Kebangkitan Emas Putih dari Lereng Slamet

Humas Balitbangtan BRMP Jawa Tengah, Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pertanian Republik Indonesia
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Hendril Heirul Riza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di lereng utara Gunung Slamet, Desa Tuwel di Kabupaten Tegal pernah jadi saksi dari sebuah masa keemasan. Bagi petani di sana, tahun-tahun antara 1982 hingga 1995 bukan cuma kenangan, tapi bab penting dalam sejarah kesejahteraan desa. Waktu itu, bawang putih jadi nadi ekonomi dan simbol kejayaan sosial. Nilainya begitu tinggi sampai orang menyebutnya “emas putih”.

Bawang putih kala itu tak sekadar tanaman. Ia jadi penggerak ekonomi yang menyentuh semua lapisan. Setiap bagian tanaman bernilai, dan setiap panen membawa dampak langsung bagi kesejahteraan keluarga. Anak-anak petani bisa sekolah sampai perguruan tinggi, rumah-rumah dibangun, dan di tengah desa berdiri masjid megah senilai miliaran rupiah—semuanya hasil gotong royong dari keuntungan bertani bawang putih. Banyak petani yang mampu menunaikan ibadah haji, menandai masa di mana kerja keras di sawah benar-benar mengubah nasib.
Namun, kejayaan itu runtuh tiba-tiba. Krisis moneter 1997-1998 dan kebijakan impor yang longgar menghantam keras petani lokal. Pasar dibanjiri bawang putih impor yang jauh lebih murah. Dalam waktu singkat, produksi dalam negeri ambruk. Petani Tuwel kehilangan pegangan; sebagian meninggalkan ladang, sebagian lain merantau ke kota. Dua dekade berikutnya menjadi masa “mati suri”—zaman di mana menanam bawang putih dianggap rugi, bahkan tabu.
Kejatuhan itu bukan sekadar kehilangan pendapatan. Ia merusak tatanan sosial desa, memutus rantai pengetahuan antar-generasi, dan membuat lembaga pertanian mandek. Tanpa riset, tanpa inovasi, varietas lokal tertinggal dari bawang putih impor yang lebih seragam dan besar ukurannya. Tegal yang dulu jadi sentra nasional, terpaksa menunduk di bawah arus globalisasi yang tak memberi ruang bagi yang tak siap.
Tapi harapan selalu menemukan jalan. Setelah 20 tahun, tanda-tanda kebangkitan datang dari arah tak terduga. Tahun 2015, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal melihat masalah inflasi yang sebagian disebabkan oleh tingginya harga bawang putih. Alih-alih hanya mengatur sisi moneter, mereka turun langsung ke akar masalah: produksi. Sebuah proyek percontohan digelar di Desa Tuwel untuk menanam kembali bawang putih. Langkah ini sempat dianggap aneh—bahkan ditertawakan—karena bagi petani, bawang putih identik dengan kegagalan.
Namun BI tak menyerah. Dengan pendampingan dan jaminan modal, mereka berhasil meyakinkan segelintir petani untuk mencoba lagi. Di lahan 1–2 hektar, lahirlah klaster pertama kebangkitan bawang putih Tuwel. Untuk memastikan keberhasilan teknis, BI menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui Pusat Kajian Hortikultura Tropika. Dari sinilah proses ilmiah dimulai: seleksi varietas unggul seperti Tawangmangu Baru dan Lumbu Hijau, penerapan teknologi dormansi umbi untuk mempercepat siklus tanam, hingga validasi adaptasi varietas terhadap kondisi agroklimat Tegal.
Hasilnya mencengangkan. Dalam dua tahun, produktivitas meningkat drastis dari rata-rata 8–10 ton per hektar menjadi 14–22 ton. Ini menandai babak baru: kebangkitan bukan lagi mimpi. Dukungan pemerintah daerah, kolaborasi lembaga keuangan, perguruan tinggi, dan kelompok tani menciptakan ekosistem kerja bersama yang menumbuhkan kembali kepercayaan diri petani.
