Konten dari Pengguna

Ketika Sebuah Negara Memiliki Satu Bahasa

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ferbi 2026. sumber: BI
zoom-in-whitePerbesar
Ferbi 2026. sumber: BI

Coba bayangkan seorang pedagang di ujung Indonesia menerima pembayaran dari seorang pembeli. Tidak ada yang istimewa dari transaksi itu. Barang berpindah tangan, uang berpindah nilai, lalu keduanya melanjutkan aktivitas masing-masing. Namun jika transaksi itu terjadi ribuan kilometer dari tempat kita berada, di tengah ribuan pulau dengan bahasa dan budaya yang berbeda, ada satu hal yang membuat semuanya terasa berada dalam satu ruang ekonomi: Rupiah.

Indonesia adalah negara yang begitu beragam. Kita memiliki ribuan pulau, ratusan bahasa, berbagai budaya, dan karakter ekonomi yang berbeda-beda. Namun di balik keberagaman tersebut, ada satu bahasa yang digunakan dalam aktivitas ekonomi nasional. Bahasa itu bukan bahasa daerah, bukan bahasa asing, melainkan Rupiah. Ia menjadi satuan nilai yang memungkinkan seorang petani, nelayan, pedagang, pekerja, pengusaha, hingga pemerintah berbicara dalam sistem ekonomi yang sama.

Menariknya, kita sering kali baru menyadari pentingnya sesuatu ketika sesuatu itu tidak ada. Kita mungkin tidak pernah memikirkan mengapa uang yang kita gunakan harus bernama Rupiah. Kita hanya menerimanya sebagai sesuatu yang sudah semestinya ada di dompet, rekening, ATM, atau aplikasi pembayaran. Padahal, di balik kesederhanaan itu terdapat sebuah sistem panjang yang memastikan Rupiah tersedia, dipercaya, dan dapat digunakan masyarakat di seluruh Indonesia.

Peran Rupiah juga tidak berhenti pada uang kertas dan uang logam. Ketika pembayaran semakin digital, bentuk transaksi berubah, tetapi satuan nilainya tetap Rupiah. Kita mungkin tidak lagi menyerahkan selembar uang ketika membeli makanan, membayar transportasi, atau berbelanja, tetapi angka yang berpindah di layar tetap menunjukkan nilai dalam Rupiah. Teknologi mengubah cara uang bergerak, tetapi tidak mengubah identitas mata uang yang digunakan.

Di sinilah relevansi menjaga Rupiah menjadi semakin besar. Dunia pembayaran akan terus berubah, teknologi akan terus berkembang, dan masyarakat akan semakin terbiasa dengan transaksi yang cepat tanpa memegang uang secara fisik. Namun modernisasi pembayaran tidak berarti kita kehilangan kebutuhan terhadap identitas ekonomi nasional. Justru semakin terbuka dan digital sebuah perekonomian, semakin penting memastikan bahwa fondasi nilainya tetap kuat, dipercaya, dan berdaulat.

Karena itu, menjaga Rupiah bukan hanya pekerjaan memastikan uang tersedia dalam jumlah yang cukup. Ada kualitas yang harus dipertahankan, ada kepercayaan yang harus dibangun, dan ada pemahaman yang perlu terus ditanamkan. Pengelolaan Rupiah pun berkembang menjadi semakin modern dan berkelanjutan, termasuk melalui pengelolaan limbah racik uang yang dapat menghasilkan nilai ekonomi baru bersama industri dan UMKM. Dalam FERBI 2026, upaya tersebut bahkan mendapat apresiasi melalui penghargaan Best New Environmental Project dari IACA Award 2026.

Tetapi ada satu hal yang jauh lebih dekat dengan kehidupan kita: bagaimana kita memperlakukan Rupiah. Cinta Rupiah bukan sekadar menyimpan uang dengan rapi, tetapi mengenal dan merawatnya. Bangga Rupiah bukan berarti menutup diri dari dunia, melainkan memahami bahwa menggunakan Rupiah dalam transaksi di Indonesia merupakan bagian dari penghormatan terhadap kedaulatan bangsa. Sementara Paham Rupiah berarti mengetahui bagaimana menggunakan uang secara bijak, karena setiap keputusan keuangan kita pada akhirnya ikut membentuk aktivitas ekonomi.

Pesan itu terasa semakin penting pada momentum 81 tahun Indonesia merdeka. Para pendahulu kita berjuang untuk membentuk sebuah negara yang berdiri sendiri. Hari ini, perjuangan tersebut mengambil bentuk yang berbeda. Kita tidak lagi berada di medan perang, tetapi berada di pasar, tempat kerja, ruang usaha, pusat perdagangan, dan bahkan di layar ponsel ketika mengambil keputusan ekonomi. Kemerdekaan perlu diisi bukan hanya dengan upacara, tetapi juga dengan pilihan-pilihan yang memperkuat ekonomi bangsa.

FERBI 2026 menjadi salah satu ruang untuk mengingat kembali perjalanan tersebut. Melalui pameran, talkshow, edukasi interaktif, gamifikasi, kompetisi, hingga berbagai kegiatan kreatif, masyarakat diajak melihat Rupiah bukan sekadar sebagai benda yang digunakan untuk membayar. Rupiah memiliki perjalanan, memiliki sistem yang harus dijaga, dan memiliki hubungan erat dengan aktivitas ekonomi serta persatuan bangsa. FERBI tahun ini berlangsung pada 14–16 Agustus 2026 di Istora Gelora Bung Karno, bertepatan dengan momentum kemerdekaan Indonesia.

Ada pula pesan simbolis ketika Bank Indonesia memberikan penghormatan kepada keluarga para pahlawan nasional yang wajahnya diabadikan dalam desain Rupiah. Wajah-wajah tersebut mengingatkan bahwa uang yang kita gunakan hari ini bukan sekadar alat transaksi tanpa cerita. Ada sejarah bangsa yang ikut hadir di dalamnya. Setiap kali Rupiah berpindah tangan, sebagian kecil dari perjalanan Indonesia pun ikut bergerak.

Mungkin karena itu kita perlu melihat Rupiah sedikit berbeda. Ia bukan sekadar sesuatu yang kita keluarkan ketika membeli barang. Ia adalah bahasa bersama yang membuat aktivitas ekonomi dari Sabang sampai Merauke berada dalam satu sistem nilai. Ia menghubungkan produsen dengan konsumen, pekerja dengan pengusaha, desa dengan kota, dan aktivitas ekonomi hari ini dengan harapan untuk hari esok.

Dan bahasa bersama selalu membutuhkan penggunanya.

Kita mungkin tidak mampu mengendalikan seluruh arah perekonomian dunia. Kita juga tidak bisa menghentikan perubahan teknologi yang terus bergerak. Tetapi kita dapat memilih bagaimana menggunakan Rupiah, bagaimana memperlakukannya, dan bagaimana memahami perannya dalam kehidupan sehari-hari.

Karena pada akhirnya, kedaulatan ekonomi bukan hanya sesuatu yang dijaga di balik gedung-gedung besar. Ia juga hidup di warung kecil. Di pasar. Di rekening. Di layar ponsel. Di tangan seorang pedagang. Dan di dompet kita sendiri.

Satu negara boleh memiliki ribuan bahasa. Tetapi untuk ekonominya, Indonesia memiliki satu bahasa bersama: Rupiah.