Menuju Tahun Politik Pemilu 2024: Panduan Mindful bagi Pemilih Pemula

An undergraduate student majoring in Psychology at Brawijaya University. Have a great desire to keep growing and never stop trying new things. My life's desire to bring about good changes around me. Instagram: @herdiasfalahi63
Tulisan dari Herdias Hayyal Falahi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terhitung 2 bulan (sejak Desember 2023) lagi, Indonesia akan mengadakan pesta demokrasi 5 tahunan terbesar, yakni Pemilihan Umum (Pemilu) untuk memilih calon Presiden-Wakil Presiden, DPR dan DPD, serta kepala daerah dan DPRD di beberapa tempat. Walaupun peristiwa bersejarah ini baru akan dilaksanakan pada Februari 2024, namun euforianya sudah terasa sejak hari ini. Sayangnya, riuh rendah pemilu seringkali menjadi sumber konflik, baik konflik personal, konflik interpersonal, hingga konflik antar kelompok.
Lantas bagaimana kita sebagai pemilih, terutama pemilih pemula, harus bersikap? Politik kotor, polarisasi dan konflik tidak sehat harus dihindari dan dihilangkan dari pemilu 2024 demi mendapatkan jalannya pemilu yang khidmat, demokratis, dan pemenang pemilu merupakan pemimpin yang baik bagi Indonesia.
Mindfulness, sadar penuh hadir utuh (Silarus, 2015), merupakan sebuah pendekatan psikologi yang bisa dipraktikkan untuk menghadapi situasi politik 2024. Mindfulness didefinisikan sebagai remember of attention and awareness, proses atau keadaan di mana seseorang terus sadar dan mengatensikan kondisi masa kini, tidak menghakimi, tidak mengelaborasikan, dan hanya menyadari serta menerima pikiran, perasaan, atau sensasi yang muncul (Kabat-Zinn, 1990; Shapiro & Schwartz, 1999; Segal et al., 2002). Kaitannya dengan permasalahan ini, penelitian menyebutkan banyak efek positif dari mindfulness terhadap sikap politik seseorang.
Manusia dan Pilihan Emosionalnya
Dalam pengambilan keputusan, seringkali manusia lebih mudah mengikuti sisi emosionalnya dibanding rasionalitasnya secara tidak sadar. Pengambilan keputusan seperti ini di dalam psikologi disebut dengan Affect Heuristic, yakni bagaimana seringkali kita mengambil keputusan berdasarkan emosi-afek atau perasaan secara cepat dibanding dengan keputusan berdasarkan informasi konkret (Kahneman, 2011). Seseorang lebih mudah membuat judgment dan pilihan dengan merujuk pada emosi mereka, seperti “apakah aku suka?”, “apakah aku benci?”, atau “bagaimana perasaanku mengenai hal itu?”, tanpa menyadari dan mengetahui mengapa melakukan itu, sehingga pilihannya menjadi bias.
Konteksnya dengan pemilu sebagai “ajang decision making tersebesar di Indonesia”, jangan sampai apa yang kita pilih dan lakukan hanya disebabkan oleh efek perasaan secara total. Termasuk dalam memilih calon presiden dan wakil presiden, memilih untuk membagikan informasi mengenai pemilu, memilih untuk mengomentari sesuatu terkait pemilu di media sosial, dan sebagainya.
Maka peran mindfulness di konteks ini bermanfaat dalam memberikan awareness dan jeda pada mind kita agar kita tidak terburu-buru dan reaktif melabeli sesuatu dengan perasaan tertentu, seperti senang maupun benci, secara cepat sehingga membuat kita mengambil keputusan dan tindakan konyol.
Sebelum bertindak, kita bisa menanyakan pada diri sendiri, apakah pilihan kita sudah tepat? apa implikasi dari pilihan kita? Sehingga, pilihan yang berujung tindakan tersebut akan lebih bisa rasional dan tidak berujung penyesalan. Apalagi dalam pemilu, implikasi dari pilihan kita adalah kondisi dan stabilitas negara.
Hasil penelitian menjelaskan bahwa latihan mindfulness dapat meningkatkan kemampuan metakognisi untuk memandang berbagai perspektif dan mengurangi reaktivitas emosional sehingga pilihan bisa menjadi lebih objektif dan tidak bias (Bristow, 2018).
