Apakah Ibu Rumah Tangga Juga Bisa Menulis?

.Hesty Trimurti Gorang. Penulis buku (Pena Pedang penulis (2020) dan Muslimah Kanan (2021). Anggota di FLP NTB. Guru bahasa arab di Yayasan Tarbiyatul Islamiah Orong Kopang Lombok Utara
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hesty Trimurti Gorang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dulu saya pikir apakah ibu rumah tangga juga bisa menulis? Saya pun berpikir pasti tidak bisa membaca lagi. Apalagi belajar hal-hal baru dalam tumpukan buku-buku kesukaan. Akan tetapi, saya salah. Tuhan justru adil. Setelah 4 tahun duduk di bangku kuliah, menikah, dan lulus saya tidak bekerja.
Di balik kesibukan jadi seorang istri dan ibu rumah tangga. Tuhan memberiku semangat baru untuk tetap menulis, membaca, dan juga belajar, bahkan hingga menghasilkan karya.
Dan di tahun ini pada bulan lalu. Saya menerima paket buku anak. Paket tersebut adalah buku antologi yang saya ikuti bersama-sama ibu-ibu yang memiliki semangat menulis yang sama.
Menjadi seorang ibu ternyata tidak menghalangi saya untuk terus berkarya. Saya hanya butuh niat baru, strategi baru, dan visi misi baru untuk terus menulis.
Terkait antologi buku anak yang saya terima bulan lalu adalah salah satu karya sederhana saya yang menjadi bukti bahwa "Menjadi seorang ibu pun bisa berkarya."
Mungkin ada yang bertanya. Kapan seorang ibu bisa punya waktu menuangkan ide? Sedangkan para mahasiswa atau remaja-remaja pada umumnya saja kadang mengeluh terkait waktu untuk menulis, membaca, dan juga belajar.
Terkait hal tersebut. Ada hal penting yang harus dihidupkan dalam diri kita. Yaitu Kesadaran. Ketika kita sadar siapa kita. Apa yang harus kita buat, dan apa tujuan kita. Segala yang kita impikan bisa diwujudkan dengan mudah.
Saya sebagai ibu tentunya harus sadar ada hal-hal penting yang harus saya tuntaskan di luar kegiatan tulis dan baca. Ada anak yang harus diurus, ada suami yang perlu dilayani, rumah kotor yang harus dibersihkan, pakaian yang harus disetrika dan lipat, dan sejumlah pekerjaan rumah lainnya.
Kapan saya menulis?
Kalau ada yang bertanya seperti itu. Saya akan jawab "saya menulis di waktu-waktu kosong" Terutama disepertiga malam saat penduduk rumah masih tidur nyenyak. Menulis di malam hari adalah waktu paling tepat yang saya ambil. Tak ada tangisan anak, tak ada teriakan, tak ada suara suami yang suka ganggu, dan berbagai gangguan lainnya.
Emang jadi ibu bisa nulis apa?
Ini salah satu pertanyaan yang sering saya dengar. Saya pribadi menulis sesuai dengan apa yang saya suka dan kuasai. Kadang saya menulis artikel populer, kadang menulis cerpen, dan baru-baru ini saya memberanikan diri untuk menulis antologi cerita anak.
Buku antologi cerita anak yang sudah saya tulis.
Meski baru satu karya antologi cerita anak saya merasa puas dengan pencapaian ini. Karena, terkadang kita memang harus keluar dari zona nyaman. Mencari pelajaran dan pengalaman baru untuk meng-upgrade diri.
