Tuberkulosis di Indonesia: Kondisi Terkini, Tantangan dan Pemanfaatan Teknologi

Ph.D in Eng. Physics - Lecturer and Researcher at School of Electrical Engineering, Telkom University (Biomedical Engineering and Ultrasound/Acoustic based Measurement) - Art Enthusiast - Writer and Philomath. https://linktr.ee/maktjik
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Hesty Susanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam bidang kesehatan, salah satunya adalah upaya eliminasi penyakit Tuberkulosis (TBC). Saat ini, negara kita masih berada di peringkat kedua kasus TBC terbanyak di dunia, di bawah India. Beberapa lokus daerah dengan jumlah kasus terbanyak berada di Pulau jawa, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Secara statistik, setiap jam, 14 orang meninggal karena TBC di Indonesia dan dalam rentang 2023-2025 terdapat 1,06-1,10 juta kasus per tahun. Pada tahun 2024, Kemenkes mencatat 889 ribu kasus TBC, dengan pencapaian 81% pengobatan TBC sensitif obat (SO) dari target 90%, dan TBC resistan obat (RO) baru mencapai 58% dari target sebesar 80%, serta insidensi mencapai hampir 400 kasus per 100 ribu penduduk.
Tantangan utama yang dihadapi saat ini antara lain, banyaknya kasus-kasus dengan status under-reporting. Meskipun berdasarkan catatan WHO, kasus under-reporting menurun dari 41% di tahun 2017 menjadi 16% di tahun 2023, namun diperkirakan masih ada sekitar 140 ribu kasus yang belum terdeteksi. Hal ini disebabkan karena adanya kesenjangan pelaporan di fasilitas kesehatan swasta, inkonsistensi data dari Puskesmas, keterbatasan infrastruktur digital, dan kurang optimalnya surveilans pada kelompok rentan, seperti anak-anak, orang dengan HIV, serta warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Keterbatasan ini diperparah dengan masih terbatasnya sumber daya manusia dan desentralisasi pelayanan kesehatan, serta belum optimalnya sistem statistik hayati nasional. Tantangan lain menyangkut ketidaktahuan masyarakat terhadap tanda awal, kepatuhan terapi yang relatif rendah, akses pelayanan yang belum merata, khususnya di daerah terpencil, serta tantangan diagnostik dengan keterbatasan sarana, prasarana dan sumber daya manusia.

Dalam Strategi Nasional Eliminasi TBC yang tertuang dalam Perpres nomor 67 tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis, terdapat sejumlah strategi untuk mengatasi TBC di Indonesia, antara lain penguatan komitmen, peningkatan akses layanan TBC termasuk deteksi dan skrining, optimalisasi upaya promosi dan pencegahan TBC, pengobatan TBC dan pengendalian infeksi, integrasi data dengan Rumah Sakit dan Puskesmas, serta pemanfaatan hasil riset dan teknologi.
Terkait strategi deteksi dan skrining, pemerintah menargetkan penemuan 90% kasus dan inisiasi pengobatan 95% di tahun 2025 melalui skrining masif menggunakan x-ray portabel, tes cepat molekuler (open PCR), serta pemeriksaan bakteriologi. Selain itu, upaya perluasan akses diagnostik juga dilakukan melalui sistem transportasi spesimen dari faskes yang belum memiliki laboratorium pemeriksaan TBC.
Menyangkut strategi pengobatan dan pencegahan, pemerintah mengupayakan penyediaan regimen seperti BIPAL-M yang dapat mempersingkat waktu pengobatan dari 6-9 bulan untuk TBC sensitif obat (SO) dan 12-18 bulan untuk TBC resistan obat (RO) menjadi hanya 6 bulan. Obat-obatan TBC disediakan gratis melalui JKN/BPJS Kesehatan dan program Nasional TBC. Selain itu, terapi pencegahan untuk kontak serumah ditargetkan mencakup lebih dari 80% kontak.
Melalui upaya promosi, pendidikan dan keterlibatan, Kemenkes berinovasi melalui penyediaan e-learning TBC yang saat ini telah diakses oleh lebih dari 491 ribu tenaga kesehatan, penerapan sertifikat kesembuhan otomatis bagi pasien, serta pemberian insentif dan SKP bagi tenaga kesehatan yang terlibat dalam program-program TBC. Selain itu, pemerintah juga menggandeng keterlibatan masyarakat, organisasi profesi dan media dalam Tim Percepatan Penanggulangan TBC di 21 Provinsi dan 142 Kabupaten/Kota.