Menghadapi Polarisasi dan Konflik
Masih tentang suka dan tidak suka, pilihan politik seringkali membuat kita terpecah belah. Riset oleh Otto Simonson, dkk mencoba menggali fenomena Affect Polarization—perbedaan perasaan dan persepsi mengenai in-group dan out-group dalam politik—dengan mindfulness. Kasus affect polarization yang diangkat adalah mengenai perdebatan politik, apakah United Kingdom perlu untuk bertahan atau keluar dari European United (Brexit), yang menghasilkan dua sikap politik yang berseberangan, setuju dan tidak setuju, sehingga memunculkan perbedaan perasaan dan persepsi antar kelompok yang rawan konflik.
Secara acak, subjek dibedakan menjadi dua kelompok, yakni kelompok yang diberikan pelatihan mindfulness selama 8 minggu dan kelompok kontrol. Hasilnya, kelompok dengan pelatihan mindfulness selama 8 minggu menunjukkan penurunan signifikan secara bertahap dalam affect polarization dan intergroup bias (Simonson, dkk., 2022).
Implikasinya, mindfulness membuat seseorang lebih memahami dan sadar dengan perbedaan yang ada sehingga memiliki regulasi diri yang baik di situasi perbedaan, lebih terbuka, dan menghargai perbedaan (Bristow, 2018).
Menerapkan Mindfulness
Agaknya, mindfulness perlu untuk diterapkan di dalam perilaku berpolitik menjelang 2024. Mindfulness dapat memberikan kesadaran (awareness) terhadap tindakan-tindakan serta pilihan dalam berpolitik. Tindakan-tindakan yang tidak dilandasi dengan kesadaran seringkali keliru, konyol, bahkan berbahaya bagi diri sendiri maupun orang lain. Termasuk bias dalam memilih dan bertindak, serta terpolarisasi dalam politik yang perlu disadari dampak yang akan datang setelahnya.
Dr. Jon Kabat-Zinn—pelopor terapi berbasis mindfulness—mengatakan setidaknya ada 5 aspek yang harus disadari dan dilakukan dalam pengembangan mindfulness pada kehidupan sehari-hari, yakni:
Memberikan atensi (awareness), terhadap hal-hal yang penting dari diri sendiri. Seperti perasaan dan pemikiran diri kita.
Berada di moment kini, memfokuskan atensi pada momen dan realitas saat ini seapa adanya.
Tidak reaktif, tidak buru-buru mengikuti seluruh perasaan kita. Termasuk mengikuti perasaan dalam memilih dan menaggapi perilaku orang lain
Tidak judgmental, tidak buru-buru menghakimi sesuatu sebagai baik, suka, menyenangkan atau buruk, benci, menyedihkan.
Terbuka, memberikan empati, penghargaan, dan penerimaan bahkan kepada orang yang berseberangan dengan kita.
Penutup
Pilihan adalah sebuah keniscayaan. Emosi-afek diberikan sebagai bekal survival untuk memudahkan kehidupan manusia, namun seringkali menjadi penghalang untuk memilih dan bertindak secara objektif dan tidak bias. Maka mindfulness dapat digunakan untuk mengurangi kontribusi emosi-afek dalam pilihan dan tindakan, terutama dalam konteks pemilu untuk mendapatkan hasil pemilu yang maksimal.
Referensi
Alidina, S. (2010). Mindfulness for dummies. John Wiley & Sons.
Bristow, J. (2018). Mindfulness in politics and public policy. Current Opinion in Psychology, 28, 87-91. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2018.11.003
Kabat-Zinn, J. (1990). Full Catastrophe Living, Using the Wisdom of Your Body and Mind to Face Stress, Pain, and Illness. Bantam Dell.
Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast, and Slow. Penguin Books.
Segal, Z. V., Williams, J. M. G., & Teasdale, J. D. (2002). Mindfulness-based cognitive therapy for depression: A new approach to preventing relapse. Guilford Press.
Shapiro, S. L., & Schwartz, G. E. R. (1999). Intentional systemic mindfulness: an integrative model for self-regulation and health. Advances in Mind-Body Medicine, 15, 128-134. https://doi.org/10.1054/ambm.1999.0118
Silarus, A. (2015). Sadar Penuh, Hadir Utuh. TransMedia Pustaka.
Simonsson, O., Bazin, O., Fisher, S.D. et al. (2022). Effects of an 8-Week Mindfulness Course on Affective Polarization. Mindfulness, 13, 474–483. https://doi.org/10.1007/s12671-021-01808-0
Ramstetter, L. (2021). The Political Consequences of Be(com)ing Mindful, How Mindfulness Might Affect Political Attitudes. Frontiers in Political Science. 3. https://doi.org/10.1007/s12671-021-01808-0
