Konten dari Pengguna

Lebih Baik Sakit Gigi atau Sakit Hati?

Herdias Hayyal Falahi

Herdias Hayyal Falahi

An undergraduate student majoring in Psychology at Brawijaya University. Have a great desire to keep growing and never stop trying new things. My life's desire to bring about good changes around me. Instagram: @herdiasfalahi63

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Herdias Hayyal Falahi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sakit gigi.  Foto: Thinkstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sakit gigi. Foto: Thinkstock

Daripada sakit hati

Lebih baik sakit gigi ini

Biar tak mengapa

Rela, rela, rela, aku relakan

Rela, rela, rela, aku rela

Kalau terbakar api

Kalau tertusuk duri mungkin

Masih dapat ku tahan

Tapi ini sakit lebih sakit

Kecewa karena cinta

Sepotong lirik lagu dari Meggy Z yang berjudul “Sakit Gigi” ini menggambarkan betapa besarnya rasa sakit hati yang dirasakan karena kecewa oleh cinta. Besarnya sakit hati dalam lagu ini digambarkan seolah melebihi rasa sakit yang diakibatkan sakit gigi. Bahkan di baik berikutnya, digambarkan lebih sakit daripada tertusuk duri dan terbakar api.

Akan tetapi, apakah sakit hati itu lebih sakit daripada sakit gigi seperti yang tertulis dalam lirik lagu tadi? Mungkin, pertanyaan barusan terdengar konyol karena kalimat pada lirik lagu di atas hanyalah sebuah pengibaratan atau majas dalam sastra lagu. Namun, tidak ada salahnya untuk kita mengetahui bagaimana rasa sakit hati dan gigi itu bermula secara ilmiah.

Dalam dunia ilmiah, perasaan sakit dikenal dengan istilah pain. Swieboda, dkk (2013) mendefinisikan pain sebagai sebuah perasaan sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan dan disertai oleh kerusakan jaringan atau tempat tertentu. Rasa sakit ini ternyata merupakan cara manusia untuk bertahan hidup, lho.

Rasa sakit ini bekerja sebagai sinyal untuk memperingatkan manusia akan adanya ancaman berupa hal yang tidak mengenakkan atau kerusakan pada tubuh (Swieboda dkk, 2013). Jadi, dengan mengetahui rasa sakit, kita akan mempertahankan diri dengan menghindari penyebab rasa sakit tersebut yang muncul sebagai ancaman.

Pain sendiri terbagi menjadi dua, yakni psychological pain atau emotional pain yang merupakan sakit secara psikologis atau secara emosi, dan physical pain atau sakit secara fisik.

Psychological pain atau emotional pain diartikan sebagai perasaan yang bertahan lama (lasting), tidak berkelanjutan (unsustainable), dan tidak menyenangkan (unpleasant) yang dihasilkan dari penilaian negatif terhadap suatu ketidakmampuan atau kekurangan diri (Meerwijk dan Weiss, 2011 dalam Meerwijk dkk, 2013). Beberapa contoh dari psychological pain atau emotional pain ini adalah penolakan sosial, kehilangan, mendapatkan perlakuan sosial yang tidak mengenakkan, dll.

Termasuk di antaranya adalah sakit hati. Sementara physical pain atau sakit secara fisik didefinisikan sebagai bentuk pertahanan diri untuk menghindari kerusakan secara fisik yang bertujuan untuk bertahan hidup dengan cara menghindar dari cedera dan kematian (Ferris dkk, 2019). Contoh dari physical pain adalah sakit secara umum yang dialami manusia seperti terluka, malfungsi organ tubuh tertentu, dan termasuk di antaranya adalah sakit gigi.

Di balik berbagai macam rasa sakit yang muncul, bagaimana sih, sebenarnya pain ini terjadi? Secara umum, mekanisme penerimaan rasa sakit ini berawal dari adanya stimulus yang diterima oleh tubuh kita yang kemudian dibawa ke otak melalui sistem saraf yang ada di tubuh kita (Swieboda dkk, 2013). Di dalam otak inilah terjadi proses atensi yang dilanjutkan dengan interpretasi yang kemudian menghasilkan rasa sakit yang kemudian kita rasakan.

Uniknya, mekanisme penerimaan dan interpretasi otak dari kedua jenis rasa sakit ini memiliki kesamaan yang cukup banyak. Meerwijk, dkk., pada tahun 2013, melangsungkan penelitian dengan melakukan studi meta analisis atau studi pustaka pada 18 penelitian sebelumnya yang telah melakukan proses neuroimaging, baik dengan functional magnetic resonance imaging (fMRI), positron emission tomography (PET), maupun single photon emission computed tomography (SPECT) pada otak manusia dengan kondisi mengalami psychological pain berupa kesedihan, kehilangan, dan lain sebagainya.

