Konten dari Pengguna

BTV dan Tantangan Televisi Mengejar Viralitas

Hennry Hartawan

Hennry Hartawan

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hennry Hartawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Dokumentasi AI / dibuat dengan bantuan ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Dokumentasi AI / dibuat dengan bantuan ChatGPT

Persaingan industri televisi saat ini semakin kompleks. Televisi tidak lagi hanya bersaing dengan stasiun televisi lain, tetapi juga harus berhadapan dengan media sosial, platform video, dan layanan streaming. Dalam kondisi tersebut, perhatian audiens menjadi hal yang sangat penting bagi keberlangsungan sebuah program. Program yang ramai ditonton dan banyak dibicarakan tentu memiliki nilai bagi industri televisi. Namun, persoalan muncul ketika viralitas dan rating menjadi tujuan utama, sementara kualitas isi program justru berada di posisi kedua.

Persoalan tersebut terlihat dalam evaluasi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terhadap BTV pada September 2026. KPI meminta BTV agar lebih mengedepankan kualitas siaran dibandingkan sekadar mengejar viralitas dan rating, karena tayangan televisi tetap harus memiliki manfaat, nilai, dan isi yang sehat bagi masyarakat. Bagi saya, kasus ini menarik karena menunjukkan bahwa programming televisi bukan hanya tentang membuat program yang menarik untuk ditonton. Di balik keputusan memilih program, menentukan format, dan mengejar perhatian audiens, terdapat tanggung jawab media kepada masyarakat.

Catatan KPI terhadap BTV

Pada 10 September 2026, KPI melakukan evaluasi tahunan terhadap BTV sebagai Lembaga Penyiaran Swasta (LPS) berjaringan. Dalam evaluasi tersebut, KPI menekankan pentingnya peningkatan kualitas siaran BTV agar tidak hanya berorientasi pada viralitas dan rating. KPI juga menyampaikan bahwa BTV memperoleh dua teguran selama 2025, yang diberikan kepada dua program jurnalistik karena berkaitan dengan pelanggaran norma kesopanan dan kesusilaan.

KPI turut menyampaikan hasil riset Indeks Kualitas Program Siaran Televisi (IKPSTV) 2025. Ada tiga kategori program BTV yang masuk dalam riset, yaitu program anak, berita, dan infotainmen. Dari ketiganya, infotainmen menjadi kategori yang berada di bawah standar kualitas KPI. Nilai rata-rata indeks BTV sendiri berada pada angka 3,20 dalam skala 1 sampai 4, sementara program dinilai berkualitas apabila memperoleh nilai di atas 3.

Meski begitu, evaluasi tersebut tidak berarti seluruh program BTV dianggap bermasalah. KPI juga memberikan apresiasi kepada beberapa program yang dinilai bermanfaat dan edukatif, seperti Goes to School dan Goes to Campus. BTV pun menyatakan akan melakukan perbaikan internal dan lebih intensif mengikuti program Sekolah P3SPS KPI. Karena itu, persoalan BTV sebaiknya tidak dipahami sebagai penilaian terhadap seluruh programnya, melainkan sebagai perhatian pada bagian-bagian yang masih memiliki catatan.

Viralitas Tidak Selalu Berarti Berkualitas

Fenomena mengejar viralitas sebenarnya bukan hanya terjadi di televisi. Media digital juga menggunakan berbagai strategi untuk mendapatkan perhatian audiens, mulai dari judul yang menarik, isu kontroversial, potongan video, hingga peristiwa yang sedang ramai di media sosial. Televisi tentu tidak bisa sepenuhnya mengabaikan kondisi tersebut. Namun, viralitas tidak selalu menunjukkan kualitas.

Sebuah program bisa saja menjadi viral karena kontroversi atau materi yang memancing reaksi masyarakat. Akan tetapi, banyaknya orang yang membicarakan sebuah program tidak otomatis membuat isinya informatif, edukatif, atau bermanfaat. Karena itu, televisi perlu membedakan antara program yang menarik perhatian dan program yang berkualitas. Keduanya memang dapat berjalan bersama, tetapi salah satunya tidak seharusnya mengorbankan yang lain.

Melihat BTV melalui Teori Tanggung Jawab Sosial

Persoalan tersebut dapat dianalisis menggunakan Teori Tanggung Jawab Sosial Media atau Social Responsibility Theory. Teori ini memandang bahwa kebebasan media harus berjalan bersama dengan tanggung jawab kepada masyarakat. Dalam konteks penyiaran, media memang bebas menentukan program dan menyampaikan informasi, tetapi kebebasan itu harus disertai tanggung jawab untuk memperhatikan kepentingan publik, kualitas informasi, etika, serta dampak dari isi yang disiarkan.

