Transportasi Tradisional di Zaman Kerajaan Apa Saja? Ini Daftarnya

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Transportasi terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Di zaman kerajaan, ketika teknologi belum semaju sekarang, mobilitas orang-orang lebih banyak dengan berjalan kaki.
Meski begitu, beberapa moda transportasi sederhana sudah digunakan di darat maupun perairan. Lantas, apa saja transportasi tradisional di zaman kerajaan? Simak daftarnya di bawah ini.
1. Tandu
Merujuk jurnal Alat Transportasi Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dalam Perspektif Integrasi Struktural susunan Indro Baskoro Miko Putro, tandu jadi salah satu alat transportasi darat jarak dekat di zaman kerajaan, terutama di era Kasultanan Yogyakarta.
Sebagai informasi, Kasultanan Yogyakarta merupakan bagian dari kerajaan Mataram Islam yang terbagi dua sesuai Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 M. Di era ini, tandu digunakan untuk mengangkut berbagai macam hal, mulai dari makanan hingga manusia.
Tandu diangkat oleh minimal dua orang, satu berdiri di depan dan satu di belakang. Ada banyak jenis tandu di Kasultanan Yogyakarta, yakni:
Tandu untuk membawa benda:
Jolen, berbentuk wadah kotak tanpa tutup yang dilengkapi dengan sedikit hiasan, sering digunakan untuk membawa makanan dan sesaji upacara.
Kerumun, berupa rumah-rumahan dengan banyak ornamen dan hiasan, kerap digunakan untuk mengangkut pakaian serta aksesori pesta.
Tandu untuk membawa manusia:
Kanjeng Kyai Tandu Lawak, berbentuk kursi tanpa hiasan yang digunakan sehari-hari oleh Sultan Hamengkubuwono I.
Joli jempana, berbentuk rumah-rumahan dengan hiasan yang indah. Digunakan untuk mengantar putri raja bepergian atau saat menjadi pengantin.
2. Kuda dan Kereta Kuda
Kuda juga termasuk alat transportasi di masa lalu di Nusantara dan berbagai belahan dunia lainnya. Bahkan, sejarah penggunaan kuda sebagai alat transportasi sudah dimulai di Asia Tengah sekitar 6.000 tahun sebelum Masehi.
Namun, penggunaan kuda sebagai alat transportasi di Jawa baru terjadi pada abad ke-14. Hal ini berdasarkan sumber tertulis tertua yang menyatakan bahwa pada masa Majapahit, kuda jadi hewan tunggangan dalam perang, bepergian, dan berburu.
Pada akhir abad ke-18, terutama setelah Perjanjian Giyanti, kuda akhirnya dijadikan hewan penarik kereta di Pulau Jawa, khususnya di keraton Yogyakarta. Itu karena Jawa mendapat pengaruh dari budaya Eropa.
Ada banyak jenis kereta kuda di keraton Yogyakarta, di antaranya:
Kereta Kanjeng Nyai Jimat, kereta kebesaran Sultan Hamengkubuwono I sampai Sultan Hamengkubuwono IV.
Kereta Kyai Garudha Yaksa, kereta kebesaran Sultan Hamengkubuwono VI sampai Hamengkubuwono X.
Kereta Kanjeng Kyai Wimono Putro, kereta yang digunakan Pangeran Adipati Anom (Putra Mahkota)
Kereta Kanjeng Kyai Jatayu, kendaraan yang digunakan sultan untuk menghadiri acara semi resmi.
3. Perahu Cadik dan Kapal
Menurut buku Sejarah Indonesia Masa Hindu-Buddha susunan Suwardono, kerajaan Mataram Kuno menggunakan perahu cadik untuk transportasi air.
Bagi yang belum tahu, perahu cadik merujuk pada perahu yang punya penyangga di sisi kiri dan kanannya. Fungsinya untuk menjaga kestabilan perahu yang ramping.
Kerajaan Sriwijaya juga memiliki armada kapal yang canggih pada masanya. Itulah mengapa Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim terbesar dan terkuat di Asia Tenggara.
Baca Juga: Perdagangan Laut pada Masa Kerajaan Sriwijaya
