Ketika Wastra Menemukan Jalan ke Dunia
Tulisan dari Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Selembar kain mungkin hanya membutuhkan benang untuk dibuat. Namun, untuk membawanya ke panggung dunia, dibutuhkan cerita, kualitas, dan keberanian untuk bersaing.”
Ada sesuatu yang istimewa dari selembar kain tradisional. Motifnya bukan sekadar susunan warna dan garis. Di dalamnya tersimpan cerita tentang daerah, kebiasaan masyarakat, nilai budaya, bahkan perjalanan panjang keterampilan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Namun, keindahan sebuah wastra tidak seharusnya berhenti sebagai peninggalan budaya yang hanya dikenang atau dikenakan pada kesempatan tertentu. Ia memiliki peluang untuk menjadi bagian dari industri kreatif modern, menciptakan lapangan pekerjaan, menghidupi para perajin, dan membawa nama Indonesia semakin jauh melintasi batas negara.
Tantangannya adalah bagaimana mengubah kekayaan budaya tersebut menjadi produk yang tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki daya saing di pasar global.
Dari Warisan Budaya Menjadi Kekuatan Ekonomi
Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar untuk mengembangkan industri modest fashion. Keragaman wastra Nusantara, kekayaan motif daerah, serta kreativitas para desainer menjadi keunggulan yang tidak mudah ditiru negara lain.
Potensi tersebut semakin terlihat melalui laporan State of the Global Islamic Economy 2025/2026. Dalam laporan tersebut, Indonesia menempati peringkat pertama dunia pada sektor modest fashion.
Pencapaian ini tidak datang semata-mata karena Indonesia memiliki banyak kain tradisional. Keunggulan tersebut juga didukung oleh regulasi, fasilitasi pemerintah bagi pengusaha, promosi modest fashion di tingkat internasional, serta semakin banyaknya pelaku usaha Indonesia yang tampil dalam berbagai ajang fesyen dunia.
Posisi tersebut tentu membanggakan. Namun, peringkat pertama bukanlah garis akhir. Justru, pencapaian itu menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya harus terus diolah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat nyata.
Sebab sebuah motif yang indah tidak otomatis menjadi produk yang laku di pasar. Dibutuhkan desain yang relevan, kualitas yang konsisten, harga yang kompetitif, kapasitas produksi yang memadai, serta kemampuan memahami selera konsumen.
Di sinilah perjalanan wastra Nusantara menuju pasar global sesungguhnya dimulai.
Bayangkan seorang perajin di daerah yang menghasilkan kain dengan motif khas dan kualitas yang baik. Karyanya mungkin telah dikenal di lingkungan sekitar, tetapi belum tentu memiliki akses untuk bertemu pembeli dari negara lain.
Sementara itu, seorang desainer mungkin memiliki gagasan kreatif untuk mengolah kain tradisional menjadi busana modern. Namun, tanpa dukungan bahan baku yang konsisten, kapasitas produksi, dan jaringan pemasaran, gagasan tersebut sulit berkembang menjadi bisnis yang berkelanjutan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa industri fesyen tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan kreativitas. Ada rangkaian proses panjang yang harus saling terhubung, mulai dari perajin, desainer, produsen, pelaku UMKM, hingga pembeli.
Hal inilah yang menjadi salah satu pesan penting dalam penyelenggaraan Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MOTIONFEST) 2026 di Jakarta International Convention Center pada 14 Oktober 2026.
Dalam pembukaannya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Aida S. Budiman menegaskan pentingnya membangun ekosistem modest fashion yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Melalui IN2MOTIONFEST, pelaku usaha diharapkan dapat bertemu dengan pasar dan calon pembeli potensial, sehingga kesempatan promosi dapat berkembang menjadi transaksi dan kemitraan dagang yang berkelanjutan.
Tahun ini, IN2MOTIONFEST memasuki penyelenggaraan kelima dan untuk pertama kalinya berkolaborasi dengan Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW). Kolaborasi Bank Indonesia dan Kementerian Perdagangan tersebut menjadi langkah untuk mempertemukan dua kebutuhan penting industri: memperkuat kemampuan pelaku usaha sekaligus memperluas akses pasar.
Dengan demikian, sebuah karya tidak hanya memperoleh kesempatan untuk dipamerkan, tetapi juga memiliki peluang untuk menemukan pembeli dan tumbuh menjadi bisnis.
Ketika Kolaborasi Menjadi Jembatan
Dalam dunia usaha, produk yang baik membutuhkan jalan untuk sampai kepada konsumennya. Sebaliknya, pasar yang besar juga membutuhkan produk yang mampu memenuhi kebutuhan dan standar pembelinya.