Jika diterapkan pada kasus BTV, persoalannya terletak pada bagaimana kepentingan industri dan kepentingan publik dapat berjalan seimbang. Rating dan popularitas memang penting bagi keberlangsungan sebuah stasiun televisi, karena tanpa audiens program akan sulit bertahan. Akan tetapi, rating tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan programming. Program dengan penonton besar belum tentu memiliki nilai informasi dan edukasi yang tinggi, sedangkan program dengan penonton lebih sedikit tetap dapat bermanfaat bagi kelompok masyarakat tertentu. Dengan demikian, keberhasilan programming seharusnya dilihat dari berapa banyak orang yang menonton dan juga dari apa yang diperoleh masyarakat setelah menonton.

Programming Bukan Sekadar Mengejar Penonton

Dalam programming media penyiaran, proses menentukan sebuah program tidak berhenti pada pemilihan tema dan jadwal tayang. Kualitas isi, target audiens, format, proses produksi, hingga evaluasi program juga perlu diperhatikan. Catatan KPI terhadap BTV memperlihatkan bahwa quality control menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Program jurnalistik, misalnya, membutuhkan proses verifikasi dan penyuntingan yang kuat sebelum materi disiarkan, sedangkan program hiburan tetap membutuhkan batasan editorial agar tidak mengabaikan norma dan kepentingan publik. Dengan kata lain, tanggung jawab sosial seharusnya tidak baru muncul setelah program mendapat teguran, tetapi sudah menjadi bagian dari perencanaan dan produksi program.

Apa yang Perlu Diperbaiki BTV?

Pertama, BTV perlu memperkuat quality control. Setiap materi yang akan ditayangkan harus melalui pemeriksaan yang lebih ketat, terutama materi yang berpotensi menimbulkan persoalan etika atau melanggar P3SPS. Kedua, BTV perlu membangun viralitas yang sehat. BTV tetap dapat menggunakan isu yang sedang ramai sebagai bahan program, tetapi penyajiannya harus informatif, proporsional, dan bertanggung jawab, sehingga program tidak mengandalkan kontroversi semata untuk mendapatkan perhatian.

Ketiga, BTV perlu melakukan evaluasi program secara berkala. Rating dapat tetap digunakan sebagai salah satu indikator, tetapi perlu dilengkapi dengan penilaian terhadap kualitas isi, manfaat bagi audiens, respons masyarakat, kepatuhan terhadap regulasi, dan nilai edukasi. Keempat, BTV perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusia. KPI sendiri menyebut Sekolah P3SPS sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas penyiaran melalui pemahaman SDM di lembaga penyiaran. Langkah ini penting karena kualitas program tidak ditentukan oleh satu orang saja. Produser, reporter, penulis, presenter, editor, hingga tim programming punya peran dalam menentukan bagaimana sebuah tayangan diterima masyarakat.

Membangun Viralitas yang Tetap Bertanggung Jawab

Persaingan dengan media digital membuat televisi harus semakin kreatif. Namun, kreativitas tidak harus bertentangan dengan tanggung jawab sosial. Televisi tetap dapat membuat program yang aktual, menarik, dan mudah dibicarakan tanpa mengorbankan kualitas. Bahkan, viralitas bisa lebih bernilai ketika perhatian masyarakat diperoleh melalui isi yang informatif dan relevan.

Bagi industri televisi, tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana membuat masyarakat menonton, tetapi bagaimana membuat masyarakat mau menonton sekaligus mendapatkan sesuatu yang bermanfaat. Dalam konteks BTV, evaluasi KPI dapat menjadi momentum untuk melihat kembali strategi programming yang digunakan. Mengejar rating dan viralitas tetap diperlukan dalam persaingan industri, tetapi keduanya seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari strategi, bukan sebagai tujuan akhir.

Kesimpulan

Evaluasi KPI terhadap BTV menunjukkan bahwa persaingan televisi tidak cukup hanya mengandalkan rating dan viralitas. Di tengah perubahan industri media dan semakin kuatnya persaingan dengan platform digital, kualitas isi justru menjadi salah satu hal yang dapat membangun kepercayaan audiens. Melalui Teori Tanggung Jawab Sosial, kasus BTV dapat dipahami sebagai persoalan keseimbangan antara kepentingan industri dan kepentingan masyarakat. Televisi tetap membutuhkan audiens agar dapat bertahan, tetapi keberhasilan sebuah program seharusnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah penonton. BTV masih memiliki ruang untuk memperbaiki kualitas program dan membangun strategi programming yang lebih seimbang. Viralitas tetap boleh dikejar, tetapi harus dibangun melalui kreativitas, kualitas, dan tanggung jawab. Pada akhirnya, program televisi yang baik bukan hanya yang berhasil membuat orang menonton, tetapi juga yang memberi alasan bagi masyarakat untuk mempercayainya.

Sumber:

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). "KPI Minta BTV Kedepankan Aspek Kualitas Ketimbang Viralitas." 10 September 2026.

Siebert, Fred S., Theodore Peterson, dan Wilbur Schramm. Four Theories of the Press. University of Illinois Press.

Wikimedia Commons. Television studio.jpg, karya Fanny Schertzer, lisensi CC BY-SA 3.0.