Bahasa Gaul di Era Digital

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Progam Studi Pendidikan Bahasa Indonesia
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Hesti Dwi Prawesti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu menulis komentar “spill dong,” “relate banget,” atau “fix sih” saat melihat video di TikTok? Ungkapan tersebut merupakan contoh bahasa gaul di TikTok yang akrab bagi banyak pengguna, terutama anak muda. Bahasa gaul tidak lagi hanya muncul dalam percakapan bersama teman, tetapi juga memenuhi caption, kolom komentar, dan video pendek. Fenomena ini menunjukkan bahwa TikTok bukan sekadar tempat berbagi hiburan, melainkan juga ruang berkembangnya bahasa dalam komunikasi digital sehari-hari.
Perubahan tersebut menarik untuk diperhatikan karena bahasa selalu mengikuti kebutuhan penuturnya. Di TikTok, pesan perlu disampaikan dengan cepat, singkat, dan terasa dekat dengan penonton. Istilah seperti “FYP,” “POV,” “bucin,” “salting,” dan “healing” membantu pengguna menyampaikan maksud tanpa penjelasan panjang. Penelitian Sokawati dkk. (2025) menunjukkan bahwa interaksi di TikTok turut menghadirkan akronim dan singkatan baru serta mempercepat penyebaran bahasa gaul. Namun, makna suatu istilah tidak selalu dapat dipahami hanya dari katanya. Konteks video dan situasi percakapan ikut menentukan maksud yang disampaikan.
Bahasa yang Menyatukan Anak Muda
Salah satu alasan bahasa gaul mudah menyebar adalah kemampuannya membangun kedekatan. Ketika seseorang menulis “bestie,” “gaskeun,” atau “ngakak” di kolom komentar, suasana percakapan dapat terasa lebih santai dibandingkan dengan bahasa yang terlalu resmi. Istilah tertentu juga menjadi penanda bahwa pengguna memahami tren dan kebiasaan komunitas di TikTok. Ungkapan “YTTA,” misalnya, dipakai untuk merujuk pada pengalaman atau lelucon yang hanya dipahami orang tertentu. Dengan cara itu, bahasa gaul dapat menciptakan rasa kebersamaan di antara pengguna.
Selain menciptakan kedekatan, bahasa gaul membuat pesan terasa ringkas dan ekspresif. Kata “salting” dapat menggambarkan salah tingkah dalam situasi tertentu, sedangkan “red flag” digunakan untuk menandai perilaku yang dianggap perlu diwaspadai. Ungkapan “no debat” memberi kesan tegas, sementara “spill” sering dipakai untuk meminta informasi. Amalia dkk. (2025) menjelaskan bahwa variasi bahasa gaul di TikTok dapat berfungsi sebagai sarana ekspresi diri dan pembentuk ikatan komunitas digital. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa gaul bukan sekadar tren kata, tetapi juga cara pengguna membangun hubungan sosial.
TikTok turut mempercepat penyebaran istilah melalui video viral, audio populer, dan komentar yang terus ditiru. Sebuah ungkapan bisa bermula dari satu konten, kemudian digunakan oleh banyak akun dalam situasi berbeda. Pengulangan membuat istilah itu terasa akrab dan akhirnya terbawa ke percakapan sehari-hari, termasuk di lingkungan sekolah atau kampus. Pengguna bukan hanya menerima bahasa dari media sosial, melainkan juga ikut menyebarkan dan memberi warna baru pada pemakaiannya. Penyebaran tersebut membuat istilah tertentu semakin dikenal dan membantu pengguna merasa menjadi bagian dari komunitas yang sama.
Tantangan Berbahasa
Di balik kemudahan tersebut, penggunaan bahasa gaul juga menghadirkan tantangan. Tidak semua orang memahami istilah yang sama, terutama jika berasal dari kelompok usia, daerah, atau komunitas berbeda. Kata seperti “cooked” dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan yang sulit, sedangkan “aura points” dipakai secara humoris untuk menilai kesan keren seseorang. Tanpa konteks yang jelas, pembaca bisa salah menangkap maksudnya. Perbedaan pemahaman ini dapat menimbulkan kebingungan, bahkan membuat percakapan terasa eksklusif bagi orang yang tidak mengikuti tren tertentu di media sosial.
Tantangan lain muncul ketika bahasa gaul digunakan dalam situasi yang membutuhkan kejelasan dan kesopanan. Gaya bahasa yang cocok untuk komentar TikTok belum tentu sesuai untuk tugas kuliah, surat resmi, atau komunikasi dengan dosen. Singkatan seperti “TBH,” “NGL,” dan “BTW” mungkin mudah dipahami dalam percakapan daring, tetapi dapat mengganggu keterbacaan jika digunakan tanpa pertimbangan dalam tulisan akademik. Sofyaningrum dkk. (2024) membahas pentingnya upaya pemertahanan bahasa Indonesia di tengah perkembangan bahasa gaul, termasuk melalui pendidikan dan konten edukasi di media sosial. Karena itu, persoalannya bukan sekadar menggunakan atau menghindari bahasa gaul, melainkan memilih ragam bahasa sesuai tujuan dan situasi.
Pengguna juga perlu lebih kritis terhadap istilah yang sedang populer. Sebagian ungkapan dapat menjadi bahan candaan, tetapi dalam konteks tertentu bisa terasa merendahkan atau menyakiti orang lain. Sebutan dan komentar yang ramai digunakan tidak otomatis pantas untuk ditiru. Sebelum menggunakan istilah yang sedang viral, pengguna sebaiknya memeriksa maknanya dan mempertimbangkan siapa yang akan membaca atau mendengarnya. Jika suatu ungkapan berpotensi menyinggung orang lain, pilihan kata yang lebih netral dapat digunakan. Langkah sederhana ini membantu menjaga komunikasi tetap menyenangkan tanpa mengabaikan perasaan orang lain.
Bijak Memilih Kata
Bahasa gaul tidak perlu dipandang sebagai ancaman bagi bahasa Indonesia. Bahasa terus berkembang seiring perubahan kebutuhan penuturnya. Hal yang perlu diperkuat adalah kesadaran dalam memilih ragam bahasa. Anak muda dapat menggunakan istilah populer saat berbincang santai, lalu beralih ke bahasa Indonesia baku ketika menulis tugas, membuat laporan, atau menyampaikan informasi resmi. Kemampuan berpindah ragam menunjukkan bahwa seseorang memahami fungsi bahasa, bukan sekadar mengikuti tren yang sedang ramai di media sosial.
Melihat fenomena tersebut, TikTok dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar untuk mengamati perubahan bahasa sekaligus melatih sikap kritis. Arti sebuah istilah perlu dipahami melalui konteks, penggunaannya perlu disesuaikan dengan situasi, dan dampaknya perlu dipertimbangkan sebelum pesan disebarkan. Sebelum mengunggah komentar, pengguna dapat memeriksa kembali pilihan katanya agar pesan tidak menimbulkan kesalahpahaman atau menyakiti orang lain. Bahasa gaul tetap dapat digunakan sebagai bentuk kreativitas anak muda, sementara bahasa Indonesia baku perlu diterapkan dalam situasi yang sesuai. Dengan kebiasaan tersebut, komunikasi yang akrab dapat dibangun, kesalahpahaman dapat dikurangi, dan keberagaman cara berbahasa dapat dihargai.
