Konten dari Pengguna

Omed-Omedan: Tradisi Unik Kota Bali Menjadi Ironi di Zaman Sekarang

Henryan Wijayanto

Henryan Wijayanto

Mahasiswa prodi Industri Pariwisata UPI Kampus Sumedang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Henryan Wijayanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Yuk kenali keunikan tradisi Omed - Omedan!

Tradisi Omed Omedan Bali, Source : Getty Images
zoom-in-whitePerbesar
Tradisi Omed Omedan Bali, Source : Getty Images

Pulau Bali di Indonesia terkenal karena keindahan alamnya, kebudayaannya yang kaya, dan keramahannya terhadap wisatawan. Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Samudra Hindia melingkupi pantainya yang indah dengan pasir putih dan air laut yang jernih. Bali tidak hanya dikenal karena pantai-pantainya yang indah, tetapi juga karena sawah teraseringnya yang indah, terutama di Ubud. Bali juga merupakan pusat seni dan budaya karena banyaknya pura, museum, galeri, dan pertunjukan tradisional, termasuk tarian Bali yang memukau. Banyak upacara adat yang dilakukan secara rutin, seperti Ngaben atau kremasi, dan perayaan Hindu yang meriah, seperti Hari Raya Nyepi, menunjukkan keanekaragaman budaya Bali.

Bali atau sering dikenal sebagai pulau Dewata terletak diantara pulau Jawa dan pulau Lombok. Sebelum berdiri sebagai provinsi, Bali merupakan bagian dari Provinsi Sunda Kecil bersama dengan Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores dan Timor. Bali resmi menjadi provinsi pada tahun 1958 dengan Singaraja sebagai ibukota, dan tahun 1960 ibukota berpindah ke Denpasar. Bali dikenal oleh dunia luar sebagai destinasi populer di indonesia karena memiliki bermacam macam daya tarik yang membuat wisatawan ingin mengunjungi bali baik keindahan pegunungan, pemandangan alam, pesisir pantai dan desa desa yang asri. Tidak hanya terdapat tempat rekreasi karena Bali terkenal dengan kota Seribu Pura di Bali juga terdapat kebudayaan, kesenian serta tradisi yang unik, ditambah banyak budaya lokal setempat yang berhubungan dengan kebiasaan atau tradisi turun temurun yang di wariskan akan menjadi daya tarik Bali sendiri. Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas keunikan Omed - omedan yang ada di Bali.

Ref :https://www.kompasiana.com/henryanwijayanto2803/641c6ea24addee68837834a2/keunikan-kebudayaan-masyarakat-di-bali

Saat Ngembak Geni, atau hari pertama setelah Hari Raya Nyepi, anak-anak Bali melakukan tradisi Omed-omedan. Saat ini, Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar, Bali adalah tempat yang masih melakukan Tradisi Omed-omedan. Ini sudah ada sejak abad ke-17, ketika dua ekor babi hutan bertarung, membuat masyarakat Desa Sesetan merasa nasibnya buruk. Muda-mudi lokal dibagi menjadi dua kelompok menurut tradisi Omed-omedan: teruna (pria) dan teruni (wanita). Setiap orang yang mengikuti tradisi ini melakukan upacara persembahyangan bersama di Pura Banjar sebelum ritual omed-omedan dimulai.

Ketika mereka melakukan persembahyangan, orang-orang memohon kebersihan hati dan kelancaran selama ritual omed-omedan. Untuk menghormati peristiwa beradunya sepasang babi hutan di Desa Sesetan, akan ada tarian Barong Bangkung (Barong Babi) setelah semua orang melakukan sembahyang. Kemudian, kedua kelompok pria dan wanita ini mulai berbaris dan berhadapan, dipandu oleh para pecalang, yang merupakan bentuk polisi tradisional. Seseorang dari masing-masing kelompok akan dipilih secara bergantian untuk diangkat dan kemudian diarak ke posisi paling depan barisan.

Setelah itu, dua grup bertemu, pria dan wanita yang berada di depan harus berpelukan satu sama lain. Setelah mereka berpelukan, masing-masing grup mulai menarik temannya agar terlepas, dan jika mereka tidak dapat terlepas, panitia akan menyiram mereka dengan air hingga mereka basah. Setelah itu, grup pria dan wanita bertemu lagi dan berpelukan erat, lalu berbicara satu sama lain di pipi, kening, dan bibir.

Masyarakat di luar Bali kadang-kadang salah memahami tradisi Omed-omedan. Ini dianggap sebagai tradisi yang salah karena itu adalah ritual ciuman masal dari Desa Sesetan. Meskipun demikian, tradisi Omed-omedan tetap menjadi salah satu tradisi yang unik dan masih bertahan hingga hari ini. Menurut Denpasarkota.go.id, masyarakat Desa Sesetan pada masa lalu melihat Tradisi Omed-omedan hanya sebagai bagian dari bentuk masima karma atau dharma shanti (menjalin silahturahmi) antar sesama warga. Namun, dengan waktu, Tradisi Omed-omedan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik dan asing. Masyarakat Desa Sesetan menyadari hal ini dan menjadikan Tradisi Omed-omedan menjadi festival warisan budaya tahunan. Festival ini akan dimeriahkan dengan adanya bazzar dan juga panggung pertunjukan.

Pengunjung festival terus meningkat dari tahun ke tahun, terutama dari penggemar fotografi yang saling berkompetisi untuk mengabadikan momen yang menarik dengan kamera. Tradisi Omed-omedan diperkirakan ada sejak abad ke-17. Sebagian orang percaya bahwa tradisi Omed-omedan berasal dari Kerajaan Puri Oka, yang terletak di selatan Denpasar. Saat itu, masyarakat berusaha membuat permainan menarik. Permainan ini menjadi semakin menarik seiring waktu dan berubah menjadi saling rangkul. Akibat aksi permainan itu, suasana menjadi gaduh. Raja Puri Oka yang sakit menjadi marah. Berisik itu mengganggunya. Namun, ketika raja keluar dan melihat permainan Omed-omedan, ia malah sembuh dari sakitnya. Sejak saat itu, sang raja mengadakan Omed-omedan setiap tahun saat menyalakan api pertama atau Ngembak Geni usai Hari Raya Nyepi. Tradisi Omed-omedan telah dihentikan di Desa Sesetan. Kejadian aneh terjadi saat dihentikan: dua ekor babi bertengkar di depan pelataran pura. Tradisi Omed-omedan akhirnya dilakukan kembali karena masyarakat menganggap peristiwa itu sebagai pertanda buruk.

Ref: https://www.denpasarkota.go.id/berita/jaya-negara-hadiri-omed-omedan-di-sesetan-tekankan-jaga-tradisi-dan-pakem-asli-kebudayaan-bali