Konten dari Pengguna

Sejarah Batik Parang, Motif untuk Raja dan Para Bangsawan

Hendro Ari Gunawan
Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
13 Oktober 2025 18:50 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sejarah Batik Parang, Motif untuk Raja dan Para Bangsawan
Batik Parang merupakan motif yang hanya boleh digunakan bangsawan pada zaman dahulu. Simak sejarah batik Parang dalam artikel ini.
Hendro Ari Gunawan
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi para perempuan yang tengah mengenakan kain batik motif parang rusak.
 Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi para perempuan yang tengah mengenakan kain batik motif parang rusak. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Batik Parang adalah salah satu motif tertua dan populer di Indonesia. Gambarnya bukanlah senjata tajam, melainkan ukiran dengan tepi garis diagonal yang tampak seperti lereng gunung. Ukiran tersebut sesuai dengan makna nama Parang yang diambil dari kata “Pereng”, artinya lereng.
ADVERTISEMENT
Dulunya, motif batik Parang hanya boleh dipakai oleh para bangsawan. Namun, kini semua kalangan bisa memakai batik bercorak lereng tersebut. Penasaran seperti apa sejarah batik Parang? Simak selengkapnya berikut ini.

1. Asal Motif Batik Parang

Dikutip dari jurnal Visualisasi Batik Parang Yogyakarta susunan Stevani Precious Vallerie Bagu dkk., batik Parang sudah ada sejak kerajaan Mataram Islam. Dulunya, motif batik banyak mengadopsi gambar hewan.
Namun, setelah ajaran Islam tersebar di daerah Jawa, akhirnya masyarakat mulai menghindari batik motif binatang karena takut menyalahi syariat Islam. Pembatik pun mencoba menciptakan motif-motif lain.
Nah, selama waktu mendirikan kerajaan Mataram Islam, Sultan Sutawijaya atau Panembahan Senopati sering bertapa (1587-1601) di sepanjang pesisir selatan Laut Jawa.
ADVERTISEMENT
Hal ini membuatnya terinspirasi untuk membuat motif batik dari lanskap deburan ombak yang menghantam karang, sehingga terciptalah salah satu motif batik parang khas Kerajaan Mataram Islam.

2. Batik Parang hanya Dikenakan Bangsawan

Pada zaman Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, batik jadi kesenian eksklusif yang hanya diajarkan kepada bangsawan. Oleh karena itu, membatik merupakan kegiatan ratu serta bangsawan perempuan, dengan bantuan abdi dalem perempuan.
Nah, batik Parang merupakan salah satu motif yang hanya boleh dikenakan oleh bangsawan dan keluarga kerajaan. Sultan Yogyakarta maupun Sunan Surakarta menerapkan larangan pada rakyat untuk memakai motif tertentu. Berikut ini batik larangan untuk rakyat:
ADVERTISEMENT

3. Batik Parang Akhirnya Jadi Motif yang Umum di Masyarakat

Seiring berjalannya waktu, batik Parang menjadi motif yang umum untuk masyarakat, tidak lagi eksklusif bagi bangsawan saja. Semuanya bermula dari ratu dan putri kerajaan yang akhirnya mulai mengizinkan abdi dalem perempuan untuk mengerjakan batik.
Itu karena membatik butuh proses yang sangat lama. Jadi, tidak bisa hanya mengandalkan tenaga perempuan bangsawan untuk membuatnya. Kira-kira begini kronologis sederhananya:
ADVERTISEMENT
Masyarakat membatik dan memakai motif yang sesuai seleranya, tidak peduli jika dahulu motif itu hanya boleh digunakan raja, permaisuri dan keturunannya. Inilah yang membuat motif batik Parang akhirnya tidak eksklusif lagi.