Konten dari Pengguna

Harga Mahal dari Sebuah Ketakutan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Tidak semua ketakutan menyelamatkan. Ada kalanya, ketakutan justru membuat kita kehilangan masa depan."

Sumber: AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: AI

Ketakutan sering dianggap sebagai bentuk kehati-hatian. Ia menjaga manusia agar tidak gegabah mengambil keputusan, mengingatkan kita untuk berpikir lebih matang sebelum melangkah. Namun sejarah juga mengajarkan bahwa tidak sedikit kesempatan besar yang hilang bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan karena terlalu takut mengambil risiko.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai dilema semacam itu. Seorang pedagang kecil ragu memperluas usahanya karena takut rugi. Seorang siswa mengurungkan niat melanjutkan pendidikan karena khawatir terhadap biaya. Seorang ayah menunda membiayai kuliah anaknya karena takut terlilit utang.

Keputusan-keputusan tersebut mungkin terasa aman untuk hari ini. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa harga yang harus dibayar di masa depan akibat ketakutan tersebut?

Pertanyaan yang sama sesungguhnya juga relevan dalam pembangunan sebuah bangsa.

Sumber: BI

Ketika Pembangunan Tidak Bisa Menunggu

Di ruang publik, utang luar negeri sering menjadi topik yang sensitif. Setiap kali angka utang diumumkan, perhatian publik segera tertuju pada besarnya nominal yang harus ditanggung negara. Tidak jarang, utang dipersepsikan sebagai ancaman yang sewaktu-waktu dapat membebani generasi mendatang.

Kekhawatiran tersebut tentu bukan tanpa alasan. Pengelolaan utang yang buruk memang dapat menjadi sumber masalah ekonomi. Namun persoalannya, diskusi tentang utang sering kali berhenti pada besarnya angka, tanpa mempertimbangkan biaya yang harus ditanggung apabila pembangunan justru tidak dilakukan.

Saya teringat pada beberapa perjalanan ke berbagai wilayah di Kalimantan. Di sejumlah daerah, masyarakat masih harus menempuh perjalanan panjang untuk memperoleh layanan kesehatan yang memadai. Ada pula wilayah yang denyut ekonominya belum berkembang optimal karena keterbatasan infrastruktur penghubung. Bagi masyarakat yang hidup di sana, pembangunan bukan sekadar angka dalam dokumen perencanaan atau statistik ekonomi. Pembangunan adalah jalan yang mempersingkat waktu tempuh, jembatan yang menghubungkan peluang, dan layanan publik yang menghadirkan harapan.

Karena itu, ketika berbicara mengenai pembiayaan pembangunan, sesungguhnya yang sedang dibicarakan bukan hanya angka dalam neraca. Yang sedang dipertaruhkan adalah kualitas hidup manusia yang merasakan langsung manfaat pembangunan tersebut.

Persoalannya, pembangunan tidak selalu bisa menunggu sampai seluruh sumber pembiayaan tersedia secara sempurna.

Jalan yang rusak tetap harus diperbaiki. Rumah sakit tetap harus diperluas. Sekolah tetap harus dibangun. Konektivitas antardaerah tetap harus diperkuat. Sebab waktu sering kali menjadi barang paling mahal dalam pembangunan. Ketika pembangunan tertunda, yang hilang bukan hanya kesempatan ekonomi, tetapi juga kesempatan hidup yang lebih baik bagi jutaan masyarakat.

Melihat Utang Melampaui Angka

Data terbaru menunjukkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 433,4 miliar dolar AS. Angka ini mungkin terdengar besar. Namun angka, seperti halnya bayangan, sering kali terlihat lebih menakutkan ketika dipandang tanpa konteks.

Faktanya, pertumbuhan ULN Indonesia justru melambat menjadi 0,8 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 1,9 persen. Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga turun dari 30 persen menjadi 29,5 persen.

Artinya, Indonesia tidak sedang berlari tanpa kendali menuju jurang utang. Sebaliknya, terdapat upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan pembiayaan.

Yang lebih penting lagi adalah bagaimana utang tersebut dimanfaatkan. Sebagian besar ULN pemerintah digunakan untuk mendukung sektor-sektor yang memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari kesehatan, pendidikan, konstruksi, hingga transportasi dan pergudangan. Dengan kata lain, utang tidak semata-mata digunakan untuk menutup kekurangan anggaran, melainkan untuk membiayai investasi yang diharapkan menghasilkan manfaat jangka panjang.

Di sinilah sering muncul kesalahpahaman dalam melihat utang. Fokus publik kerap tertuju pada berapa banyak dana yang dipinjam, padahal pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apa yang dihasilkan dari dana tersebut.

Kita sering mengkhawatirkan utang yang terlihat dalam laporan statistik, tetapi lupa pada ketertinggalan yang tidak terlihat. Kita menghitung kewajiban yang harus dibayar di masa depan, tetapi jarang menghitung biaya yang muncul ketika pembangunan tidak kunjung dilakukan.

Padahal, jalan yang tidak dibangun juga memiliki harga. Pelabuhan yang tertunda juga memiliki biaya. Pendidikan yang tidak diperkuat dan layanan kesehatan yang tidak ditingkatkan sama-sama meninggalkan tagihan yang pada akhirnya harus dibayar oleh generasi berikutnya.

Sejarah pembangunan berbagai negara menunjukkan bahwa kemajuan hampir selalu membutuhkan investasi jangka panjang. Infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan transformasi ekonomi tidak lahir dalam semalam. Semuanya membutuhkan sumber daya yang besar serta keberanian mengambil keputusan yang manfaatnya mungkin baru dirasakan bertahun-tahun kemudian.

Perbedaan antara Kehati-hatian dan Ketakutan

Tentu saja, kehati-hatian tetap menjadi syarat utama. Utang yang digunakan untuk kegiatan konsumtif tanpa menghasilkan manfaat ekonomi jangka panjang dapat berubah menjadi beban. Transparansi, akuntabilitas, dan pengelolaan yang prudent tetap menjadi fondasi yang tidak dapat ditawar.

Namun kehati-hatian berbeda dengan ketakutan. Kehati-hatian membuat kita menghitung risiko sebelum melangkah. Ketakutan membuat kita enggan melangkah sama sekali. Perbedaan itulah yang sering menentukan arah masa depan.

Bayangkan jika sebuah jalan penghubung antardaerah tidak pernah dibangun karena semua pihak terlalu takut mengambil keputusan pembiayaan. Bayangkan jika fasilitas kesehatan tidak pernah diperluas karena kekhawatiran yang berlebihan terhadap setiap bentuk risiko. Bayangkan jika akses pendidikan terus tertunda karena pembangunan selalu menunggu kondisi yang dianggap sempurna.

Mungkin neraca keuangan terlihat lebih aman dalam jangka pendek. Namun di balik itu, ada produktivitas yang tertahan, kesempatan yang menguap, dan kesejahteraan yang gagal tumbuh.

Pada akhirnya, pembangunan selalu berbicara tentang pilihan.

Bukan pilihan antara memiliki utang atau tidak memiliki utang. Melainkan pilihan antara berani berinvestasi untuk masa depan atau membiarkan kesempatan berlalu tanpa tindakan.

Sebab risiko tidak hanya muncul ketika sebuah bangsa melangkah terlalu jauh. Risiko juga hadir ketika sebuah bangsa terlalu lama berdiri di tempat karena takut bergerak.

Padahal, sering kali, harga paling mahal bukanlah utang yang tercatat dalam laporan keuangan negara.

Melainkan masa depan yang tertunda karena ketakutan mengambil langkah hari ini.