Konten dari Pengguna

Mengulik Sejarah Kelenteng Sam Poo Kong, Tempat Singgah Laksamana Cheng Ho

Hernadia Putri

Hernadia Putri

Seorang mahasiswa Sastra Inggris Universitas Brawijaya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hernadia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kelenteng Sam Poo Kong, Semarang, (04/05/2022), Foto: Hernadia Putri/Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Kelenteng Sam Poo Kong, Semarang, (04/05/2022), Foto: Hernadia Putri/Penulis

Dibuka ketika ufuk timur mulai menampakkan sinarnya hingga kembali bersembunyi di ufuk barat, Kelenteng Sam Poo Kong dengan segala sejarah dan daya tariknya, selalu tidak luput dari kunjungan para wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia. Bangunannya yang kental dengan arsitektur khas budaya Tionghoa seperti ornamen merah, ukiran naga, patung dewa - dewi terlihat menghiasi area Kelenteng Sam Poo Kong.

Arsitektur khas Tionghoa di Kelenteng Sam Poo Kong, Semarang, (04/05/2022). Foto: Hernadia Putri/Penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Arsitektur khas Tionghoa di Kelenteng Sam Poo Kong, Semarang, (04/05/2022). Foto: Hernadia Putri/Penulis.

Uniknya, Kelenteng yang terletak di Semarang ini memiliki daya tarik tersendiri, yaitu adanya patung perunggu Laksamana Cheng Ho setinggi 12 meter di dalam area kelenteng. Kelenteng Sam Poo Kong bukan sekadar tempat ibadah semata. Tetapi, bangunan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan Laksamana Cheng Ho di Tanah Jawa.

Para wisatawan berfoto di depan patung Laksamana Cheng Ho, (04/05/2022). Foto: Hernadia Putri/Penulis.

Area seluas kurang lebih 1000 meter persegi ini, dahulu merupakan jejak persinggahan Laksamana Cheng Ho, seorang penjelajah dunia terkenal asal Negeri Cina. Sejarah Sam Poo Kong dimulai ketika Kapal ekspedisi Laksamana Cheng Ho memutuskan untuk berhenti di pantai Simongan pada tahun 1416. Kapten kapal mereka, Wang Jing Hong, jatuh sakit dan membutuhkan perawatan segera. Sebuah gua batu menjadi tempat peristirahatan Cheng Ho dan juga untuk mengobati kondisi Wang Jing Hong. Sembari Wang tinggal di gua batu itu untuk beristirahat sepenuhnya, Laksamana Cheng Ho melanjutkan perjalanannya ke Timur untuk menyelesaikan misi perdamaian juga perdagangan keramik dan jamu.

Selama tinggal di Simongan, Wang Jing Hong memimpin anak buahnya untuk bertani, membangun rumah dan berinteraksi dengan penduduk setempat. Kegiatan perdagangan dan pertanian yang diprakarsai oleh Wang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi lokal.

Wang mendapatkan penghormatan, tetapi ia tidak pernah melupakan pemimpinnya. Pada 1417, Wang membangun patung Laksamana Cheng Ho di dalam gua batu, sehingga penduduk setempat dapat mengingat dan mengirimkan penghormatan kepadanya. Inilah asal mula Kelenteng Sam Poo Kong berdiri. Ketika Wang meninggal pada usia 87 tahun, ia dimakamkan di daerah sekitar dan penduduk setempat menyebut makamnya sebagai Makam Kyai Juru Mudi atau Makam Kapten Kapal yang hingga saat ini masih ada keberadaanya di dalam area kelenteng.

Seiring berkembangnya zaman, Kelenteng Sam Poo Kong telah menjalani berbagai pemugaran yang dilakukan oleh Yayasan Sam Poo Kong. Para wisatawan tanpa memandang latar agamanya, dapat memasuki area kelenteng dengan mengunjungi lima bangunan utamanya yaitu Kelenteng Utama Sam Poo Kong, Kelenteng pemujaan Dewa Bumi, Kelenteng makam Mbah Kyai Jurumudi, Kelenteng Mbah Kyai Jangkar, Klenteng Mbah Kyai Tumpeng dan Mbah Kyai Curudik Bumi. Pastinya, para wisatawan dihimbau untuk tetap menghargai pengunjung lain yang sedang beribadah.

Dibukanya Kelenteng Sam Poo Kong sebagai tempat wisata bersejarah dapat dijadikan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat Indonesia atas sejarah dinasti Tionghoa yang pernah mendarat di Ibu Pertiwi ini. Hidup berdampingan dengan berbagai macam etnis dan agama menjadikan Kelenteng Sam Poo Kong sebagai simbol toleransi atas umat beragama, sehingga tetap terjaga dan terjalin dengan baik.

Jadi, apakah teman - teman sudah siap berkunjung ke Kelenteng Sam Poo Kong?