Akan tetapi badai belum berlalu, pandemi covid-19 global memaksa semangat para petani bawang putih kembali diuji. Kondisi mati suri mulai menjalar pertanian bawang putih setelah beberapa aktivitas produksi mau tidak mau harus berhenti. Kejatuhan bawang putih sudah banyak dibayangkan akan terjadi, lagi.
Setelah kesunyian menutupi wilayah Tuwel dari nama bawang putih selama hampir 4 tahun, kemudian tongkat estafet kemudian diambil oleh Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Tengah. Lembaga di bawah Kementerian Pertanian ini datang bukan untuk memulai dari nol, tapi memperkuat dan memperluas hasil yang sudah terbukti. BRMP menata ulang pendekatan pertanian Tuwel lewat penerapan teknologi spesifik lokasi, penyusunan SOP budidaya, dan pelatihan teknis bagi petani. Fokusnya bukan lagi sekadar menanam, tapi membangun sistem perbenihan nasional yang berkelanjutan.
Langkah paling strategis adalah menjadikan Tegal sebagai pusat produksi benih bawang putih bersertifikat. BRMP menargetkan produksi 20 ton benih per hektar di lahan 10 hektar, sekaligus mengawal proses sertifikasi untuk menjamin mutu dan kemurnian varietas. Dari sini, Desa Tuwel tidak lagi sekadar tempat riset—tapi jadi simpul penting dalam rantai swasembada nasional.
Keberhasilan itu tak berhenti di angka produktivitas. Sebelumnya, pada tahun 2022, berdirilah Learning Center Bawang Putih Nasional di Tuwel, hasil sinergi Bank Indonesia, IPB, dan pemerintah. Pusat pembelajaran ini menjadi wadah pelatihan, riset, dan diseminasi teknologi pertanian. Dari tempat ini, pengalaman Tuwel akan ditularkan ke daerah lain, agar kebangkitan emas putih tak berhenti di satu titik.
Namun, setelah semua keberhasilan teknis dan lonjakan hasil panen, tantangan baru muncul di tingkat kebijakan dan pasar. Perubahan aturan impor yang melonggarkan kewajiban tanam bagi importir membuat petani kehilangan jaminan pasar. Produk lokal yang mulai bangkit kembali harus bersaing dengan bawang putih impor berharga murah. Sementara di sisi lain, produksi nasional baru mampu memenuhi sekitar 20% kebutuhan dalam negeri.
Kondisi ini menuntut strategi baru. Pemerintah perlu menciptakan kebijakan yang berpihak pada produksi dalam negeri, misalnya dengan memperketat kembali kewajiban tanam atau menyediakan mekanisme penyerapan hasil panen. BRMP dan pemerintah daerah perlu mendorong hilirisasi: mengolah bawang putih menjadi produk bernilai tambah seperti bubuk atau black garlic. Di sisi lain, branding “Emas Putih Tegal” harus dibangun agar konsumen mengenali dan menghargai cita rasa khas bawang putih lokal.
Bagi petani dan Learning Center, pekerjaan rumah berikutnya adalah menjaga inovasi dan mengedukasi pasar. Masyarakat perlu tahu bahwa bawang putih lokal punya aroma lebih kuat dan rasa lebih tajam dibanding produk impor. Dengan riset berkelanjutan dan promosi cerdas, bawang putih Tegal bisa menembus pasar konsumsi, bukan hanya benih.
Kebangkitan emas putih di Tegal membuktikan satu hal penting: inovasi, modernisasi dan kolaborasi bisa menghidupkan kembali sektor pertanian yang sempat mati suri. Tapi pelajarannya lebih dalam dari itu. Modernisasi pertanian tak akan berarti tanpa modernisasi kebijakan. Selama arah kebijakan masih berubah-ubah, para petani akan tetap berada di ujung tombak ketidakpastian.
Tegal sudah membuktikan bahwa kebangkitan itu mungkin. Tantangannya kini adalah menjaganya agar tak terulang lagi: dari emas putih yang pernah hilang, menuju emas putih yang benar-benar berkelanjutan.