Masih tingginya kasus under-reporting memerlukan upaya komprehensif dari segi surveilans dan data, antara lain melalui integrasi data Sistem Informasi TBC (SITB) dengan platform nasional Satu Sehat. Selain itu, tahun ini, Kemenkes bekerja sama dengan WHO telah melakukan kajian epidemiologis. Kajian ini menggunakan daftar tilik standar dan parameter WHO untuk meneliti konsistensi definisi kasus, kelengkapan data, dan kinerja sistem dalam menampung informasi tentang populasi-populasi rentan. Tim mengkaji dokumen-dokumen utama, menganalisis data, mengunjungi faskes negeri dan swasta di berbagai tingkat yang meliputi fasilitas pengobatan untuk anak-anak, orang dengan TBC dan pasien dengan TBC RO.
Kemenkes saat ini juga mulai memperluas layanan rumah sakit khusus untuk TBC RO. Pasien yang sudah stabil dapat dirujuk ke Puskesmas satelit. Selain itu, Kemenkes juga berencana melalukan uji klinis beberapa vaksin TBC, termasuk vaksin dari GlaxoSmithKline, CanSino Biologics dan BioNTech dengan harapan dapat meluncurkan vaksin TBC pada 2029 mendatang.
Pemanfaatan teknologi deteksi dan diagnostik menjadi secercah harapan untuk membantu akselerasi upaya eliminasi TBC di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Saat ini, x-ray portabel menjadi salah satu teknologi yang dapat diandalkan dalam proses deteksi dan skrining untuk menjangkau daerah-daerah terpencil dengan fasilitas kesehatan yang belum memiliki sarana diagnostik x-ray konvensional. Tantangan dalam hal ini menyangkut penyimpanan, pengiriman, dan pemrosesan citra x-ray dalam jumlah masif untuk diinterpretasikan oleh dokter radiolog, padahal jumlah radiolog dibandingkan dengan jumlah pasien masih sangat terbatas. Oleh karena itu, inovasi deteksi berbantukan komputer (computer-aided detection/CAD) dapat menjadi solusi yang sangat potensial.
Sejak 2021, sejumlah perangkat lunak CAD meningkat secara signifikan di pasaran. Untuk memberikan panduan kepada negara-negara, pelaksana dan pendonor mengenai kinerja dari perangkat lunak CAD ini, pada 2024, WHO melakukan panggilan terbuka (open call) kepada para produsen untuk mengajukan perangkat lunak CAD untuk dievaluasi secara independen oleh Technical Advisory Group (TAG) diagnostik TBC. Analisis utama yang digunakan untuk mendukung hasil evaluasi TAG adalah penilaian estimasi akurasi diagnostik. Estimasi ini diperoleh dari satu evaluasi independen terhadap kinerja perangkat lunak CAD menggunakan dua library gabungan berupa citra DICOM x-ray dada yang telah dikurasi beserta data klinis terkait, yang terdiri dari satu library berisi 1.663 citra untuk skrining berbasis komunitas dan satu library berisi 2.252 citra untuk skrining berbasis fasilitas. Kinerja diagnostik CAD dibandingkan dengan referensi standar mikrobiologi dari kultur dan uji molekuler. Saat ini, WHO telah menyetujui enam perangkat lunak CAD untuk diagnostik TBC berbasis citra x-ray dada. Dengan hasil ini, WHO merekomendasikan penggunaan CAD berbasis kecerdasan buatan untuk diagnosis TBC terutama di wilayah dengan keterbatasan sumber daya. CAD berbasis kecerdasan buatan dapat menggantikan interpretasi manual x-ray dada dalam skrining TBC paru pada pasien usia 15 tahun ke atas.