Keduanya tidak selalu bertemu dengan sendirinya. Dibutuhkan jembatan yang menghubungkan kemampuan produksi dengan peluang pasar.
Bank Indonesia telah menjalankan peran tersebut sejak 2018 melalui kolaborasi bersama Indonesian Fashion Chamber (IFC) dan kementerian/lembaga terkait. Dukungan diberikan melalui kurasi, pelatihan, dan pendampingan pelaku usaha dalam program IKRA Brand Leveling System, termasuk pembinaan perajin wastra dan peningkatan kualitas produk.
Di sisi lain, Kementerian Perdagangan memperkuat konektivitas pasar melalui promosi dagang, business matching, serta jejaring pembeli domestik dan internasional.
Dua pendekatan tersebut saling melengkapi. Pelaku usaha tidak hanya didorong untuk menghasilkan produk yang semakin baik, tetapi juga dipertemukan dengan peluang untuk memasarkannya secara lebih luas.
Kolaborasi lintas sektor juga membuka ruang bagi industri modest fashion untuk berkembang melampaui pasar negara-negara Muslim. Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya menekankan bahwa kekayaan budaya dan keunikan desain Indonesia memiliki peluang untuk menjangkau konsumen di Eropa dan berbagai pasar internasional lainnya.
Namun, perluasan pasar juga harus diikuti perlindungan kekayaan intelektual. Motif, desain, dan identitas karya lokal perlu memperoleh perlindungan agar kreativitas para pelaku usaha tidak hanya dikenal, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang dapat dinikmati penciptanya.
Sementara itu, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana melihat kekayaan wastra dan kreativitas fesyen Indonesia sebagai peluang untuk memperkuat wisata belanja. Dengan demikian, sebuah peragaan busana atau pameran tidak hanya menjadi ruang promosi produk, tetapi juga dapat menghadirkan pengalaman wisata yang mempertemukan budaya, kreativitas, dan aktivitas ekonomi.
Membawa Identitas, Bukan Sekadar Produk
Menembus pasar global tentu bukan perkara sederhana. Konsumen internasional memiliki standar, selera, dan ekspektasi yang beragam. Pelaku usaha harus mampu menjaga kualitas, meningkatkan kapasitas produksi, menentukan strategi harga, serta memperkuat manajemen bisnis.
Namun, persaingan global tidak selalu berarti harus meninggalkan identitas lokal.
Justru, keunikan budaya dapat menjadi pembeda yang membuat produk Indonesia memiliki karakter tersendiri. Motif tenun, batik, songket, dan berbagai wastra daerah dapat diolah menjadi busana yang sesuai dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan cerita yang melekat di dalamnya.
Di sinilah modest fashion menawarkan peluang yang menarik. Ia mempertemukan kebutuhan berbusana dengan kreativitas desain, sekaligus membuka ruang bagi kekayaan budaya Indonesia untuk hadir dalam bentuk yang lebih modern dan beragam.
Karena itu, keberhasilan industri ini tidak cukup diukur dari banyaknya koleksi yang tampil di panggung peragaan busana. Ukuran yang lebih penting adalah apakah perajin memperoleh pasar yang lebih luas, apakah UMKM mampu meningkatkan skala usahanya, dan apakah semakin banyak tenaga kerja lokal yang memperoleh kesempatan untuk berkembang.
Dari Selembar Kain Menuju Masa Depan
Pada akhirnya, perjalanan wastra Nusantara menuju pasar global adalah perjalanan panjang yang membutuhkan lebih dari sekadar kreativitas. Ia memerlukan ekosistem yang saling mendukung, mulai dari penguatan keterampilan perajin, inovasi desain, pembiayaan, perlindungan kekayaan intelektual, hingga akses pasar internasional.
Indonesia telah memiliki modal budaya yang luar biasa. Peringkat pertama dunia dalam sektor modest fashion menjadi salah satu bukti bahwa karya anak bangsa memiliki tempat dalam industri global.
Kini, pekerjaan berikutnya adalah memastikan pencapaian tersebut membawa manfaat yang semakin luas bagi perekonomian nasional.
Sebab di balik selembar kain yang berhasil menembus pasar dunia, ada tangan perajin yang bekerja, UMKM yang bertumbuh, desainer yang berkarya, dan keluarga yang menggantungkan harapan pada industri kreatif.
Wastra Nusantara tidak harus kehilangan akar untuk dapat tumbuh mendunia. Justru dengan menjaga identitasnya, memperkuat kualitas, dan membuka diri terhadap pasar, kekayaan lokal dapat menemukan ruang yang lebih luas.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika seseorang di belahan dunia lain mengenakan busana bermotif Nusantara, ia tidak hanya sedang memakai sebuah produk fesyen. Ia sedang membawa sepotong cerita Indonesia.

