Konten dari Pengguna

Jembatan Menuju Pasar Dunia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fesyar KTI, sumber: AI
zoom-in-whitePerbesar
Fesyar KTI, sumber: AI

"Tidak semua jembatan dibangun untuk menyeberangi sungai. Sebagian dibangun agar mimpi dapat sampai ke tempat yang lebih jauh."

Di sebuah desa, seorang pengrajin tenun menyelesaikan kain terbaiknya. Di sudut lain negeri, seorang petani kopi memanen biji pilihan. Sementara di sebuah pondok pesantren, sekelompok santri mulai mengelola usaha air minum kemasan dengan penuh harapan.

Mereka memiliki produk yang berkualitas. Mereka memiliki semangat untuk berkembang. Namun sering kali, mereka menghadapi persoalan yang sama: bagaimana membawa hasil karya itu menjangkau pasar yang lebih luas.

Dalam banyak kasus, tantangan terbesar bukan terletak pada kemampuan memproduksi, melainkan kemampuan menemukan jalan menuju pembeli. Karena itu, pembangunan ekonomi bukan hanya soal menciptakan produk. Ia juga tentang membangun jembatan yang menghubungkan karya lokal dengan peluang global.

Ketika Potensi Bertemu Kesempatan

Indonesia sesungguhnya telah memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi syariah dunia. Laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025/2026 menempatkan Indonesia pada peringkat keempat dunia. Bahkan, Indonesia berhasil menjadi peringkat pertama pada sektor modest fashion, peringkat kedua pada pariwisata ramah muslim, serta peringkat ketiga pada industri makanan halal.

Prestasi tersebut tidak hadir tanpa fondasi yang kuat. Pada 2025, ekonomi syariah Indonesia tumbuh 6,21 persen (year-on-year), ditopang oleh akselerasi sektor Halal Value Chain. Hingga Mei 2026, pembiayaan perbankan syariah meningkat 10,42 persen menjadi Rp709 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga tumbuh 11,75 persen menjadi Rp792 triliun. Di sisi masyarakat, indeks literasi ekonomi syariah juga terus meningkat hingga mencapai 50,18 persen, menunjukkan bahwa kesadaran publik terhadap ekonomi syariah semakin berkembang.

Pertumbuhan tersebut menjadi bukti bahwa ekonomi syariah Indonesia tidak lagi sekadar menyimpan potensi, tetapi telah tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang nyata. Tantangan berikutnya bukan lagi membangun fondasi, melainkan memperluas jangkauan agar semakin banyak pelaku usaha mampu memasuki pasar nasional maupun internasional.

Di sinilah Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia 2026 mengambil peran yang lebih besar daripada sekadar sebuah pameran. Bank Indonesia menargetkan penyaluran pembiayaan syariah sebesar Rp11 miliar, mendorong omzet pelaku usaha syariah mencapai Rp1,5 miliar, serta memperkuat literasi masyarakat. Antusiasme tersebut telah terlihat dari 3.223 peserta Olimpiade Ekonomi Syariah Nasional, atau 124 persen dari target yang ditetapkan. Angka-angka ini menunjukkan bahwa jembatan menuju pasar dunia tidak hanya dibangun melalui pembiayaan, tetapi juga melalui investasi pada kualitas manusia.

Jembatan Tidak Dibangun dari Satu Tiang

Sebuah jembatan tidak akan berdiri hanya dengan satu penyangga. Ia memerlukan banyak tiang yang saling menopang agar mampu dilalui dengan aman. Prinsip yang sama berlaku dalam pengembangan ekonomi syariah.

Bank Indonesia bersama pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, kementerian, akademisi, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan membangun ekosistem yang tidak berhenti pada pembiayaan semata. Penguatan sertifikasi halal, pemberdayaan pesantren, pengembangan rantai nilai halal, peningkatan literasi, hingga transformasi digital menjadi bagian dari konstruksi yang saling melengkapi.

Melalui empat program unggulan FESyar KTI 2026, yaitu AKBAR, AMANAH, BARAKAH, dan MAHAR, Bank Indonesia berupaya memperkuat seluruh mata rantai tersebut. Tidak hanya memperluas akses pembiayaan, tetapi juga meningkatkan daya saing produk, memperkuat akses pasar, serta mengoptimalkan keuangan sosial syariah. Tujuannya sederhana namun besar: memastikan pelaku usaha tidak berjalan sendirian ketika memasuki pasar yang semakin kompetitif.

Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi syariah tidak hanya diukur dari besarnya pembiayaan atau banyaknya festival yang diselenggarakan. Ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah ketika semakin banyak produk Indonesia diterima di pasar dunia, semakin banyak UMKM naik kelas, semakin banyak pesantren menjadi pusat pemberdayaan ekonomi, dan semakin luas lapangan kerja yang tercipta.

Jembatan yang sedang dibangun hari ini bukanlah bangunan dari beton dan baja. Ia dibangun dari kolaborasi, kepercayaan, inovasi, dan keberanian untuk membuka diri terhadap perubahan. Semakin kokoh jembatan itu dibangun, semakin mudah pula karya anak bangsa melangkah menyeberangi batas-batas geografis.

Karena, dunia tidak hanya mencari produk yang berkualitas. Dunia juga mencari nilai, kepercayaan, dan keberlanjutan. Ketika Indonesia mampu menghadirkan ketiganya secara bersamaan, ekonomi syariah bukan lagi sekadar menjadi kekuatan domestik, melainkan jembatan yang mengantarkan karya Indonesia menuju pasar dunia.