Konten dari Pengguna

Lestarikan Warisan Alam dan Budaya Kulit Kayu Lantung melalui Semilir Ecoprint

Hidayah Qudus

Hidayah Qudus

Lifestyle and mom blogger.

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hidayah Qudus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Koleksi wastra atau kain Indonesia sangat beragam yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Bahan baku kain yang dijadikan berbagai produk seperti baju, tas, dan aneka produk lainnya juga dari berbagai sumber seperti ulat sutra, pohon kapas, dan juga kulit kayu.

Tidak banyak yang mengetahui atau mengenal bahan baku pembuatan kain lokal yang berasal dari kulit kayu lantung. Kulit kayu lantung diambil dari pohon jenis nangka atau sukun yang bergetah, yang diambil kulitnya. Proses menjadi kain dilakukan dengan cara kulit kayu yang setelah diambil lalu dipukul-pukul hingga pipih dan melebar hingga mencapai lebar 2 meter karena jenis kulit kayu lantng ini yang elastis atau mudah melar.

dok: Semilir Ecoprint
zoom-in-whitePerbesar
dok: Semilir Ecoprint

Kain dari kulit kayu lantung ini ternyata tidak banyak juga yang tahu, hal ini disebabkan kurangnya variasi yang dilakukan pada kulit kayu lantung tersebut. Itulah sebabnya yang memotivasi Alfira Oktaviani, seorang entrepreneur muda yang mencapai kesuksesan di dunia ecoprint fashion dengan brandnya Semilir Ecoprint untuk memanfaatkan kulit kayu lantung dan membuatnya jadi lebih bernilai ekonomis sekaligus melestarikannya.

proses pembuatan kulit kayu lantung, dok: Semilir Ecoprint

Alfira Oktaviani yang seorang lulusan apoteker ini memulai usaha ecoprintnya yang bermula dari kecintaan dan ketertarikannya akan dunia fashion dan ecoprint. Ecoprint yaitu teknik memberikan motif pada kain dengan cara menggunakan daun-daunan, bunga-bungaan yang ada di sekitar sebagai bahan pengecapan.

Prosesnya sendiri yaitu dengan menggelar kain dan meletakkan serta menyusun daun-daunan dan juga bunga-bungaan di atasnya. Setelah itu kain dikukus hingga motif daun-daunan dan bunga-bunga tadi menempel pada kain. Proses pemanasan dengan dikukus pada kain tersebut dilakukan secara alami dan ramah lingkungan karena limbah dari daun dan bunga tersebut dapat dijadikan pupuk dan tidak mencemari lingkungan.

Alfira Oktaviani, founder Semilir Ecoprint, dok: Semilir Ecoprint

Setelah mempelajari sendiri tentang ecoprint, Alfira yang akrab di sapa Fira ini menjadi semakin tertarik dan serius menekuni usaha ecoprint tersebut. Jadilah Semilir Ecoprint yang sejak berdirinya di tahun 2018 telah mendukung pemberdayaan kaum perempuan di lingkungan sekitar. Dari usaha Semilir Ecoprint ini banyak warga sekitar terutama kaum perempuan yang menanam daun-daun serta bunga-bunga yang dijadikan bahan baku ecoprint yang hingga hari ini mencapai 10.000 lebih kaum perempuan.

Perempuan kelahiran Bengkulu yang kini tinggal di desa Ngaglik, Donoharjo, Sleman, Yogyakarta ini tidak hanya memproduksi aneka produk fashion seperti baju, tas, dompet tapi juga aneka souvenir. Fira dengan Semilir Ecoprint nya ini juga memberikan pelatihan kepada masyarakat yang berminat.

Ketika pandemi melanda di mana banyak sektor UMKM yang terkena imbas dari pandemi, Fira dengan Semilir Ecoprint juga memutar otak agar tetap bisa survive yaitu dengan memproduksi masker ecoprint, produk-produk DIY yang dapat dilakukan di rumah. Di masa pandemi pula banyak warga yang beralih menanam daun-daunan dan bunga-bunga yang menjadi bahan baku pembuatan ecoprint.

Terkait kulit kayu lantung ini pula, Fira yang kelahiran Bengkulu tertarik untuk menggunakan kulit kayu lantung sebagai salah satu bahan baku produk-produk ecoprint. Jadi kulit kayu lantung ini diberi motif dengan proses ecoprint dan dijadikan aneka produk kerajinan seperti tas, dompet dan aneka souvenir lainnya. Proses pemberian motif dan pewarnaan yang alami ini membuat kulit kayu lantung menjadi lain dari yang lain, proses inilah yang membuat kulit kayu lantung menjadi lebih variatif dan punya daya jual.

produk fashion ecoprint, dok: Semilir Ecoprint

Selain itu dengan menggunakan kulit kayu lantung berarti ikut melestarikan salah satu warisan budaya karena sejarahnya kulit kayu lantung ini menjadi salah satu bahan pengganti tekstil atau kain di masa penjajahan atau sebelum kemerdekaan. Nilai historical inilah yang membuat Fira memproduksi kulit kayu lantung dengan ecoprint dengan harapan keberadaan produk kerajinan kulit kayu lantung ini bisa dikenal lebih luas seperti kain atau wastra lokal lainnya.

Tidak heran apabila Alfira Oktaviani ini mendapatkan anugrah sebagai Penerima Apresiasi Bidang Kewirausahaan dari Astra Satu Indonesia Award tahun 2022. Dedikasinya dalam mengeksplorasi kekayaan flora Indonesia sebagai wujud cintanya pada pelestarian alam dan budaya Indonesia.

Sumber referensi:

-https://www.satu-indonesia.com/satu/satuindonesiaawards/finalis/pelestari-kain-lantung-bengkulu/

-Radio Idola Semarang,siaran rekaman radio

-https://instagram.com/alfiraoktaviani

-https://instagram.com/semilir_ecoprint