaan terhadap kritik. Hal-hal kecil inilah yang sering menentukan persepsi masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab. Budaya memeriksa fakta, berdiskusi secara sehat, dan tidak mudah terprovokasi merupakan bagian penting dalam menjaga ruang publik yang sehat. Kepercayaan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi hasil interaksi semua pihak.
Pada akhirnya, sejarah menunjukkan bahwa banyak peradaban mampu membangun bangunan megah. Namun, hanya sedikit yang berhasil mempertahankan kepercayaan rakyatnya dalam jangka panjang. Infrastruktur dapat mempercepat mobilitas dan pertumbuhan ekonomi, tetapi kepercayaan publik memperkuat legitimasi dan daya tahan sebuah bangsa. Mungkin karena itulah membangun jalan membutuhkan alat berat, sedangkan membangun kepercayaan membutuhkan integritas yang dibuktikan setiap hari.

