Menguji Stabilitas di Tengah Badai

Penulis merupakan pegawai Bank Indonesia yang aktif menulis tentang ekonomi, sistem pembayaran, dan transformasi digital dengan pendekatan naratif-reflektif dan berbasis isu publik.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perekonomian global bergerak dalam lanskap yang kian sulit ditebak. Ia tak selalu mulus, kadang berbelok tanpa tanda, kadang berlubang tanpa aba-aba. Kerap tersandung oleh krisis ekonomi, pandemi, hingga konflik geopolitik yang datang tanpa kompromi.
Pada titik tertentu, ia seolah menguji: apakah kita cukup siap untuk terus melaju, atau justru berhenti di tengah ketidakpastian. Namun satu hal yang pasti: bukan guncangan yang menentukan arah perjalanan, melainkan kesiapan kita dalam menghadapinya.
***
Dewasa ini, dunia dihadapkan pada guncangan ekonomi yang berlapis. Pascapandemi, inflasi global melonjak tajam dan memaksa Federal Reserve mengambil kebijakan pengetatan moneter secara agresif.
Suku bunga tinggi bertahan lebih lama membawa konsekuensi luas. Menekan mata uang negara berkembang, serta meningkatkan volatilitas arus modal internasional.
Di saat yang sama, ketegangan geopolitik dan fragmentasi ekonomi dunia turut memperburuk situasi. Harga energi dan pangan berfluktuasi tajam, menciptakan tekanan inflasi di berbagai negara.
Guncangan global hari ini menghadirkan kesan deja vu. Bukan karena bentuknya sama, melainkan karena polanya berulang. Ketidakpastian memicu kegelisahan yang berpotensi menjalar menjadi tekanan pada sistem keuangan. Kita pernah berada di titik itu pada krisis 1998.
Krisis tersebut menunjukkan bagaimana hilangnya kepercayaan publik dapat melumpuhkan sistem keuangan. Fenomena bank run, yakni penarikan dana secara massal oleh masyarakat, memperparah krisis likuiditas perbankan dan mengguncang stabilitas ekonomi nasional.
Namun, situasi ini jauh berbeda dengan krisis 1998. Saat itu, gejolak nilai tukar berkembang menjadi krisis kepercayaan yang sulit dikendalikan.
Hari ini, fondasi kita lebih kokoh. Bank Indonesia tidak tinggal diam. Intervensi di pasar valas, penguatan operasi moneter, hingga pengelolaan likuiditas dilakukan secara terukur untuk meredam volatilitas. Lebih dari itu, yang dijaga bukan hanya angka nilai tukar, tetapi juga kepercayaan publik. Karena dalam banyak kasus, stabilitas ekonomi bukan runtuh karena pelemahan itu sendiri, melainkan karena kepanikan yang mengikutinya.
Dalam lanskap global yang rapuh, ancaman terbesar sering kali bukan berasal dari luar, melainkan dari bagaimana kita meresponsnya di dalam negeri.
Arsitektur kebijakan ekonomi pun terus diperkuat. Regulasi perbankan diperbaiki, pengawasan diperketat, dan koordinasi antarotoritas semakin solid.
Hasilnya mulai terlihat. Di tengah tekanan global, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang relatif terjaga. Pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5 persen, inflasi terkendali, dan sektor perbankan tetap resilien.
Data Bank Indonesia mencatat kredit perbankan pada Desember 2025 tumbuh sebesar 9,3 persen (year-on-year), dengan total kredit yang disalurkan mencapai Rp8.448,1 triliun. Capaian ini mencerminkan bahwa fungsi intermediasi tetap berjalan dan sektor riil masih bergerak di tengah ketidakpastian global.
Dibandingkan banyak negara berkembang lainnya, Indonesia berada dalam posisi yang relatif lebih stabil. Fondasi makroekonomi yang kuat serta konsistensi kebijakan menjadi faktor penopang utama. Namun demikian, Indonesia tetap rentan terhadap transmisi guncangan eksternal, baik melalui nilai tukar, perdagangan, maupun aliran modal.
