PAPEDIK Paroki Karawaci: Bangga Menjadi Anak Katolik

S1 Matematika Universitas Negeri Yogyakarta, S2 Manajemen Universitas Sanata Dharma, Pendidik di Perkumpulan Strada
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Heribertus Erwin Dwi P tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Karawaci, 19 April 2026 – Sebanyak 122 peserta dari Paguyuban Peserta Didik (PAPEDIK) Paroki Karawaci, Gereja Santo Agustinus Tangerang mengikuti pertemuan akbar Sesi 1 yang digelar di SD Strada Slamet Riyadi 1. Mengusung tema penuh semangat "Aku Papedik, Aku Bangga Menjadi Anak Katolik", kegiatan ini menjadi momen penting bagi anak-anak Katolik yang bersekolah di sekolah yang tidak mendapatkan pelajaran agama Katolik untuk semakin percaya diri, bangga akan identitas imannya, serta siap menjadi garam dan terang dunia di mana pun mereka berada. Kegiatan ini juga dirancang bukan hanya sebagai transfer ilmu (kognitif), melainkan sebagai pengalaman perjumpaan yang menyenangkan dengan tradisi Gereja. Dengan memahami apa yang mereka yakini, diharapkan tumbuh rasa percaya diri dan kebanggaan dalam mempraktikkan iman Katolik di kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Kegiatan ini mempunyai 5 (lima) tujuan yaitu: (1) menumbuhkan rasa bangga dan mempererat identitas; (2) pendalaman katekis sederhana; (3) edukasi literasi liturgis; (4) pengembangan kehidupan doa; dan (5) membangun komunitas (paguyuban).

Antusiasme Luar Biasa dari SD Kelas 1 hingga SMA/K Kelas 12
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 10.30 hingga 15.00 WIB ini diikuti oleh peserta dari jenjang kelas 1 SD sampai dengan kelas 12 SMA/SMK. Keberagaman usia ini justru menjadi kekayaan tersendiri, karena kakak dan adik dalam iman saling belajar dan menguatkan. Para pendamping PAPEDIK dari juga turut hadir mendampingi dengan penuh sukacita.
Pertemuan dimulai dengan doa pembukaan dan dilanjutkan dengan dinamika kelompok, materi dari pendamping PAPEDIK yang dibagi ke dalam 3 kelompok yaitu SD kelas 1-3, SD kelas 4-6, dan jenjang SMP/A/K. Di dalam kegiatan di kelompoknya masing-masing anak-anak diingatkan Kembali tentang bagaimana menjaga iman ketika di sekolah yang tidak ada guru agama Katolik. Bahkan kelompok SD diajak langsung ke gereja dan mengenal alat-alat misa dimana kesempatan ini sangat langka dan spesial bagi anak-anak.
Kegiatan diakhiri dengan misa kudus yang dipersembahkan secara khusus untuk seluruh peserta PAPEDIK. Dalam homilinya, Romo Bonifasius Haryo Tejo Bawono, OSC., menegaskan bahwa menjadi anak Katolik di tengah lingkungan yang tidak menyediakan pendidikan agama Katolik bukanlah kekurangan, melainkan panggilan istimewa. Harapan Romo adalah di sekolahnya masing-masing tidak hanya pintar secara hati namun juga secara otak dan berani menunjukkan identitasnya sebagai anak katolik.
"Kalian adalah garam dan terang. Kalian kecil jumlahnya, tetapi dampaknya besar. PAPEDIK hadir agar kalian tidak sendirian. Bersama PAPEDIK, iman kalian akan bertumbuh dan menguat" ujar Romo Tejo.
PAPEDIK: Penting bagi Anak Katolik di Sekolah Umum
Kegiatan ini kembali mengingatkan kita semua akan urgensi PAPEDIK bagi anak-anak Katolik yang bersekolah di tempat tanpa pelajaran agama Katolik. Di sekolah-sekolah tersebut, anak-anak tidak mendapatkan pembinaan iman secara formal. PAPEDIK hadir untuk mengisi kekosongan itu. Melalui pertemuan rutin, pendampingan, rekoleksi, dan kegiatan seperti ini, PAPEDIK menjadi:
• Sekolah iman kedua setelah keluarga.
• Rumah persaudaraan tempat anak-anak merasa diterima dan diperkuat.
• Benteng moral yang melindungi mereka dari pengaruh negatif lingkungan.
Harapan besarnya adalah dengan PAPEDIK, iman sebagai anak Katolik semakin kuat, tidak mudah goyah, dan justru bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa dalam iman.
Kegiatan pertemuan PAPEDIK di Paroki Karawaci ini berjalan lancar, aman, dan penuh sukacita. Panitia mengucapkan terima kasih kepada para orang tua, pendamping, Romo paroki, serta seluruh pihak yang telah mendukung.
Harapan ke depan, PAPEDIK di wilayah Paroki Karawaci Tangerang dapat terus berkembang, menjangkau lebih banyak anak Katolik di sekolah umum, serta rutin mengadakan kegiatan pembinaan iman yang kreatif dan menyenangkan. Karena dengan PAPEDIK yang kuat, iman anak Katolik akan semakin kuat, dan mereka akan sungguh menjadi garam yang memberi rasa serta terang yang menerangi di tengah dunia.
