Konten dari Pengguna

Legenda dan Sejarah Desa Keditan: Menghidupkan Warisan Leluhur Melalui Komik

Hernandez Trivano

Hernandez Trivano

Mahasiswa Universitas Diponegoro Angkatan 2021 Fakultas Sekolah Vokasi Jurusan Bahasa Asing Terapan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hernandez Trivano tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penyerahan Komik Berjudul "Legenda dan Sejarah Desa Keditan" Kepada Kepala Desa Keditan
zoom-in-whitePerbesar
Penyerahan Komik Berjudul "Legenda dan Sejarah Desa Keditan" Kepada Kepala Desa Keditan

Komik Mengungkap Kisah Heroik dan Perjalanan Sejarah Desa Keditan

Keditan, 08 Agustus 2024 – Desa Keditan, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang yang terletak di kaki Gunung Telomoyo kini telah memiliki sebuah komik yang menggambarkan perjalanan sejarah dan legenda yang telah lama diwariskan dari generasi ke generasi. Komik berjudul "Legenda dan Sejarah Desa Keditan" ini menghidupkan kembali kisah-kisah heroik para leluhur yang menjadi cikal bakal berdirinya desa tersebut. Komik ini sendiri dirancang oleh Mahasiswa dari Undip yang bernama Hernandez Trivano Hardwi Atmaja yang bekerja sama dengan teman satu tim KKN-nya yaitu Vava Azura. Mahasiswa tersebut merancang komik ini saat sedang menjalani Kegiata Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan tergabung dalam Tim II KKN Undip di Desa Keditan

Diceritakan dalam komik tersebut, Raden Kerduta, seorang pertapa sakti keturunan Raja Mataram Islam, pertama kali membuka jalan bagi manusia untuk menetap di wilayah yang sebelumnya merupakan hutan lebat dan angker. Kisah berlanjut dengan kedatangan Raden Panji Manggala, seorang pengembara dan pendekar, yang berhasil memulihkan kedamaian setelah terjadinya konflik berkepanjangan di masyarakat Gunung Telomoyo.

Peran penting lain yang diangkat dalam komik ini adalah Dewi Sekarwangi, seorang putri dari Kesultanan Cirebon yang melarikan diri dari kerajaan dan berguru kepada Raden Panji Manggala. Mereka akhirnya jatuh cinta dan menikah, dari pernikahan inilah lahir Raden Manggala Mayubuana, yang kemudian diangkat menjadi Senopati Perang Kerajaan Mataram dan menjadi tokoh sentral dalam pemindahan pusat pemerintahan ke Padepokan Kerduta, yang kemudian dikenal sebagai Desa Keditan.

Komik ini tidak hanya menceritakan tentang perjalanan heroik dan kepahlawanan, tetapi juga menggambarkan berbagai dinamika sosial dan politik yang terjadi selama masa penjajahan Belanda dan Jepang. Dalam salah satu bagian, komik ini memperlihatkan semangat juang masyarakat Keditan dalam melawan penjajah, hingga akhirnya desa ini memulai babak baru sebagai desa yang mandiri dan dipimpin oleh seorang kepala desa yang dipilih oleh masyarakat setelah kemerdekaan Indonesia.

Dibuat dengan gaya visual yang menarik, komik ini berhasil memadukan antara seni ilustrasi dengan narasi yang mendalam, membuatnya mudah dipahami oleh berbagai kalangan. "Legenda dan Sejarah Desa Keditan" tidak hanya menjadi bacaan yang menghibur, tetapi juga sarana edukasi yang memperkenalkan sejarah lokal kepada generasi muda.

Komik ini merupakan hasil karya Tim II KKN Undip Desa Keditan yang berupaya melestarikan dan mempopulerkan kisah-kisah warisan leluhur melalui media yang lebih modern dan dapat diakses oleh masyarakat luas. Diharapkan, komik ini dapat menginspirasi desa-desa lain untuk mengangkat sejarah dan legendanya masing-masing sehingga dapat dikenal lebih luas dan menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa.

Melalui penerbitan komik ini, Desa Keditan tidak hanya mempertahankan warisan budayanya, tetapi juga membuka peluang baru untuk pariwisata sejarah yang bisa menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat setempat.

Dengan adanya publikasi ini, diharapkan semakin banyak orang yang mengenal dan menghargai sejarah serta budaya yang dimiliki oleh Desa Keditan. Semangat juang, kebijaksanaan, dan kearifan lokal yang terkandung dalam komik ini menjadi contoh bagi generasi penerus untuk terus menjaga dan melestarikan warisan leluhur.

Komik "Legenda dan Sejarah Desa Keditan" kini menjadi bukti bahwa warisan budaya lokal dapat dikemas dalam bentuk yang lebih menarik dan relevan dengan zaman, tanpa mengurangi esensi dari nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.