Konten dari Pengguna

Ekonomi Hijau Dimulai dari Menghitung Jejak Karbon

Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra

Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra

Penulis merupakan pegawai Bank Indonesia yang aktif menulis tentang ekonomi, sistem pembayaran, dan transformasi digital dengan pendekatan naratif-reflektif dan berbasis isu publik.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peluncuran Kalkultor Hijau, Bank Indonesia. Foto: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Peluncuran Kalkultor Hijau, Bank Indonesia. Foto: Dokumentasi pribadi

Jejak Karbon telah menjelma menjadi Bahasa Baru Dunia Keuangan. Perusahaan tidak lagi hanya dituntut menghasilkan keuntungan semata, tetapi juga diminta bertanggung jawab terhadap jejak karbon yang mereka tinggalkan.

Dunia perlahan mulai berubah. Kini, lanskap ekonomi global semakin dipengaruhi isu perubahan iklim. Dampaknya, kemampuan menghitung emisi karbon perlahan menjadi sama pentingnya dengan membaca laporan keuangan.

Apa yang dulu dianggap sekadar isu lingkungan, kini telah menjelma menjadi isu ekonomi, bahkan risiko finansial.

Banjir, cuaca ekstrem, gagal panen, hingga krisis energi tidak lagi hanya dipandang sebagai bencana ekologis. Semua itu mulai memengaruhi stabilitas ekonomi, ketahanan sektor usaha, hingga kualitas pembiayaan perbankan. Dunia keuangan pun mulai menyadari satu hal penting: ekonomi yang kuat tidak mungkin dibangun di atas lingkungan yang rapuh.

Karena itu, penguatan keuangan berkelanjutan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis.

Di tengah perubahan tersebut, peluncuran Kalkulator Hijau Versi 2 oleh Bank Indonesia bersama berbagai otoritas dan pemangku kepentingan menjadi langkah penting dalam membangun fondasi ekonomi hijau Indonesia.

Sekilas, kalkulator emisi mungkin terdengar teknis dan jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun sesungguhnya, instrumen ini berbicara tentang masa depan ekonomi yang lebih tahan terhadap risiko iklim.

Sebab dunia tidak bisa mengendalikan sesuatu yang bahkan belum mampu diukurnya dengan baik.

Kalimat itulah yang menjadi inti penting dari transformasi ekonomi hijau hari ini. Emisi karbon tidak lagi cukup dibahas sebagai jargon global atau sekadar komitmen di atas kertas. Ia perlu dihitung secara kredibel, terstandar, dan dapat diperbandingkan agar dunia usaha dan sektor keuangan mampu mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab.

Kalkulator Hijau hadir menjawab kebutuhan tersebut. Instrumen ini membantu pelaku usaha dan lembaga keuangan menghitung emisi karbon secara lebih akurat dan konsisten, sekaligus mendukung pelaporan keberlanjutan, pengembangan pembiayaan hijau, dan pengelolaan risiko iklim.

Di era ekonomi hijau, kemampuan menghitung jejak karbon perlahan menjadi bahasa baru dunia keuangan.

Perubahan itu sebenarnya sudah mulai terlihat. Penyaluran kredit hijau terus tumbuh positif. Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) hijau pada Desember 2025 tercatat tumbuh 70,08 persen secara tahunan. Kredit Pemilikan Rumah (KPR) hijau juga terus berkembang seiring meningkatnya perhatian pelaku usaha, termasuk UMKM, terhadap pembiayaan yang mendukung ekonomi rendah karbon.

Menariknya, pertumbuhan tersebut diikuti kualitas kredit yang tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) KKB hijau tercatat rendah, yakni 0,30 persen, sementara NPL KPR hijau berada pada level 0,84 persen. Data ini menunjukkan bahwa pembiayaan hijau bukan hanya idealisme lingkungan, tetapi juga memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan.

Di sisi lain, sektor perbankan juga mulai bergerak lebih serius dalam mengukur risiko iklim. Survei Bank Indonesia terhadap 105 bank pada 2025 menunjukkan mayoritas bank telah menghitung emisi karbon secara mandiri, dan Kalkulator Hijau menjadi alat yang paling banyak digunakan.

Perubahan ini menandakan bahwa isu iklim tidak lagi berada di pinggir diskusi ekonomi. Ia kini masuk ke ruang rapat direksi, strategi bisnis, hingga manajemen risiko perbankan.

Sebab cepat atau lambat, risiko lingkungan akan berubah menjadi risiko finansial.

Bank yang membiayai sektor dengan emisi tinggi tanpa mitigasi yang baik akan menghadapi tantangan lebih besar di masa depan. Perusahaan yang mengabaikan keberlanjutan juga akan semakin sulit bersaing di tengah tuntutan global yang terus bergerak menuju ekonomi rendah karbon.

Karena itu, penguatan pengukuran emisi menjadi elemen penting dalam membangun ketahanan ekonomi jangka panjang.

Indonesia sendiri sebenarnya memiliki peluang besar dalam transisi ini. Bonus sumber daya alam, potensi energi baru terbarukan, hingga besarnya pasar domestik menjadi modal penting untuk mendorong ekonomi hijau. Pemerintah pun mulai mengorkestrasi berbagai insentif fiskal seperti tax holiday, tax allowance, dan fasilitas perpajakan lainnya guna mempercepat pengembangan ekonomi berkelanjutan.

Namun, transisi menuju ekonomi hijau tidak bisa berjalan hanya dengan regulasi dan teknologi. Dibutuhkan perubahan cara pandang.

Selama bertahun-tahun, pertumbuhan ekonomi sering kali diukur hanya dari angka produksi, konsumsi, dan keuntungan. Kini dunia mulai menyadari bahwa pertumbuhan yang mengabaikan keberlanjutan justru dapat melahirkan biaya yang jauh lebih besar di masa depan.

Pada akhirnya, ekonomi hijau bukan sekadar tentang karbon, emisi, atau laporan keberlanjutan. Lebih dari itu, ekonomi hijau adalah tentang bagaimana sebuah bangsa menyiapkan masa depannya.

Bukan pula tak mungkin jikalau di tengah dunia yang semakin rentan terhadap perubahan iklim, kemampuan menghitung jejak karbon bukan lagi sekadar urusan teknis. Namun, perlahan menjadi penentu apakah sebuah ekonomi mampu bertahan, beradaptasi, dan tetap tumbuh di masa depan.