Kemana Arah Pendidikan Indonesia

Guru SMPN 42 Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hery Setyawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perayaan hari pendidikan nasional bagi guru merupakan momentum yang Istimewa. Berbagai kegiatan sudah dipersiapkan seperti berbagai perlombaan dan penghargaan siap diberikan untuk guru. Namun kita lupa bahwa Hari pendidikan nasional bukan sekadar seremoni tahunan saja. Mementun refleksi dengan sebuah pertanyaan mendasar mau dibawa kemana guru Indonesia saat ini. Pertanyaan tersebut menjadi sesuatu yang relevan dan sangat mendesak untuk dijawab dalam momentum hari pendidikan nasional saat ini.
Seperti yang kita ketahui bahwa guru merupakan bagian penting dalam pendidikan. Di tangan mereka masa depan generasi bangsa dipupuk dan diarahkan. Namun realitas di lapangan tidak seindah seperti yang kita harapkan. Guru tidak hanya dituntut untuk mengajar, target kurikulum yang berubah-ubah, hingga tuntutan adaptasi teknologi yang tidak selalu diiringi dengan pelatihan memadai. Dalam kondisi seperti ini, muncul pertanyaan mendasar: apakah guru masih memiliki ruang untuk benar-benar menjadi pendidik.
Di era digital peran guru mengalami pergeseran, sumber belajar tidak lagi menjadi barang langka yang hanya dimiliki oleh guru. Siswa dapat mengakses pengetahuan dengan mudah melalui internet. Namun disinilah peran guru menjadi semakin penting bukan lagi sebagai satu-satunya sumber informasi, melainkan sebagai penuntun, penyaring, dan pembimbing dalam memahami makna di balik informasi tersebut. Guru dituntut untuk tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak secara moral dan emosional.
Tetapi tidak semua guru mendapatkan dukungan yang cukup untuk menjalankan peran ini. Masih ada kesenjangan dalam kualitas pendidikan, terutama antara daerah perkotaan dan pedesaan. Masih ada guru yang harus berjuang dengan fasilitas minim, bahkan untuk kebutuhan dasar pembelajaran. Dalam situasi ini semangat mengajar sering kali menjadi satu-satunya modal yang dimiliki. Dan sampai kapan semangat saja cukup tanpa dukungan sistem yang kuat.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momen untuk tidak sekadar mengapresiasi guru secara simbolis, tetapi juga memperbaiki ekosistem pendidikan secara nyata. Guru membutuhkan ruang untuk berkembang, bukan hanya dituntut untuk terus menyesuaikan diri. Pelatihan yang berkelanjutan, kesejahteraan yang layak, serta kebijakan yang berpihak pada kualitas pembelajaran menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi.
Namun refleksi ini tidak hanya ditujukan kepada pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Hal yang penting guru sendiri juga perlu bertanya pada dirinya. Apakah kita masih mengajar dengan hati, apakah kita masih melihat siswa sebagai individu yang perlu dibimbing, bukan sekadar angka dalam laporan penilaian. Di tengah berbagai keterbatasan, profesionalisme dan integritas tetap menjadi pondasi utama yang tidak boleh goyah.
Mau kemana arah guru Indonesia adalah pertanyaan yang mudah namun jawabannya sangatlah sulit. Sebuah perjalanan kolektif yang melibatkan banyak pihak. Namun satu hal yang pasti, arah itu tidak boleh menjauh dari esensi pendidikan itu sendiri yaitu memanusiakan manusia.
Di tengah tantangan zaman, guru Indonesia diharapkan tidak kehilangan jati dirinya. Ia bukan sekadar pelaksana kurikulum, tetapi penjaga nilai-nilai. Ia bukan sekadar pekerja, tetapi penggerak peradaban. Dan pada akhirnya, masa depan pendidikan Indonesia sangat ditentukan oleh bagaimana kita hari ini memperlakukan dan memaknai peran guru.
Hari Pendidikan Nasional adalah pengingat bahwa perjuangan pendidikan belum selesai. Dan dalam perjalanan panjang itu, guru tetap menjadi kompas yang menentukan arah. Sebagai guru penulis mengajak kita semua untuk memastikan bahwa kompas itu tetap terjaga tajam, jernih, dan selalu menunjuk pada tujuan yang benar.
