Konten dari Pengguna

Ada Apa dengan Hari Pendidikan Nasional

Hery Setyawan

Hery Setyawan

Guru SMPN 42 Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hery Setyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Upacara Peringatan Hari Pendidikan nasional (dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Upacara Peringatan Hari Pendidikan nasional (dokumen pribadi)

Tulisan ini bukan ingin membandingkan bagaimana peringatan hari buruh internasional yang dilaksanakan sehari sebelum hari pendidikan nasional. Berbagai kegiatan dilaksanakan sehingga menambah meriah kegiatan tersebut. Hal tersebut berbanding terbalik dengan peringatan hari pendidikan nasional selain karena bertepatan dengan akhir pekan Hari pendidikan nasional kemarin tanpa kemeriahan.

Sebagai seorang guru hari pendidikan nasional hanya diperingati secara seremonial saja seperti upacara bendera, setiap guru dan siswa memakai pakaian adat kemudian mendengarka pidato yang dibacakan. Selanjutnya kami semua kembali kepada kegiatan rutinitas belajar mengajar. Bagi sebagian besar orang kegiatan hari pendidikan nasional hanya diungkapkan dengan upacara, poster dan berbagai ucapan yang di media sosial.

Padahal makna hari ini jauh lebih besar dari pada itu hari Pendidikan Nasional merupakan momen untuk melihat kembali arah pendidikan kita. Apakah pendidikan benar-benar telah membawa anak-anak Indonesia menuju masa depan yang lebih baik. Hari Pendidikan Nasional tidak bisa dilepaskan dari sosok Ki Hajar Dewantara.

Beliau mengajarkan bahwa pendidikan adalah usaha memanusiakan manusia. Pendidikan bukan hanya soal mengisi kepala dengan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan akal, karakter, dan kepekaan sosial. Sekolah seharusnya menjadi tempat anak belajar berpikir, belajar menghargai orang lain, dan belajar mengenal dirinya sendiri.

Kita memang patut bersyukur karena akses pendidikan semakin luas. Sekolah hadir di banyak tempat, teknologi mulai masuk ke ruang kelas, dan kesempatan belajar semakin terbuka. Namun di balik kemajuan itu, masih banyak persoalan yang perlu dibenahi. Di beberapa daerah, masih ada sekolah dengan ruang kelas yang rusak, fasilitas belajar yang terbatas, dan akses internet yang belum merata. Ada anak-anak yang masih harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk bisa belajar.

Kondisi itu menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya menghadirkan keadilan. Ketika satu anak belajar dengan perangkat digital yang lengkap, anak lain masih berjuang dengan buku yang terbatas. Ketika sebagian sekolah mampu bergerak cepat mengikuti perubahan zaman, sebagian yang lain masih tertinggal. Disisi lain peran guru tidak bisa diabaikan mereka merupakan jantung pendidikan. Dari tangan merekalah lahir generasi masa depan. Namun kenyataannya, banyak guru masih menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Padahal tugas mengajar bukan hanya menyampaikan materi. Mengajar adalah membangun hubungan, memahami karakter murid, dan menyalakan semangat belajar. Seorang guru yang hadir dengan hati sering kali lebih diingat daripada sekadar pelajaran yang ia sampaikan. Ketika kita berbicara tentang pendidikan, perhatian terhadap kesejahteraan dan ruang gerak guru menjadi hal yang sangat penting.

Hari Pendidikan Nasional mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya urusan sekolah. Keluarga, masyarakat, dan negara memiliki tanggung jawab yang sama. Anak-anak belajar bukan hanya dari buku, tetapi juga dari teladan yang mereka lihat setiap hari. Mereka belajar dari cara orang dewasa berbicara, bersikap, dan memperlakukan sesama.

Karena itu, peringatan Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi saat untuk bertanya dengan jujur. Sudahkah pendidikan kita benar-benar menumbuhkan manusia yang berpikir, peduli, dan berkarakter. Sudahkah sekolah menjadi tempat yang membahagiakan bagi anak-anak. Sejauh mana peran pemerintah dalam berkomitmen memajukan pendidikan.

Pada akhirnya hari Pendidikan Nasional bukan sekadar peringatan tahunan. Tetapi harus menjadi panggilan untuk terus memperbaiki. Sebab pendidikan bukan hanya tentang hari ini, melainkan tentang masa depan bangsa. Dan masa depan itu sedang tumbuh di ruang-ruang kelas, di tangan para guru, dan di mata anak-anak yang menyimpan harapan.