Mahasiswa MMD-1000D UB Bantu Redesain Tempat Wisata di Desa Sendang Tulungagung

An undergraduate student majoring in Psychology at Brawijaya University. Have a great desire to keep growing and never stop trying new things. My life's desire to bring about good changes around me. Instagram: @herdiasfalahi63
Tulisan dari Herdias Hayyal Falahi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desa Sendang, yang terletak di Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung merupakan salah satu desa wisata yang memenangkan penghargaan 300 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tahun 2022. Sebagai desa wisata, tentunya Desa Sendang memiliki berbagai macam destinasi wisata di dalamnya. Salah satu lokasi yang menjadi daya tarik di Desa Sendang adalah Cowindo. Cowindo dirintis pada tahun 2015 lalu dan dibuka pada tahun 2017. Berdasarkan pernyataan dari Suwarto, Kepala Desa Sendang sekaligus pengelola Cowindo, tempat wisata tersebut sempat berhasil menarik banyak pengunjung dengan rata-rata 3.000 pengunjung per minggunya. Namun, mengalami penurunan pengunjung pada tahun 2019 dan harus tutup total selama pandemi COVID-19 hingga saat ini.
Ketika mengunjungi Cowindo pada 10 Juli 2023, kondisi Cowindo terlihat kurang terawat. Dapat dilihat dari banyaknya tumbuhan liar yang menutupi sebagian besar lahan di Cowindo. Selain itu, bagian kolam renang, area outbond, dan kantin juga sudah terbengkalai. Beberapa lokasi di Cowindo juga masih kurang dalam tata ruang peletakan misalnya lokasi kantin yang berdekatan dengan edukasi biogas. Kondisi yang telah disebutkan tidak sesuai dengan standar kenyamanan pengunjung.
Melihat kondisi tersebut, salah satu peserta Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya kelompok 519 Desa Sendang yang bernama Shabrina Aisyah, dari program studi Desain Interior Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya, mengusulkan untuk melakukan redesain Cowindo dengan harapan dapat membuat Cowindo menjadi lebih tertata sesuai dengan kaidah estetika dan ergonomika.
“Sebagai mahasiswi program studi Desain Interior Universitas Brawijaya, melihat kondisi Cowindo yang sudah tidak terawat dikarenakan dampak pandemi COVID-19, saya berinisiatif untuk mengaplikasikan ilmu yang telah saya pelajari agar dapat membantu membangun Cowindo agar lebih memenuhi aspek estetika dan ergonomi,” ungkap mahasiswi asal Medan tersebut.
Tahap awal dari redesain Cowindo adalah melakukan survey tahap pertama ke Cowindo dengan melakukan observasi. Kemudian, pada survey tahap kedua observasi dilakukan dengan lebih mendetail serta mengumpulkan data-data yang relevan. Tahap ketiga adalah membuat kasaran denah secara manual. Selanjutnya adalah mencari referensi yang sekiranya dapat diterapkan pada redesain Cowindo. Terakhir, data-data yang sudah terkumpul disusun dan dilanjutkan dengan membuat denah digital.
Harapannya, redesain ini bisa menjadi referensi apabila Cowindo sudah siap untuk direnovasi. “Adanya program ini sangat membantu kami. Apabila dari kami sudah siap secara pendanaan, program ini bisa menjadi referensi dan acuan kami,” kata Bapak Suwarto sebagai pengelola tempat wisata Cowindo.
