Konten dari Pengguna

Paspor Baru Bernama QRIS

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Setiap zaman memiliki caranya sendiri untuk melintasi batas. Dahulu manusia mengandalkan kapal, kemudian pesawat terbang, lalu paspor. Hari ini, di tengah dunia yang semakin terkoneksi, batas-batas itu kembali menyusut melalui sesuatu yang jauh lebih sederhana: sebuah kode QR."

Paspor Baru Bernama QRIS, sumber : AI
zoom-in-whitePerbesar
Paspor Baru Bernama QRIS, sumber : AI

Ada satu benda yang hampir selalu menjadi simbol perjalanan internasional. Ia menemani kita melewati pemeriksaan imigrasi, menjadi identitas ketika berada di negeri orang, sekaligus penanda bahwa kita sedang melintasi batas geografis. Bagi sebagian orang, setiap cap yang tercetak di dalamnya adalah cerita tentang tempat baru, budaya baru, dan pengalaman yang tak terlupakan. Ia bernama paspor.

Namun di era digital, ternyata bukan hanya manusia yang membutuhkan paspor. Sistem pembayaran pun membutuhkannya.

Dahulu, ketika seseorang bepergian ke luar negeri, ada satu ritual yang hampir tidak pernah terlewatkan: menukar uang. Sebelum menikmati semangkuk mi di Beijing, secangkir teh di Hangzhou, atau berbelanja di Shanghai, wisatawan harus lebih dahulu memastikan dompetnya berisi mata uang yang berlaku di negara tujuan.

Hari ini, perlahan-lahan kebiasaan itu mulai berubah. Melalui kerja sama Bank Indonesia dan People's Bank of China (PBOC), QRIS Antarnegara kini resmi hadir di Tiongkok. Setelah Thailand, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, dan Jepang, masyarakat Indonesia kini dapat bertransaksi di negeri Tirai Bambu hanya dengan memindai kode QR menggunakan aplikasi pembayaran yang biasa digunakan di tanah air.

Sekilas, ini mungkin hanya terdengar sebagai penambahan fitur pembayaran. Padahal sesungguhnya yang sedang terjadi jauh lebih besar dari itu. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah inovasi yang lahir di dalam negeri mulai menyeberangi batas negara.

Jejak Panjang Sebelum Menyeberang Perbatasan

Kehadiran QRIS di Tiongkok bukanlah cerita yang lahir dalam semalam. Di balik satu kali scan yang dilakukan wisatawan Indonesia di negeri orang, terdapat perjalanan panjang transformasi digital yang dibangun bertahun-tahun.

Hingga pertengahan 2026, sekitar 63 juta masyarakat Indonesia telah menggunakan QRIS dan lebih dari 45,3 juta merchant menerimanya sebagai alat pembayaran. Angka itu menunjukkan bahwa QRIS bukan lagi sekadar inovasi digital. Ia telah menjadi bagian dari kebiasaan baru masyarakat Indonesia dalam bertransaksi.

Jika paspor manusia menyimpan catatan perjalanan pemiliknya, maka QRIS memiliki kisah perjalanannya sendiri. Kisah itu tidak ditulis dengan tinta, melainkan oleh jutaan pengguna dan puluhan juta pelaku usaha yang menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari. Kini, perjalanan itu berlanjut melintasi batas negara.

Di tengah dunia yang semakin terhubung sekaligus semakin tidak pasti, kemampuan sebuah negara membangun jembatan pembayaran lintas batas menjadi sama pentingnya dengan membangun pelabuhan, jalan raya, atau bandar udara. Sebab masa depan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak barang yang diproduksi, tetapi juga oleh seberapa mudah manusia dapat saling bertransaksi.

Paspor Sistem Pembayaran Digital

Menariknya, QRIS tidak pernah benar-benar berbentuk paspor. Ia tidak memiliki foto. Tidak memiliki halaman yang dicap petugas imigrasi. Namun fungsinya semakin menyerupai paspor modern. Membuka akses, mempermudah mobilitas, dan menghubungkan masyarakat Indonesia dengan dunia yang lebih luas.

Jika dahulu paspor memungkinkan seseorang berpindah negara, maka QRIS memungkinkan pengalaman ekonomi ikut berpindah bersama penggunanya. Kenyamanan yang biasa dirasakan di dalam negeri kini dapat dinikmati ketika berada di luar negeri.

Mungkin bagi sebagian orang, QRIS hanyalah kotak kecil berisi pola hitam putih yang ditempel di meja kasir. Namun bagi Indonesia, ia telah menjelma menjadi sesuatu yang lebih besar. Layaknya paspor yang membawa seseorang melihat dunia yang lebih luas, QRIS perlahan-lahan sedang membawa Indonesia melangkah lebih jauh dalam peta ekonomi digital global.