Dalam konteks ini, peran Bank Sentral menjadi semakin penting sebagai penjaga stabilitas. Layaknya sabuk pengaman dalam perjalanan, kebijakan yang tepat tidak menghilangkan guncangan, tetapi memastikan dampaknya tetap terkendali.
Selama ini, Bank Indonesia melalui bauran kebijakan moneternya konsisten menjaga stabilitas nilai tukar dan ekspektasi inflasi. Di saat yang sama, kebijakan makroprudensial diarahkan untuk memastikan fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan sehat dan seimbang. Pelonggaran likuiditas serta insentif pembiayaan sektor prioritas menjadi bagian dari upaya menjaga momentum pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas.
Namun, stabilitas tidak hanya dibangun dari sisi kebijakan, melainkan juga dari kesiapan masyarakat sebagai pelaku utama ekonomi. Di tengah lanskap global yang kian bergejolak, fondasi tersebut perlu diperkuat. Dibutuhkan “sabuk pengaman” yang dapat dikencangkan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Data OJK menunjukkan tingkat inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 80,51%, namun tingkat literasi keuangan berada di angka 66,46%. Disparitas ini menyiratkan sebuah paradoks: akses keuangan tumbuh pesat, namun pemahaman belum sepenuhnya mengimbangi.
Padahal, literasi keuangan bukan sekadar pengetahuan, melainkan ketahanan perilaku dalam menghadapi gejolak. Masyarakat yang memahami risiko keuangan cenderung lebih rasional, sehingga mampu meredam potensi kepanikan seperti bank run maupun panic buying saat krisis.
Data OCBC Financial Fitness Index 2025 menguatkan urgensi tersebut: hanya sekitar 19 persen generasi muda yang memiliki dana darurat. Fakta ini menegaskan bahwa penguatan literasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Upaya ini perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan, termasuk melalui integrasi pendidikan keuangan dalam kurikulum formal. Sejumlah negara telah lebih dahulu mengadopsi pendekatan ini dengan mengenalkan pengelolaan keuangan dan investasi sejak bangku sekolah. Kolaborasi lintas otoritas dapat diperkuat melalui insentif fiskal, regulasi yang adaptif, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas jangkauan edukasi.
Di sisi lain, penguatan stabilitas juga ditopang oleh sinergi antarotoritas. Ketika sebuah bank menghadapi tekanan serius, mekanisme penanganan kini jauh lebih terstruktur. Peran Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjadi krusial dalam memastikan bahwa dana masyarakat tetap terlindungi.
Pengalaman menunjukkan bahwa penutupan bank tidak lagi identik dengan kepanikan sistemik. Dengan adanya penjaminan simpanan, masyarakat memiliki kepastian bahwa uang mereka tetap aman. Inilah yang membedakan lanskap hari ini: risiko mungkin tetap ada, tetapi ketidakpastian telah dikelola.
Implikasi makroprudensialnya jelas. Literasi keuangan yang kuat akan memperkokoh stabilitas sistem keuangan dari sisi permintaan. Perilaku masyarakat yang lebih rasional akan menurunkan volatilitas likuiditas perbankan, memperkuat transmisi kebijakan moneter, serta menciptakan ekosistem keuangan yang lebih tahan terhadap guncangan.
Ke depan, bayang-bayang ketidakpastian global masih belum benar-benar reda. Suku bunga global yang tinggi, fragmentasi ekonomi, serta dinamika geopolitik akan tetap menjadi sumber tekanan bagi perekonomian nasional.
Pada akhirnya, guncangan adalah keniscayaan dalam perjalanan ekonomi global. Namun, dengan fondasi yang kuat dan kebijakan yang terarah, Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga melaju dengan lebih terkendali.
Sebab dalam perjalanan panjang ekonomi, yang bertahan bukanlah mereka yang bebas dari guncangan, melainkan mereka yang mampu menjaga keseimbangan di tengah ketidakpastian.