Selain berbasis citra x-ray, CAD untuk diagnosis TBC juga dapat diterapkan pada citra USG paru. Studi menunjukkan CAD berbasis kecerdasan buatan untuk USG paru memiliki akurasi tinggi (sensitivitas 94,7%, spesifisutas 83,9%) atau setara dengan radiolog berpengalaman serta meningkatkan konsistensi dan efisiensi diagnosis. CAD juga mengurangi bias operator dan memungkinkan tenaga non-klinis melakukan diagnosis dini. Sistem ini diharapkan dapat mendukung integrasi data multimodalitas, pemantauan real time, serta mengatasi hambatan teknis, seperti artefak citra. Diagnosis berbasis USG memiliki keunggulan karena ketersediaan USG konvensional yang jauh lebih banyak dan merata di faskes-faskes primer di Indonesia, relatif murah, serta tanpa risiko radiasi ionisasi seperti x-ray.
Saat ini, Indonesia belum memiliki perangkat lunak nasional CAD untuk deteksi TBC, baik berbasis x-ray maupun USG. Oleh karena itu, pengembangan platform yang dapat terintegrasi dengan Satu Sehat sangat penting untuk meningkatkan akses diagnosis, mengurangi disparitas layanan, dan mendukung pencapaian SDGs bidang kesehatan. Perangkat lunak nasional CAD nasional ini juga memiliki urgensi dari segi kemandirian teknologi, termasuk menyangkut perlindungan data kesehatan nasional.
Secara keseluruhan, pemerintah Indonesia telah menjalankan pendekatan komprehensif dan multisektoral—dari deteksi, pengobatan, surveilans, hingga inovasi—dengan target ambisius eliminasi TBC pada 2030. Data terbaru menunjukkan perbaikan nyata, meskipun masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Referensi
1. David, P. M., Onno, J., Keshavjee, S., & Ahmad Khan, F. (2022). Conditions required for the artificial-intelligence-based computer-aided detection of tuberculosis to attain its global health potential. The Lancet Digital Health, 4(10), e702–e704. https://doi.org/10.1016/S2589-7500(22)00172-8
2. Indonesia.go.id. (Juli 2023). Tiga Strategi Perangi TBC. Retrieved November 20, 2025, from https://indonesia.go.id/kategori/editorial/7296/indonesia-to-accelerate-the-tuberculosis-elimination?lang=1
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (Maret 2025). Aksi Nyata Percepatan Eliminasi Tuberkulosis di Indonesia. Retrieved November 20, 2025, from https://kemkes.go.id/id/47510
4. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (April 2025). Kemenkes Terapkan Enam Strategi Utama Demi Percepatan Eliminasi Tuberkulosi di Indonesia. Retrieved November 20, 2025, from https://ppni-inna.org/detail-berita/vzwkOz
5. Universitas Negeri Surabaya. (2025). Kasus TBC di Indonesia tembus 1 juta pada 2025: Tantangan besar menuju eliminasi 2030. Retrieved November 20, 2025, from https://s1keperawatan.fk.unesa.ac.id/post/kasus-tbc-di-indonesia-tembus-1-juta-pada-2025-tantangan-besar-menuju-eliminasi-2030
6. World Health Organization. (2021). A toolkit to support the effective use of computer-aided detection (CAD) for TB screening. World Health Organization, Geneva. https://iris.who.int/bitstream/handle/10665/345925/9789240028616-eng.pdf
7. World Health Organization. (2025). WHO policy statement on computer-aided detection software for tuberculosis screening using chest radiography. Geneva: World Health Organization. Retrieved from https://www.who.int/publications/i/item/9789240110373
8. World Health Organization. (2025). WHO approves six software products for computer-aided detection of TB on chest X-ray. Retrieved from https://www.who.int/news/item/11-06-2025-who-approves-six-software-products-for-computer-aided-detection-of-tb-on-chest-x-ray
9. World Health Organization. (2025, July 1). Strengthening TB surveillance to accelerate Indonesia’s path to elimination. WHO Indonesia. Retrieved November 20, 2025, from https://www.who.int/indonesia/id/news/detail/01-07-2025-strengthening-tb-surveillance-to-accelerate-indonesia-s-path-to-elimination
10. World Health Organization. (n.d.). Calibrating computer-aided detection for TB. TDR | Tuberculosis Research. Retrieved November 20, 2025, from https://tdr.who.int/tuberculosis-research/calibrating-computer-aided-detection-for-TB
