Menguatkan Nyala Pelayanan Guru PERSINK Paroki Karawaci

S1 Matematika Universitas Negeri Yogyakarta, S2 Manajemen Universitas Sanata Dharma, Pendidik di Perkumpulan Strada
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Heribertus Erwin Dwi P tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana Minggu pagi, 6 September 2026, di SD Strada Slamet Riyadi terasa berbeda dari biasanya. Di salah satu ruang kelas yang dipersiapkan khsuus menjadi tempat yang tenang dan penuh kehangatan, berkumpul guru-guru PERSINK Paroki Karawaci, Gereja Santo Agustinus. Mereka datang dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, SMA, hingga SMK. Kehadiran mereka bukan untuk menghadiri rapat rutin atau pelatihan administratif, melainkan untuk melangkah dan berhenti sejenak dari hiruk-piruk rutinitas mengajar demi mengikuti kegiatan Rekoleksi Guru PERSINK.
Mengusung tema "Menjadi Garam dan Terang di Tengah Dunia", rekoleksi ini dirancang sebagai ruang jeda yang sangat berharga. Bagi seorang guru PERSINK, mengajar agama Katolik bukanlah tugas dan perkara yang mudah. Mereka sering kali menghadapi berbagai tantangan unik, mulai dari keterbatasan sarana, antusiasme dan jumlah siswa Katolik yang sedikit di dalam kelas, hingga dinamika lingkungan sosial yang sangat beragam. Oleh karena itu, kegiatan ini hadir membawa empat tujuan utama: pembaruan semangat pelayanan, penguatan iman dan spiritualitas pribadi, pemahaman serta implementasi peran sebagai garam dan terang, serta penguatan jejaring dan persaudaraan di antara sesama guru PERSINK.
Pembukaan yang Membakar Semangat
Acara diawali secara resmi oleh Koordinator Bidang Pelayanan Paroki Karawaci, Bapak Sujana. Dalam sambutan pembukanya, beliau menyampaikan apresiasi yang mendalam atas dedikasi dan pengorbanan para guru PERSINK yang tanpa lelah mengawal pendidikan iman anak-anak Katolik bagi anak-anak yang sekolah negeri dan non-Katolik.
Bapak Sujana menegaskan bahwa keberadaan para guru ini adalah perpanjangan tangan gereja yang sangat krusial. Sekolah umum adalah ladang misi yang nyata, dan para guru PERSINK adalah para penuai yang diutus langsung ke tengah masyarakat yang majemuk.
Refleksi Mendalam Bersama Fasilitator
Memasuki sesi inti, kegiatan dipandu oleh Bapak Vincensius Septa Karunia, M.Fil., seorang fasilitator yang berpengalaman dan memiliki kedalaman pemikiran filsafat serta spiritualitas. Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, hangat, dan mudah dipahami, beliau mengajak para peserta untuk mendalami makna bacaan Kitab Suci dari Injil Matius 5:13-16.
Bapak Vincensius mengajak para guru berefleksi tentang sifat dasar dari garam dan terang:
• Garam yang Memberi Rasa dan Mencegah Pembusukan: Garam tidak pernah menonjolkan dirinya sendiri, tetapi kehadirannya membuat setiap masakan menjadi nikmat. Sifat garam yang melarut dan menyatu mengisyaratkan bahwa guru PERSINK diajak untuk mampu beradaptasi, membawa kedamaian, serta menjaga nilai-nilai kebaikan di lingkungan sekolah tempat mereka bertugas.
• Terang yang Menghalau Kegelapan: Terang tidak ditaruh di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian agar memberi cahaya bagi semua orang di dalam rumah. Guru PERSINK dipanggil untuk memancarkan teladan hidup, kejujuran, kasih, dan keteguhan iman yang dapat dilihat serta dirasakan langsung oleh rekan sejawat maupun para siswa.
Sesi ini tidak berjalan satu arah. Bapak Vincensius memandu dinamika kelompok dan diskusi interaktif, di mana para guru diberikan kesempatan untuk sharing dan membagikan kisah perjuangan, pengalaman manis, hingga rasa lelah yang kerap menghampiri selama melayani. Suasana haru dan saling menguatkan begitu terasa ketika satu per satu guru mengungkapkan betapa sapaan Tuhan sering kali hadir justru di saat-saat paling sulit dalam tugas pengajaran mereka.
Dampak Nyata: Memperbarui Semangat dan Menguatkan Persaudaraan
Melalui rangkaian proses refleksi pribadi, diskusi kelompok, dan doa bersama, empat tujuan utama dari kegiatan ini berhasil dihidupi secara nyata oleh para peserta:
1. Pembaruan Semangat Pelayanan: Membantu para guru PERSINK untuk menyegarkan kembali motivasi dasar dan rasa bangga atas panggilan hidup sebagai pendidik iman Katolik.
2. Penguatan Iman dan Spiritual: Menyediakan ruang hening, doa, dan refleksi mendalam guna mempererat hubungan pribadi para guru dengan Tuhan.
3. Implementasi Peran Garam dan Terang: Mendorong para guru agar mampu menjadi agen kebaikan, toleransi, dan keteladanan moral di lingkungan sekolah non-Katolik dan masyarakat luas.
4. Penguatan Jejaring Sesama Guru: Mempererat persaudaraan dan saling mendukung antar sesama guru PERSINK dalam menghadapi tantangan pelayanan harian.
Melangkah Kembali ke Ladang Pelayanan
Kegiatan rekoleksi ditutup dengan komitmen bersama dan ibadat penutup yang penuh khidmat. Raut wajah lelah yang tampak di awal acara kini berganti dengan senyuman hangat dan binar mata yang penuh optimisme.
Ketika para guru PERSINK ini melangkah keluar dari SD Strada Slamet Riyadi untuk kembali bersemangat menjadi guru PERSINK, mereka tidak lagi membawa beban yang sama. Mereka membawa pulang "garam" kebijaksanaan dan "terang" kasih Kristus yang siap dibagikan kepada setiap anak didik dan rekan kerja di luar sana. Dari Paroki Karawaci, nyala api pelayanan itu kini kembali berpendar, siap menerangi setiap sudut ruang kelas di mana pun mereka diutus.
