Seni Menjaga Api Tetap Kecil
Tulisan dari Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Tidak semua api harus dipadamkan. Ada api yang justru harus dijaga agar tetap menyala."

Di hampir setiap dapur, ada satu keterampilan yang sering luput dari perhatian. Ketika air mulai mendidih atau masakan mulai matang, seseorang tidak serta-merta mematikan api. Ia justru mengecilkannya.
Terlalu besar, masakan bisa gosong. Terlalu kecil, makanan tidak kunjung matang. Karena itu, memasak sesungguhnya bukan sekadar soal menyalakan api, melainkan tentang menjaga keseimbangan.
Prinsip yang sama berlaku dalam perekonomian.
Inflasi sering dipandang sebagai sesuatu yang harus dilawan. Setiap kali harga cabai naik, beras meningkat, atau ongkos transportasi bertambah mahal, kekhawatiran segera muncul. Padahal dalam kadar tertentu, inflasi adalah bagian alami dari denyut kehidupan ekonomi. Ia menandakan adanya aktivitas produksi, konsumsi, dan perputaran usaha yang terus berjalan.
Yang berbahaya bukan keberadaan inflasi itu sendiri, melainkan ketika ia tumbuh terlalu tinggi dan membebani kehidupan masyarakat.
Seperti api di dapur, inflasi perlu dijaga agar tetap cukup hangat untuk menggerakkan perekonomian, tetapi tidak sampai membakar daya beli masyarakat.
Ketika Harga Mulai Bergerak
Beberapa bulan terakhir, masyarakat kembali merasakan pergerakan harga pada sejumlah kebutuhan sehari-hari. Cabai merah, bawang merah, tomat, dan beras mengalami kenaikan seiring berkurangnya pasokan akibat cuaca ekstrem dan berakhirnya musim panen raya. Pada saat yang sama, meningkatnya kebutuhan menjelang Iduladha turut menambah tekanan permintaan.
Di kelompok lain, penyesuaian harga LPG nonsubsidi, BBM nonsubsidi, dan avtur yang dipengaruhi perkembangan harga energi global turut mendorong kenaikan biaya transportasi dan energi.
Bagi sebagian masyarakat, perubahan tersebut mungkin hanya terlihat sebagai selisih angka dalam struk belanja. Namun jika terjadi secara bersamaan dan tanpa pengendalian, dampaknya dapat menjalar ke berbagai aspek kehidupan.
Di sinilah pentingnya menjaga api tetap pada ukuran yang tepat.
Sebab tantangan terbesar dalam pengendalian inflasi bukanlah menghilangkan seluruh tekanan harga. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan tekanan tersebut tidak berkembang menjadi gejolak yang mengganggu stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Pada Mei 2026, inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan. Angka tersebut masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin terasa biasa saja. Namun di baliknya terdapat kerja panjang yang jarang terlihat oleh publik.
Ada petani yang tetap berupaya menjaga produksi di tengah cuaca yang tidak menentu. Ada pemerintah pusat dan daerah yang berkoordinasi memastikan distribusi pangan tetap berjalan. Ada berbagai program penguatan ketahanan pangan yang terus diperbaiki. Ada pula kebijakan Bank Indonesia yang konsisten menjaga stabilitas ekonomi agar ekspektasi inflasi tetap terkendali.
Sebagian besar pekerjaan tersebut berlangsung jauh dari sorotan. Tidak viral. Tidak menjadi perbincangan sehari-hari. Namun justru karena kerja-kerja itulah masyarakat masih dapat menjalani aktivitas ekonominya dengan lebih tenang.
Sering kali kita baru menyadari pentingnya pengendalian inflasi ketika harga-harga melonjak tajam. Padahal keberhasilan sesungguhnya justru ketika gejolak tersebut berhasil dicegah sebelum menjadi masalah yang lebih besar.
Menjaga Keseimbangan Sangat Penting
Dalam kehidupan sehari-hari, menjaga keseimbangan adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai. Seorang pengemudi harus mengatur kecepatan agar kendaraan tetap aman. Seorang petani harus mengatur waktu tanam agar hasil panennya optimal. Seorang ibu rumah tangga harus mengatur pengeluaran agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Perekonomian pun bekerja dengan prinsip yang sama.
Terlalu banyak tekanan harga akan menggerus daya beli masyarakat. Namun inflasi yang terlalu rendah juga dapat menjadi pertanda melemahnya aktivitas ekonomi. Karena itu, sasaran yang dicari bukanlah ketiadaan inflasi, melainkan inflasi yang sehat dan terkendali.
Keseimbangan itulah yang menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, sebuah bangsa yang sehat bukanlah bangsa yang bebas dari tekanan harga. Sebagaimana sebuah dapur yang hidup tidak pernah benar-benar bebas dari nyala api.
Yang membedakannya adalah kemampuan menjaga api tetap pada ukuran yang tepat. Tidak terlalu besar hingga membakar. Tidak terlalu kecil hingga memadamkan harapan.
Sebab kesejahteraan sering kali lahir bukan dari keadaan yang sempurna, melainkan dari kemampuan menjaga keseimbangan di tengah berbagai tekanan yang datang silih berganti.
Dan seperti seorang juru masak yang berpengalaman memahami kapan harus membesarkan atau mengecilkan api, sebuah bangsa juga membutuhkan kebijakan, koordinasi, dan kesabaran untuk memastikan panas yang ada tetap menghasilkan manfaat, bukan masalah.
Karena pada akhirnya, tujuan pengendalian inflasi bukan sekadar menjaga angka tetap rendah. Melainkan menjaga agar dapur masyarakat tetap hangat, kehidupan tetap berjalan, dan harapan tetap menyala.

