Hijrah Digital: Menjemput Kembali Kejayaan Peradaban Islam di Tahun Baru Hijriah

Guru Pendidikan Agama Islam SMAN 21 Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Suherman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali kalender Hijriah berganti, ingatan kita selalu dibawa kembali pada peristiwa agung: hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa ini bukan sekadar kisah perjalanan fisik, melainkan titik balik sebuah peradaban. Dari sebuah kota kecil di gurun pasir, Islam bergerak membangun tatanan sosial, keilmuan, dan kebudayaan yang nantinya menerangi dunia selama berabad-abad.
Namun, di era modern ini, sudahkah kita benar-benar memaknai ruh hijrah tersebut?
Jika dulu umat Islam berhijrah untuk mempertahankan keimanan dan membangun kekuatan ekonomi serta sosial, maka di abad ke-21 ini, salah satu medan hijrah terbesar kita adalah dunia digital. Saatnya umat Islam melakukan "Hijrah Digital"—berpindah dari sekadar menjadi konsumen teknologi yang pasif, menjadi produsen ilmu pengetahuan yang aktif.
Belajar dari Golden Age (Zaman Keemasan Islam)
Ada masa di mana dunia berutang budi pada ilmuwan-ilmuwan Muslim. Ketika Eropa berada dalam Abad Kegelapan, dunia Islam justru mengalami Golden Age (Zaman Keemasan). Kita mengenal Al-Khwarizmi, sang penemu aljabar dan peletak dasar algoritma—yang ironisnya, hari ini algoritma itulah yang menggerakkan seluruh media sosial dan kecerdasan buatan (AI) yang kita gunakan sehari-hari. Kita juga memiliki Ibnu Sina di bidang kedokteran, dan Al-Idrisi di bidang geografi.
Apa rahasia kemajuan mereka saat itu? Mereka menguasai media dan teknologi di zamannya.
Ketika teknologi kertas mulai masuk ke dunia Islam dari Tiongkok pada abad ke-8, umat Muslim tidak mengabaikannya. Mereka langsung membangun pabrik kertas di Baghdad, menyalin ribuan buku, dan mendirikan Baitul Hikmah (pusat penerjemahan dan perpustakaan raksasa). Penguasaan atas "teknologi informasi" zaman itulah yang membuat keilmuan Islam melesat dan memimpin peradaban.
Tantangan Umat Hari Ini: Melek Digital
Hari ini, teknologi digital adalah "kertas modern" kita. Internet, kecerdasan buatan, data raya (big data), dan media sosial adalah sarana baru untuk menyebarkan informasi. Sayangnya, kita sering kali tertinggal dan hanya menjadi pengguna. Lebih prihatin lagi, ruang digital kita masih sering dipenuhi oleh berita bohong (hoax), debat kusir yang memecah belah, dan konten-konten yang kurang produktif.
Jika kita ingin menghidupkan kembali kejayaan masa lalu, umat Islam—terutama generasi mudanya—harus melek digital dalam arti yang bervisi luas:
Digital untuk Menuntut Ilmu (Literasi): Internet menyediakan akses ke perpustakaan digital, jurnal ilmiah, dan kursus gratis dari seluruh dunia. Seorang Muslim yang memanfaatkan teknologi untuk belajar astronomi, coding, ekonomi, hingga sains harian, sedang menjalankan esensi dari perintah "Iqra" (Bacalah).
Digital untuk Dakwah dan Edukasi: Kita butuh lebih banyak kreator konten Muslim yang menyebarkan kedamaian, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai luhur Islam dengan cara yang kreatif, estetis, dan berbasis data.
Digital untuk Kemandirian Ekonomi: Menguasai teknologi berarti membuka peluang menciptakan lapangan kerja baru, mulai dari teknologi finansial syariah, e-commerce, hingga solusi digital untuk kemaslahatan umat (seperti aplikasi pengelolaan zakat dan wakaf yang transparan).
Menjadikan Tahun Baru sebagai Momentum
Momentum Tahun Baru Islam ini adalah alarm bagi kita semua. Jangan biarkan pergantian tahun hanya lewat sebagai ritual seremonial belaka.
Sebagai umat Islam, kita tidak boleh alergi terhadap teknologi. Sebaliknya, kita harus menjinakkan teknologi untuk tunduk pada nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Ketika laptop, ponsel, dan kuota internet kita gunakan untuk menggali ilmu dan membangun peradaban, maka setiap ketukan jemari kita di atas layar digital bernilai ibadah dan perjuangan.
Mari kita songsong tahun baru ini dengan semangat baru. Mari kita didik anak-anak kita, siswa-siswi kita, agar tidak hanya mahir bermain game atau berselancar di media sosial, tetapi juga mampu menciptakan teknologi yang bermanfaat bagi alam semesta (Rahmatan lil 'Alamin).
Dulu kita pernah memimpin dunia dengan ilmu pengetahuan. Hari ini, lewat pintu gerbang digital, kesempatan itu kembali terbuka lebar. Saatnya kita berhijrah, saatnya kita melek digital, demi kejayaan ilmu dan peradaban Islam yang mulia.
Selamat Tahun Baru Islam 1448 H. Masa lalu adalah pelajaran dan hari esok adalah perjuangan. Saatnya umat Islam bersatu, mengikis perbedaan, dan fokus menjadi pelopor kebaikan bagi dunia dan peradaban.
