Konten dari Pengguna

Membangun Rumah di Tanah Sendiri

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Tidak ada yang salah dengan berteduh di rumah orang lain. Namun sebuah bangsa tidak bisa selamanya hidup di sana."

Membangun Rumah di Tanah Sendiri, sumber:AI
zoom-in-whitePerbesar
Membangun Rumah di Tanah Sendiri, sumber:AI

Bagi sebagian orang, memiliki rumah sendiri bukan sekadar soal bangunan. Ia adalah simbol kemandirian, tempat seseorang menentukan aturan, menyimpan harapan, dan membangun masa depan tanpa bergantung pada orang lain. Karena itulah banyak orang rela bekerja bertahun-tahun demi sebuah rumah yang dapat mereka sebut milik sendiri.

Dalam banyak hal, sebuah negara pun memiliki impian yang sama. Pada abad ke-21, kedaulatan tidak lagi hanya diukur dari luas wilayah, jumlah penduduk, atau kekuatan militer. Kedaulatan juga ditentukan oleh siapa yang mengendalikan teknologi, data, dan sistem yang menggerakkan aktivitas ekonomi sehari-hari.

Di era digital, sistem pembayaran telah menjadi salah satu fondasi terpenting dalam kehidupan modern. Dari membeli secangkir kopi hingga melakukan transaksi lintas negara, semuanya bergantung pada jaringan yang bekerja di belakang layar. Persoalannya, selama bertahun-tahun sebagian besar fondasi tersebut dibangun oleh pihak lain.

Indonesia memang ikut memanfaatkan kemajuan tersebut. Namun sebagai bangsa, kita menyadari bahwa ketergantungan yang terlalu besar bukanlah fondasi yang ideal untuk masa depan. Sebab rumah yang kokoh seharusnya dibangun di atas tanah sendiri.

Kesadaran itulah yang melahirkan berbagai inisiatif nasional seperti Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) dan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Keduanya bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan bagian dari perjalanan panjang Indonesia untuk membangun fondasi sistem pembayaran yang lebih mandiri, efisien, dan berdaulat. Sebuah upaya agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada infrastruktur yang dibangun pihak lain.

Hasilnya mulai terlihat. QRIS tumbuh menjadi salah satu inovasi pembayaran digital dengan perkembangan tercepat di Indonesia. Jutaan masyarakat dan pelaku usaha menggunakannya setiap hari, mulai dari pedagang kaki lima hingga pusat perbelanjaan modern.

Perjalanan itu bahkan tidak berhenti di dalam negeri. Setelah terhubung dengan Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan terbaru Tiongkok, QRIS mulai melintasi batas-batas geografis Indonesia. Sistem pembayaran yang lahir di tanah air kini mulai diterima dalam ekosistem pembayaran lintas negara.

Bagi sebagian orang, perkembangan tersebut mungkin hanya terlihat sebagai kemajuan teknologi. Padahal sesungguhnya ada makna yang jauh lebih besar. Indonesia sedang bertransformasi dari sekadar penghuni menjadi pemilik rumahnya sendiri di ruang digital.

Tantangan Terbesar di Dalam Rumah

Namun membangun rumah tidak pernah cukup hanya dengan mendirikan dinding dan memasang atap. Rumah yang baik juga harus aman, nyaman, dan mampu melindungi penghuninya dari berbagai ancaman. Di sinilah tantangan sesungguhnya mulai terlihat.

Perkembangan ekonomi digital yang pesat ternyata diikuti oleh meningkatnya berbagai bentuk kejahatan siber. Mulai dari phishing, pencurian data pribadi, pemalsuan QR, hingga aplikasi berbahaya yang menargetkan masyarakat. Kerugian yang ditimbulkan tidak lagi kecil dan telah mencapai angka triliunan rupiah.

Di saat yang sama, praktik judi online dan pinjaman ilegal terus menjadi ancaman yang menggerogoti kesehatan ekosistem digital nasional. Teknologi yang seharusnya menjadi alat pemberdayaan dapat berubah menjadi sumber masalah apabila tidak disertai dengan pemahaman yang memadai. Karena itu, tantangan terbesar tidak selalu datang dari luar negeri.

Kadang-kadang ancaman justru muncul dari dalam rumah yang sedang kita bangun. Lemahnya literasi digital, rendahnya kesadaran keamanan siber, serta minimnya pemahaman terhadap risiko digital dapat menjadi celah yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Rumah yang megah sekalipun akan sulit bertahan apabila penghuninya lupa mengunci pintu.

Karena itu, pembangunan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan pembangunan kesadaran. Literasi digital tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan. Sebab teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu melindungi masyarakat apabila penggunanya tidak memahami risiko yang menyertainya.

Rumah untuk Generasi Mendatang

Di sinilah kolaborasi menjadi sangat penting. Pemerintah, regulator, dunia pendidikan, pelaku industri, komunitas, dan masyarakat perlu bergerak dalam arah yang sama. Kedaulatan digital bukan pekerjaan satu lembaga atau satu generasi, melainkan proyek kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.

Pada akhirnya, QRIS mungkin hanya terlihat sebagai pola hitam putih yang dipindai melalui telepon genggam. GPN mungkin hanya dipahami sebagai jaringan pembayaran nasional yang bekerja di balik layar. Namun keduanya sesungguhnya merepresentasikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar teknologi.

Mereka adalah batu bata. Mereka adalah fondasi. Mereka adalah bagian dari rumah yang sedang dibangun Indonesia di tanahnya sendiri.

Karena kedaulatan digital bukan tentang menutup diri dari dunia. Bukan pula tentang menolak kemajuan global. Kedaulatan digital adalah kemampuan untuk berdiri sejajar dengan bangsa lain, berinteraksi dengan dunia, dan tetap memegang kunci rumah kita sendiri.