Konten dari Pengguna

Pembiayaan Syariah: Penentu Seberapa Jauh Bisnis Melangkah

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI

Sebuah bisnis mungkin memiliki produk yang baik, pasar yang menjanjikan, dan visi yang besar. Namun tanpa modal yang tepat, langkah menuju pertumbuhan bisa berhenti sebelum mencapai tujuan.

Pertumbuhan sebuah usaha tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar keinginannya untuk berkembang. Di balik ekspansi, pembukaan pasar baru, peningkatan kapasitas produksi, hingga penguatan rantai pasok, selalu ada kebutuhan pembiayaan yang harus dipenuhi.

Karena itu, pembiayaan bukan sekadar sumber dana, tetapi bagian dari strategi untuk menentukan seberapa jauh sebuah bisnis dapat melangkah. Dalam konteks ini, pembiayaan syariah memiliki ruang yang semakin penting untuk menjadi pilihan strategis bagi korporasi yang ingin tumbuh secara kompetitif, inovatif, dan berkelanjutan.

Kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan ketika industri halal terus berkembang. Industri halal tidak dapat berdiri sendiri karena membutuhkan dukungan dari ekosistem keuangan yang mampu membiayai proses produksi, distribusi, investasi, hingga ekspansi usaha.

Sebaliknya, industri keuangan syariah membutuhkan sektor riil yang produktif agar intermediasi dapat memberikan dampak yang lebih besar bagi perekonomian. Ketika keduanya terhubung, pembiayaan tidak lagi sekadar mempertemukan bank dengan debitur, tetapi mempertemukan modal dengan peluang pertumbuhan.

Bank Indonesia mendorong penguatan konektivitas tersebut melalui Forum Strategis Pembiayaan Syariah untuk Ekspansi Korporasi bertema “Unlocking Corporate Growth Through Sharia Finance”. Dalam forum tersebut, Bank Indonesia juga mempertemukan 20 Bank Umum Syariah/Unit Usaha Syariah dengan 51 korporasi melalui business matching untuk menjajaki solusi pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan usaha.

Memaknai Pembiayaan Syariah

Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan pembiayaan tidak cukup diselesaikan hanya dengan menyediakan dana. Yang dibutuhkan adalah pertemuan antara kebutuhan korporasi dan solusi pembiayaan yang tepat, terukur, dan berkelanjutan.

Di sinilah pembiayaan syariah perlu dilihat dari perspektif yang lebih luas. Pembiayaan syariah seharusnya tidak hanya menjadi alternatif ketika pilihan pembiayaan lain tidak tersedia, tetapi mampu menjadi pilihan strategis dan kompetitif untuk mendukung investasi dan ekspansi korporasi.

Untuk mencapainya, dibutuhkan pipeline pembiayaan yang bankable, terukur, dan berkelanjutan, disertai pendalaman pasar keuangan syariah dan penguatan intermediasi. Tata kelola, manajemen risiko, pemantauan, serta inovasi instrumen pembiayaan juga menjadi bagian penting agar pertumbuhan pembiayaan tidak hanya cepat, tetapi juga sehat.

Urgensinya semakin terlihat dari kebutuhan korporasi terhadap pembiayaan jangka panjang. Ekspansi usaha tidak selalu menghasilkan manfaat dalam hitungan bulan, sehingga skema dan tenor pembiayaan perlu disesuaikan dengan karakter investasi yang dibiayai. Pada saat yang sama, pendekatan berbasis ekosistem menjadi semakin penting karena sebuah perusahaan tidak pernah tumbuh sendirian.

Di belakangnya terdapat pemasok, distributor, pekerja, pelaku usaha pendukung, hingga konsumen yang membentuk rantai nilai. Ketika pembiayaan mampu masuk ke dalam ekosistem tersebut, manfaatnya dapat bergerak lebih jauh daripada sekadar membiayai satu perusahaan.

Perkembangan industri menunjukkan bahwa ruang tersebut semakin terbuka. Pada Juni 2026, pembiayaan perbankan syariah mencapai Rp720 triliun, tumbuh 11,43% secara tahunan, sementara Dana Pihak Ketiga mencapai Rp816 triliun atau tumbuh 13,13%.

Pada periode yang sama, rantai pasok halal tumbuh 5,5%, sedangkan outstanding sukuk korporasi mencapai sekitar Rp95 triliun. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa ekosistem ekonomi dan keuangan syariah memiliki fondasi yang semakin besar untuk mendukung investasi produktif dan ekspansi sektor riil.

Namun, besarnya potensi tidak otomatis membuat pembiayaan mengalir dengan sendirinya. Dibutuhkan kolaborasi antara korporasi, industri keuangan syariah, regulator, kementerian dan lembaga, asosiasi, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Masing-masing memiliki peran berbeda dalam membangun ekosistem yang membuat kebutuhan pembiayaan dapat diterjemahkan menjadi proyek yang layak, terukur, dan dapat dibiayai. Karena itu, sinergi bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari mesin yang membuat pembiayaan mampu bergerak dari sistem keuangan menuju sektor riil.

Melalui program Bulan Pembiayaan Syariah dan Percepatan Intermediasi Indonesia, Bank Indonesia bersama para pemangku kepentingan terus mendorong perluasan akses dan percepatan realisasi pembiayaan syariah ke sektor riil. Tujuannya bukan hanya meningkatkan angka pembiayaan, tetapi memastikan pembiayaan tersebut mampu mendukung investasi, ekspansi usaha, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, keberhasilan pembiayaan syariah tidak hanya dapat diukur dari berapa besar dana yang tersalurkan, tetapi dari seberapa besar nilai ekonomi yang berhasil diciptakan setelah dana tersebut bergerak.

Sebab modal yang mengendap tidak akan menciptakan pertumbuhan. Modal yang bergerak ke investasi dapat menciptakan kapasitas baru, membuka peluang usaha, memperluas rantai pasok, dan meningkatkan daya saing. Karena itu, tantangan ke depan bukan lagi sekadar bagaimana menyediakan pembiayaan, tetapi bagaimana memastikan pembiayaan menemukan usaha yang tepat dan usaha menemukan pembiayaan yang tepat.

Pada akhirnya, pembiayaan adalah jembatan antara visi dan ekspansi. Sebuah korporasi mungkin memiliki keberanian untuk melangkah, tetapi membutuhkan fondasi pembiayaan agar langkah tersebut dapat berlangsung lebih jauh dan lebih terukur. Ketika industri halal dan keuangan syariah semakin terhubung, jembatan itu dapat menjadi semakin kuat.

Karena pertumbuhan bukan hanya tentang seberapa besar sebuah bisnis ingin berkembang, tetapi tentang seberapa tepat modal dipertemukan dengan peluang. Dan ketika pembiayaan syariah mampu menjadi pilihan strategis bagi ekspansi korporasi, yang tumbuh bukan hanya perusahaan, tetapi juga ekosistem ekonomi di sekitarnya.