Konten dari Pengguna

Demi Pagi yang Lebih Tenang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Demi Pagi yang Lebih Tenang, sumber: AI
zoom-in-whitePerbesar
Demi Pagi yang Lebih Tenang, sumber: AI

"Tidak semua ketenangan hadir dengan sendirinya. Ada yang harus dijaga, bahkan sebelum ancaman benar-benar terlihat."

Setiap orang mendambakan pagi yang tenang. Pagi ketika harga kebutuhan pokok masih terjangkau, pekerjaan dapat dijalani dengan baik, dan masa depan terasa cukup pasti untuk direncanakan. Kita bangun, menyiapkan aktivitas, lalu menjalani hari tanpa banyak memikirkan berbagai risiko yang mungkin sedang bergerak di luar jangkauan pandangan kita.

Namun ketenangan tidak selalu datang secara cuma-cuma.

Seperti seorang ayah yang memperbaiki atap sebelum musim hujan tiba, atau petani yang menyimpan benih cadangan sebelum kemarau datang, menjaga ketenangan sering kali menuntut keberanian untuk bertindak lebih awal. Bukan karena masalah sudah terjadi, melainkan agar masalah yang lebih besar tidak datang kemudian.

Pelajaran itu sedang dihadapi banyak negara hari ini.

Dunia belum sepenuhnya pulih dari berbagai ketidakpastian. Perang di Timur Tengah yang terus berlangsung bukan hanya menghadirkan ketegangan geopolitik, tetapi juga mengguncang pasar keuangan global. Investor menjadi lebih berhati-hati. Modal bergerak mencari tempat yang dianggap paling aman. Dalam situasi seperti itu, negara-negara berkembang menghadapi tekanan yang tidak ringan terhadap stabilitas ekonominya.

BI-Rate Naik 25 bps, sumber: BI

BI-Rate Naik 25 bps menjadi 5,50%

Indonesia pun tidak kebal terhadap gelombang tersebut. Dalam evaluasi Bank Indonesia setelah Rapat Dewan Gubernur Bulanan pada Mei 2026, nilai tukar Rupiah menunjukkan perkembangan yang lebih lemah dibandingkan perkiraan sebelumnya. Tekanan datang dari kombinasi berbagai faktor. Gejolak global masih berlanjut, kebutuhan valuta asing di dalam negeri tetap tinggi, sementara sebagian investasi portofolio asing memilih keluar dari pasar keuangan domestik.

Bagi sebagian orang, pelemahan nilai tukar mungkin terdengar sebagai persoalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal dampaknya dapat menjalar ke banyak hal. Nilai tukar yang bergejolak dapat meningkatkan biaya impor, mendorong kenaikan harga barang, dan pada akhirnya memengaruhi daya beli masyarakat. Apa yang bermula dari angka-angka di pasar keuangan bisa berakhir di meja makan keluarga.

Karena itulah, menjaga stabilitas sering kali berarti mengambil keputusan yang tidak selalu mudah.

Pada 9 Juni 2026, Bank Indonesia kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Langkah ini dilakukan hanya beberapa minggu setelah kenaikan sebelumnya. Bagi sebagian pihak, keputusan tersebut mungkin terlihat tegas. Namun sesungguhnya, ia merupakan bentuk kewaspadaan. Sebuah upaya untuk memastikan bahwa tekanan yang datang dari luar tidak berkembang menjadi risiko yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Stabilitas Nilai Tukar Rupiah, sumber: BI

Kenaikan suku bunga bukan satu-satunya langkah yang ditempuh. Bank Indonesia juga memperkuat daya tarik investasi di Indonesia melalui peningkatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), memberikan insentif lindung nilai bagi investor asing, membuka kembali fasilitas repo untuk menjaga kecukupan likuiditas, serta meningkatkan intensitas operasi moneter baik dalam Rupiah maupun valuta asing. Berbagai instrumen tersebut bergerak menuju tujuan yang sama: menjaga kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia.

Sebab dalam dunia modern, kepercayaan adalah salah satu aset paling berharga. Ketika kepercayaan terjaga, investor memiliki alasan untuk tetap menanamkan modalnya. Ketika kepercayaan kuat, pasar keuangan menjadi lebih stabil. Dan ketika stabilitas dapat dipertahankan, ruang bagi pertumbuhan ekonomi tetap terbuka meskipun dunia sedang diliputi ketidakpastian.

Yang menarik, upaya menjaga kepercayaan ini tidak dilakukan sendirian. Pemerintah dan Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter. Keduanya bergerak dalam irama yang sama untuk menjaga stabilitas nilai tukar, memastikan likuiditas tetap memadai, serta mempertahankan daya tahan ekonomi nasional. Di tengah gejolak global yang sulit diprediksi, sinergi semacam ini menjadi fondasi penting agar Indonesia tetap mampu berdiri kokoh.

Mungkin sebagian besar masyarakat tidak akan mengingat angka 5,50 persen. Banyak pula yang tidak mengikuti setiap keputusan yang diambil dalam rapat bank sentral. Namun mereka akan merasakan hasilnya ketika harga-harga tetap terkendali, ketika aktivitas usaha tetap berjalan, dan ketika perekonomian mampu menghadapi badai tanpa kehilangan arah.

Pada akhirnya, tujuan dari berbagai kebijakan tersebut bukanlah sekadar menjaga angka statistik. Yang dijaga adalah rasa aman. Yang dipertahankan adalah kepercayaan. Yang diperjuangkan adalah kemampuan masyarakat untuk tetap menjalani hidup tanpa dibayangi kegelisahan yang berlebihan.

Karena sesungguhnya, tidak ada yang lebih berharga daripada sebuah pagi yang dapat dimulai dengan tenang. Dan terkadang, ketenangan itu hanya bisa diperoleh karena ada keputusan-keputusan sulit yang berani diambil sebelumnya.