Mereka menemukan bahwa ada beberapa bagian otak yang sangat aktif dan berfungsi maksimal ketika mengalami psychological pain, yakni anterior cingulate cortex (ACC), posterior cingulate cortex (PCC), thalamus, cerebellum, dan parahippocampal gyrus (PHCG). Namun, tidak menutup kemungkinan prefrontal cortex (PFC) juga terlibat dalam mekanisme penerimaan psychological pain ini.

Meerwijk, dkk pada 2013 juga membandingkan temuan mereka dengan temuan Apkarian dan koleganya pada tahun 2005 tentang physical pain dan menemukan bahwa penerimaan physical pain memiliki proses yang tumpang tindih dengan proses penerimaan psychological pain. Apkarian, dkk., 2005 menjelaskan bahwa bagian otak yang bekerja secara aktif ketika mengalami physical pain adalah anterior cingulate cortex (ACC), prefrontal cortex (PFC), posterior cingulate cortex (PCC), thalamus, dan cerebellum. Hal ini jelas menyatakan bahwa mekanisme penerimaan dan interpretasi antara psychological pain dan physical pain memiliki proses yang sangat mirip mengingat bagian otak yang bekerja untuk memproses kedua jenis rasa sakit ini kebanyakan sama.

Akan tetapi, ada perbedaan mekanisme penerimaan dan interpretasi otak antara psychological pain dan physical pain. Pada mekanisme penerimaan dan interpretasi physical pain, impuls tidak melewati bagian parahippocampal gyrus (PHCG). Parahippocampal gyrus (PHCG) yang bekerja ketika menerima psychological pain ini memiliki fungsi dalam proses memori terutama memori negatif dan cenderung untuk membangkitkan memori lama yang tersimpan di otak (Kilpatrick & Cahill, 2003, disitasi oleh Meerwijk, dkk, 2013). Oleh karena itu, terkadang kita bisa mengingat rasa sakit akibat perkataan atau perbuatan orang lain yang kurang mengenakkan kepada kita.

Lantas, sebenarnya lebih sakit mana antara psychological pain dan physical pain? Pada dasarnya, rasa sakit merupakan sebuah fenomena yang subjektif (Swieboda, 2013). Bisa jadi seorang individu tidak merasakan sakit yang sama dengan individu lain karena hal ini juga terkait dengan pengalaman dan proses memori seseorang. Namun perlu diingat sebagaimana yang sudah dijelaskan pada paragraf sebelumnya bahwa perbedaan mekanisme penerimaan dan interpretasi antara psychological pain dan physical pain ini berada pada bagian parahippocampal gyrus (PHCG) yang berfungsi dalam proses memori dan cenderung membangkitkan memori lama.

Ilustrasi pria tidur untuk atasi patah hati. Foto: Shutter Stock

Itulah mengapa, terkadang kita bisa mengingat rasa sakit karena perbuatan orang lain yang pernah kita rasakan dahulu. Berbeda dengan proses physical pain yang tidak menggunakan bagian otak ini sehingga rasa sakit yang diakibatkan oleh stimulus fisik tidak bisa dirasakan kembali setelah hilang, kecuali mereka menerima stimulus baru.

Jadi, kalau diminta untuk memilih rasa sakit karena sakit hati atau sakit gigi, lebih baik enggak memilih kedua-duanya, deh! Kalau sakit fisik, sakitnya keras, tapi cepat lupa. Kalau sakit emosi, sakitnya sedikit, tapi memorinya teringat sampai tua.

Daftar Pustaka

Ferris, L. J., Jetten, J., Hornsey, M. J., & Bastian, B. (2019). Feeling Hurt: Revisiting the Relationship Between Social and Physical Pain. Review of General Psychology, 23(3), 320–335. https://doi.org/10.1177/1089268019857936

Meerwijk, E. L., Ford, J. M., & Weiss, S. J. (2013). Brain regions associated with psychological pain: Implications for a neural network and its relationship to physical pain. Brain Imaging and Behavior, 7(1), 1–14. https://doi.org/10.1007/s11682-012-9179-y

Świeboda, P., Filip, R., Prystupa, A., Drozd, M. (2013). Assessment of pain: types, mechanism and treatment. Ann Agric Environ Med., 20(1), 2-7. http://www.aaem.pl/Assessment-of-pain-types-mechanism-and-treatment,106177,0,2.html#ungrouped