Sejarah Batik Parang, Motif untuk Raja dan Para Bangsawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Batik Parang adalah salah satu motif tertua dan populer di Indonesia. Gambarnya bukanlah senjata tajam, melainkan ukiran dengan tepi garis diagonal yang tampak seperti lereng gunung. Ukiran tersebut sesuai dengan makna nama Parang yang diambil dari kata “Pereng”, artinya lereng.
Dulunya, motif batik Parang hanya boleh dipakai oleh para bangsawan. Namun, kini semua kalangan bisa memakai batik bercorak lereng tersebut. Penasaran seperti apa sejarah batik Parang? Simak selengkapnya berikut ini.
1. Asal Motif Batik Parang
Dikutip dari jurnal Visualisasi Batik Parang Yogyakarta susunan Stevani Precious Vallerie Bagu dkk., batik Parang sudah ada sejak kerajaan Mataram Islam. Dulunya, motif batik banyak mengadopsi gambar hewan.
Namun, setelah ajaran Islam tersebar di daerah Jawa, akhirnya masyarakat mulai menghindari batik motif binatang karena takut menyalahi syariat Islam. Pembatik pun mencoba menciptakan motif-motif lain.
Nah, selama waktu mendirikan kerajaan Mataram Islam, Sultan Sutawijaya atau Panembahan Senopati sering bertapa (1587-1601) di sepanjang pesisir selatan Laut Jawa.
Hal ini membuatnya terinspirasi untuk membuat motif batik dari lanskap deburan ombak yang menghantam karang, sehingga terciptalah salah satu motif batik parang khas Kerajaan Mataram Islam.
2. Batik Parang hanya Dikenakan Bangsawan
Pada zaman Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, batik jadi kesenian eksklusif yang hanya diajarkan kepada bangsawan. Oleh karena itu, membatik merupakan kegiatan ratu serta bangsawan perempuan, dengan bantuan abdi dalem perempuan.
Nah, batik Parang merupakan salah satu motif yang hanya boleh dikenakan oleh bangsawan dan keluarga kerajaan. Sultan Yogyakarta maupun Sunan Surakarta menerapkan larangan pada rakyat untuk memakai motif tertentu. Berikut ini batik larangan untuk rakyat:
Parang Rusak Barong
Parang Rusak Gendher
Parang Rusak Klitik
Semen Gede Swat Gruda
Semen Gede Swat Lat
Udan Riris
Rujak Sente
Parang-parangan
3. Batik Parang Akhirnya Jadi Motif yang Umum di Masyarakat
Seiring berjalannya waktu, batik Parang menjadi motif yang umum untuk masyarakat, tidak lagi eksklusif bagi bangsawan saja. Semuanya bermula dari ratu dan putri kerajaan yang akhirnya mulai mengizinkan abdi dalem perempuan untuk mengerjakan batik.
Itu karena membatik butuh proses yang sangat lama. Jadi, tidak bisa hanya mengandalkan tenaga perempuan bangsawan untuk membuatnya. Kira-kira begini kronologis sederhananya:
Ketika abdi dalem perempuan terlihat membatik, akhirnya banyak keluarga mereka serta prajurit yang ikut melakukan kesenian tersebut.
Masyarakat biasa pun jadi penasaran dan tertarik untuk mencoba kegiatan membatik.
Popularitas membatik yang semakin tersebar di masyarakat membuat banyak orang mulai melupakan aturan tentang motif batik larangan.
Masyarakat membatik dan memakai motif yang sesuai seleranya, tidak peduli jika dahulu motif itu hanya boleh digunakan raja, permaisuri dan keturunannya. Inilah yang membuat motif batik Parang akhirnya tidak eksklusif lagi.
Baca Juga: 5 Motif Batik Larangan Keraton yang Memiliki Filosofi Mendalam
