Memerdekakan Siswa Sepenuhnya

Guru di SMPN Satu Atap Pesanggrahan 2 Kota Batu Jawa Timur, Penulis Lepas.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Eri Hendro Kusuma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menerapkan Merdeka Belajar memang tidak mudah. Terkadang masih harus berhadapan dengan budaya pendidikan konvensional yang telah tertanam sebelumnya.
Beberapa waktu yang lalu, salah seorang teman guru ekstrakurikuler basket berkeluh kesah karena kesulitan dalam memperoleh izin mengikuti kompetisi basket dari sekolah tempat dia mengajar. Kebetulan, pemain yang akan mengikuti kompetisi basket rata-rata adalah siswa kelas 12. Sehingga sekolah agak keberatan karena takut mengganggu konsentrasi belajar siswa menjelang pelaksanaan ujian sekolah.
Penulis hanya berpikir apa hubungan antara kelas 12 dengan konsentrasi belajar di kelas? Bukankah ujian nasional sudah dihapus? Asesmen Nasional (AN) pun juga dilaksanakan oleh siswa kelas 11, bukan lagi siswa kelas 12.
Ketika kelas 12, memang masih ada ujian sekolah yang harus dilalui para siswa. Meskipun demikian, ujian sekolah itu bukanlah satu-satunya komponen dalam penentuan kelulusan siswa.
Esensi dari Kurikulum Merdeka nampaknya masih belum ditangkap dan dilaksanakan dengan baik oleh sekolah tersebut. Boleh dikatakan sampulnya sekolah tersebut adalah Merdeka Belajar, tapi isinya masih pembelajaran konvensional.
Menghargai dan mengembangkan bakat yang dimiliki oleh siswa, saya kira lebih penting dilakukan oleh sekolah daripada sekadar menjadikan siswa duduk manis di kelas dan berlomba-lomba mendapat skor tertinggi. Ketika ada siswa yang semangat dalam berlatih basket sebagai persiapan kompetisi, seharusnya didukung penuh oleh sekolah dan guru, bukan malah sebaliknya.
Sebagai seorang guru, nampaknya perlu "me-refresh" kembali tentang metode among Ki Hajar Dewantara. Dalam buku Sita Acetylena yang berjudul Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara (2018:44), dijelaskan jika metode among ini berkaitan erat dengan keteladanan pendidik dan sikap pendidik yang selalu memberi semangat dalam membangun diri anak didik serta memberi perhatian dan pantauan dengan tetap memberi kebebasan.
Sekolah sudah seharusnya menjadi sarana penemu dan pengembangan bakat/minat yang dimiliki siswa. Memang tidak mudah. Tapi itu harus dilakukan mulai sekarang. Minimal memberikan ruang kebebasan pada siswa untuk mengekspresikan bakat terpendam yang dimiliki.
Tantangan Penerapan Merdeka Belajar
Menerapkan Merdeka Belajar di sekolah memang butuh tantangan tersendiri. Bukan hanya guru yang terpola dengan budaya pendidikan konvensional sebelum era merdeka belajar, akan tetapi siswa maupun orang tua juga sebagian besar masih terpola pada model pendidikan konvensional.
Orang tua cenderung masih merasa puas jika anaknya memperoleh nilai akademik yang tinggi dibandingkan dengan keberhasilan mereka membuat konten kreatif, bermain basket, sepak bola, menulis novel, dan beragam bakat terpendam lainnya.
Untuk itu sekolah sudah selayaknya menjadi jembatan penghubung. Sehingga tujuan dari kurikulum merdeka tersebut dapat tercapai secara utuh. Tidak pilihan lain selain sekolah dan guru harus terus mencoba untuk menerjemahkan gagasan merdeka belajar ini ke dalam proses pendidikan di sekolah.
Beberapa minggu yang lalu, penulis mengantarkan siswa yang tergabung di klub jurnalistik sekolah ke penerbit buku. Kebetulan ada dua orang siswa yang naskah novelnya sudah jadi. Sehingga dua orang siswa ini penulis dorong untuk mengirimkan naskah ke salah satu penerbit buku profesional.
Minimal jika mengirim naskah ke penerbit profesional ada proses seleksi cukup ketat yang harus dilewati. Bagi penulis ini sangat penting karena sebagai salah satu proses pembelajaran bagi seorang siswa.
Siswa mampu menulis novel itu sudah sangat hebat, apalagi mereka berani mengirim naskahnya ke penerbit, sudah pasti langsung angkat topi buat mereka. Apalagi sekolah tempat penulis mengajar terletak di lereng gunung dan siswanya hanya berasal dari satu dusun itu saja. Sehingga ini menjadi tantangan tersendiri.
Kegembiraan penulis bertambah ketika dapat undangan dari penerbit untuk mereview novel karya kedua siswa tersebut. Setelah review selesai, kami sangat bersyukur karena naskah novel itu ternyata layak untuk diterbitkan, meskipun dengan beberapa catatan perbaikan seputar teknis penulisan.
Penulis sebelumnya juga sempat ragu akan kemampuan siswa tersebut. Tapi keraguan itu harus dibuang jauh-jauh. Prinsipnya, bahwa setiap siswa memiliki keunikan dan kesempatan tersendiri. Sehingga kita tidak boleh menghakimi keunikan setiap siswa tersebut. Yang ada adalah dengan memberikan kesempatan mereka berkembang seluas-luasnya. Mungkin itu yang penulis pahami dari esensi merdeka belajar sementara ini.
Sudah saatnya insan pendidikan di sekolah berani bertransformasi dari model pendidikan konvensional ke model yang sesuai dengan tuntutan zaman. Bukan lagi eranya siswa terbaik adalah siswa yang duduk diam di kelas dengan perolehan skor tertinggi saat ujian. Lebih dari itu, banyak keunikan setiap individu siswa yang harus digali dan dikembangkan oleh sekolah sebagai bekal hidup para siswa di masa mendatang.
Bukankah setiap zaman memiliki permasalahannya masing-masing? Untuk itu sudah saatnya kita mendidik secara fleksibel sesuai dengan perkembangan serta kebutuhan zaman.
