Sejarah Kebaya Janggan yang Dipakai Jeng Yah dalam Gadis Kretek

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kebaya janggan termasuk model kebaya yang populer sejak digunakan oleh Dian Sastrowardoyo dalam serial Gadis Kretek. Dian memerankan karakter Jeng Yah yang selalu mengenakan kebaya janggan hitam ke mana-mana. Lantas, sebenarnya bagaimana sejarah kebaya janggan? Simak selengkapnya di bawah ini.
1. Kebaya Janggan Muncul Sekitar Tahun 1830-an
Dikutip dari kumparanWOMAN, kebaya janggan pertama kali muncul pada tahun 1830-an, menjelang akhir Perang Diponegoro. Kebaya ini kerap dikenakan Ratna Ningsih yang merupakan istri Pangeran Diponegoro.
Di dalam kebaya janggannya, Ratna menyembunyikan patrem atau senjata keris putri saat mendampingi suami berperang melawan kolonial Belanda. Dari segi desain, kebaya ini memang ideal untuk menyembunyikan senjata karena bentuknya tertutup.
Desain kebaya janggan terinspirasi dari model seragam militer Eropa pada saat itu, dengan kerah yang tinggi hingga menutupi leher. Itulah mengapa kebaya janggan tampak berbeda dengan kebaya pada umumnya.
2. Kebaya Janggan Digunakan Abdi Dalem Keraton
Merujuk informasi di jurnal Kajian Etnolinguistik Busana Kebaya Janggan Hitam Khas Kraton Yogyakarta susunan Mia Daniar dan Widhyasmaramurti, kebaya janggan juga merupakan salah satu jenis busana abdi dalem Keraton Yogyakarta. Abdi dalem yang boleh memakai busana ini adalah:
Abdi dalem keparak, khusus hajad dalem ngabekten. Bagi abdi dalem keparak berpangkat magang dan jajar belum boleh memakai janggan.
Wiyaga putri
Pesinden
Abdi dalem punakawan perempuan pada saat bertugas
Nama lain dari kebaya ini adalah janggan hitam karena merujuk pada warnanya. Di lingkungan Keraton, pakaian yang boleh dikenakan memang hanya berwarna gelap, seperti hitam atau cokelat. Sedangkan motif yang diperbolehkan untuk abdi dalem hanya polos atau kembang batu.
2. Detail Desain Kebaya Janggan
Kata “janggan” berarti leher, karena kebaya ini sangat tertutup hingga leher. Bahkan, bagian bawah, depan, dan belakangnya juga tertutup penuh. Tidak ada sisi terbuka sedikit pun, berbeda dari jenis kebaya pada umumnya, seperti tangkeban ataupun kutubaru. Detail desain kebaya janggan hitam adalah sebagai berikut:
Memiliki 6 kancing pada ujung atas atau bagian leher, dengan pola sejajar tiga kancing berderet dalam dua baris.
Terdapat 2 kancing pada bagian dada.
Ada 3 kancing di bagian depan untuk mengaitkan dua sisi baju, tapi posisinya tersembunyi.
Terdapat 5 kancing di masing-masing lengan kanan dan kiri. Posisinya dipasang terbuka. Secara fungsi lebih terlihat sebagai aksesoris.
Penggunaan janggan hitam juga unik, karena didahului dengan semekan di bagian dalam. Semekan merupakan kain yang menutupi bagian perut hingga dada.
Selain itu, kebaya janggan hitam dipadukan dengan jarik, yakni sebentuk kain batik yang biasa digunakan sebagai bawahan. Pemakaian jarik pada janggan juga punya aturan tersendiri, yakni dililitkan dari kiri ke kanan dengan 5, 7, atau 9 lipatan.
Baca Juga: Sejarah Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO
