Konten dari Pengguna

Saatnya Kebijakan Pajak Berpihak pada Generasi Muda yang Mulai Bekerja

Devi herdiyanti

Devi herdiyanti

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Devi herdiyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Generasi Z kini mulai memenuhi pasar kerja Indonesia. Mereka pekerja kantoran, freelancer, content creator, barista, sampai pegawai kontrak. Mereka kreatif dan produktif, tapi seringkali berhadapan dengan sistem pajak yang terasa tidak mengikuti ritme hidup mereka yang serba cepat.

Bukan soal beratnya pajak, tapi minimnya panduan yang mudah dipahami. Edukasi pajak masih terasa jauh dari keseharian anak muda. Alurnya panjang, istilahnya teknis, dan prosesnya sering membuat orang memilih menunda sampai detik terakhir—atau bahkan tidak melapor sama sekali.

Padahal, kepatuhan pajak tidak akan terbangun dari rasa takut. Ia terbentuk dari pemahaman.

Kita tidak bisa berharap penerimaan negara meningkat jika generasi muda yang baru belajar bekerja justru merasa sistem pajak tidak ramah bagi mereka. Kebijakan pajak seharusnya mampu mengikuti dinamika sosial hari ini: pekerjaan yang fleksibel, penghasilan yang tidak selalu stabil, dan gaya hidup digital yang ingin semuanya serba cepat dan jelas.

Bayangkan jika:

— Ada simulasi pajak sederhana khusus pemula.

— Lapor pajak cukup lewat satu aplikasi tanpa banyak langkah membingungkan.

— Istilah teknis dibuat lebih manusiawi.

— Konten edukasi pajak hadir di tempat yang paling sering dikunjungi anak muda—bukan hanya laman resmi yang kaku.

Pajak bukan hal yang sulit. Hanya cara penyampaian kita yang selama ini terlalu jauh dari keseharian generasi muda.

Generasi Z tidak menolak membayar pajak. Mereka hanya ingin dilibatkan, dijelaskan, dan diperlakukan sebagai bagian dari masa depan negara—bukan sebagai objek kewajiban yang harus mengerti sendiri.

Jika pemerintah serius ingin memperkuat penerimaan pajak, langkah awalnya sederhana: buat kebijakan yang berpihak pada mereka yang baru mulai bekerja. Permudah akses, sederhanakan proses, dan hadirkan transparansi.

Karena ketika anak muda merasa sistem pajak berpihak pada mereka, mereka tidak hanya patuh. Mereka percaya.

Dan kepercayaan itulah yang akan menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan pajak negara di masa mendatang.

Generasi muda adalah aset terbesar Indonesia hari ini. Sudah saatnya kebijakan pajak membuat mereka merasa dihargai, bukan dibebani. Pajak tidak semestinya terasa menakutkan—ia bisa menjadi bentuk

kontribusi yang membuat kami bangga menjadi bagian dari negara ini.

Dan semua itu dimulai dari satu hal: keberpihakan.

Ilustrasi generasi muda menghadapi dokumen pajak. (Sumber: ChatGPT, OpenAI Image Generator, 2025)