'Self-Diagnose' dari TikTok, Bukan Psikolog: Wajah Baru Krisis Kepercayaan

Penulis di beberapa platform online tentang artikel analisis, novel, dan cerpen. Lulusan Strata 1 (S1) STMIK Tasikmalaya di bidang Teknologi Informasi (TI) yang pernah menjadi Guru Honorer di beberapa SMK di Kota Banjar, Jawa Barat.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Deni Rusviana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anda sedang menghadapi masalah, lalu membuka TikTok dan menemukan seorang content creator memberikan nasihat yang terasa begitu pas dan mengena. Di sisi lain, untuk berkonsultasi dengan psikolog profesional, Anda harus membuat janji dan mengeluarkan biaya. Fenomena ini adalah cerminan dari sebuah pergeseran besar di masyarakat: sebuah krisis kepercayaan, di mana otoritas keahlian formal kini bersaing ketat dengan pesona relatability para influencer. Pertanyaannya, mengapa kita lebih mudah terhubung dengan nasihat dari 'life coach' dadakan di media sosial daripada para ahli sungguhan?
1. Pesona 'Relatibility' yang Mengalahkan Kredensial
Alasan utama mengapa influencer atau life coach TikTok begitu digemari adalah karena mereka terasa seperti teman. Mereka berbicara dengan bahasa sehari-hari, berbagi pengalaman pribadi yang mirip dengan kita, dan menampilkan diri dengan cara yang mudah diakses. Sebaliknya, para ahli seperti psikolog atau ilmuwan sering kali dianggap kaku, menggunakan istilah-istilah rumit, dan terasa menjaga jarak. Di tengah krisis kepercayaan ini, kedekatan emosional sering kali menang telak melawan kredensial dan gelar akademis.
2. Demokratisasi Informasi yang Menjadi Pedang Bermata Dua
Internet telah mendemokratisasi informasi, memungkinkan siapa saja untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Ini adalah hal yang baik. Namun, di saat yang sama, ia mengaburkan batas antara opini pribadi dan saran profesional. Seorang influencer yang berhasil mengatasi masalah kecemasannya lalu membagikan tipsnya adalah hal yang inspiratif. Tetapi ketika tips tersebut disajikan seolah-olah itu adalah solusi universal yang teruji secara klinis, di situlah masalah dimulai. Algoritma media sosial tidak membedakan mana konten yang akurat dan mana yang sekadar populer.
3. Zona Bahaya: Ketika Nasihat Menyangkut Kesehatan dan Finansial
Pergeseran kepercayaan ini menjadi sangat berbahaya ketika memasuki ranah yang berisiko tinggi, seperti kesehatan mental dan keuangan. Nasihat "self-diagnose" dari influencer bisa menghalangi seseorang mencari bantuan profesional yang sesungguhnya mereka butuhkan. Begitu pula dengan saran investasi dari content creator yang tidak memiliki sertifikasi, yang bisa berujung pada kerugian finansial yang besar bagi pengikutnya. Popularitas dan jumlah pengikut bukanlah jaminan kebenaran atau keamanan sebuah informasi.
4. Algoritma: Sang Kurator yang Memperkuat Bias
Kita sering merasa bahwa kita memilih konten yang kita konsumsi. Padahal, algoritma-lah yang lebih banyak berperan. Algoritma dirancang untuk menyajikan konten yang paling menarik perhatian, bukan yang paling akurat. Konten dari influencer yang dramatis, simplistis, dan menjanjikan solusi instan cenderung lebih viral daripada penjelasan ahli yang kompleks dan penuh kehati-hatian. Akibatnya, kita terus-menerus disuguhi konten yang memperkuat keyakinan kita pada figur non-ahli, memperdalam krisis kepercayaan pada otoritas formal.
5. Menjadi Konsumen Informasi yang Kritis
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Kuncinya adalah menjadi konsumen informasi yang cerdas dan kritis. Nikmati konten dari para influencer sebagai sumber inspirasi atau hiburan, tetapi selalu lakukan verifikasi silang saat menyangkut keputusan penting. Bedakan antara berbagi pengalaman pribadi dengan memberikan saran profesional. Pada akhirnya, di era informasi yang melimpah ini, kemampuan untuk menyaring dan memvalidasi sumber adalah skill bertahan hidup yang paling krusial.
