Pro Kontra Bank Sampah Kampung Notoprajan yang Jarang Diketahui

Saya adalah seorang mahasiswa dan saat ini sedang menjalankan studi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Saya memasuki jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2021. Saat ini saya tertarik dalam menulis karya untuk menginspirasi orang lain.
Tulisan dari Herlinda Wisnandya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Permasalahan sampah hingga saat ini tidak ada habisnya. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) rata-rata sampah mencapai 175.000 ton per hari yang dihasilkan oleh masyarakat Indonesia. Upaya tersebut dilakukan demi menanggulangi kelonjakan produksi sampah. Melihat permasalahan tersebut diperlukan kegiatan yang bisa menanggulangi dan meminimalisir sampah.
Di Kampung Notoprajan tepatnya berada di Balai RW 06, mengadakan kegiatan bank sampah yang dilaksanakan setiap hari Minggu pagi pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Pada tanggal 8/11/22 saya mengunjungi Balai RW 06, Notoprajan untuk melakukan observasi terkait diadakannya kegiatan bank sampah ini. Bank sampah di Kampung Notoprajan sudah lama diadakan dari tahun 2019 hingga saat ini.
Peran bank sampah merupakan sistem pengelolaan sampah yang secara kolektif dapat mempunyai nilai ekonomi setelah melalui proses produksinya. Tahapannya mulai dari penampungan, pemilahan, kemudian menyalurkan sampah ke pasar sehingga mempunyai nilai ekonomi dari menabung sampah tersebut.
Kegiatan bank sampah diselenggarakan oleh Kelompok Pemberdayaan dan Kesejateraan Keluarga (PKK) Kampung Notoprajan, Ngampilan, Yogyakarta. Kegiatan tersebut ditegakkan guna untuk berkontribusi dalam meminimalisir hasil sampah dari kampung tersebut. Akan tetapi, kegiatan bank sampah menimbulkan pro kontra dari warga sekitar.
"Tempat bank sampahnya sendiri terbatas jadi mengganggu akses keluar masuk kendaraan apalagi kalau ada yang pakai mobil," ujar salah satu warga. Kapasitas bank sampah yang masih kurang memadai menjadi penyebab menumpuknya sampah sehingga warga sekitar terganggu.
Disamping itu, ada juga warga yang antusias dalam kegiatan bank sampah. Ia rasa dengan adanya kegiatan tersebut dapat mengurangi polusi udara yang disebabkan oleh pembakaran sampah.
"Di bank sampah ini kegiatan awalnya ngumpulin sampah dari rumah warga sekalian dipilah, nanti sampah-sampah yang masih layak dijual diambil oleh pengepul kemudian disalurkan ke pasar, hasil jualnya masuk ke kas PKK," ucap Shinta, Ketua PKK Notoprajan. Proses pengumpulan sampah sendiri biasanya dilakukan oleh pengurus PKK dibantu oleh pemuda dan warga setempat.
Kegiatan tersebut pernah diapresiasi oleh Lurah Notroprajan karena pengurus di dalamnya yang aktif penuh dengan semangat menyusun dan mengkoordinasikan program-program bank sampah. Kegiatan ini sangat mengedukasi dan mengajak masyarakat mengelola sampah baik sampah organik maupun non organik dengan tetap menjaga kebersihan lingkungan, kesehatan wilayah serta memberikan manfaat ekonomi bagi anggota bank sampah.
Pengurus PKK juga menyampaikan harapannya agar balai yang menjadi tempat pengumpulan sampah dapat diperluas sehingga dapat menampung sampah dari warga setempat. Mereka juga berharap kegiatan ini dapat dilaksanakan secara terus menerus agar dapat menampung dan mengelola sampah secara efektif. Selain itu, kegiatan bank sampah bisa diterima oleh semua warga di Kampung Notoprajan dan pro kontra yang diakibatkan oleh bank sampah dapat ditangani dengan baik.
Menurut saya, kegiatan ini guna untuk melestarikan lingkungan dan menciptakan keadaan lingkungan yang asri tanpa sampah yang berserakan. Evaluasi pada kegiatan ini harus segera diperbaiki karena jika berjalan dengan stabil dan tanpa adanya kontra, dapat menegakkan kegiatan yang positif dan berdampak yang baik bagi lingkungan serta kenyamanan masyarakat setempat.
