Konten dari Pengguna

Arsitektur Ketakutan Irfan Hendrian

Hidayat Adhiningrat

Hidayat Adhiningrat

Seorang penulis seni amatir dan manusia yang senang bermain-main

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Irfan Hendrian di Ara Contemporary (Dok. Hidayat Adhiningrat)
zoom-in-whitePerbesar
Irfan Hendrian di Ara Contemporary (Dok. Hidayat Adhiningrat)

Apa yang terjadi di Bandung pada tahun 1960-an, khususnya bagi komunitas Tionghoa?

Pertanyaan itu muncul begitu saja saat mata menyapu karya-karya Irfan Hendrian dalam pameran tunggalnya bertajuk “Closed” di Ara Contemporary, Jakarta. Di sana, ruang galeri seolah berubah menjadi barisan pertahanan: pintu dengan kunci berlapis-lapis, teralis jendela yang seperti jeruji penjara, pagar besi bergelombang, serta anak-anak kunci kertas yang berjejer.

Bentuk-bentuk berulang ini, kata Irfan sendiri, adalah arsitektur ketakutan. Atau secara lebih deskriptif bisa dibayangkan sebagai arsitektur yang lahir dari trauma hidup, dari ingatan kolektif tentang kecemasan yang pernah (dan mungkin masih) menghantui komunitas Tionghoa di Indonesia.

Lalu, apa hubungannya dengan Bandung? Irfan Hendrian adalah seniman yang lahir dan besar di kota ini. Dia juga terikat erat pada komunitas Tionghoa dan sejarahnya. Ia melihat dan merasakan bagaimana rumah-rumah di Bandung sejak tahun 1960-an sudah dipenuhi teralis jendela berlapis-lapis. Gaya defensif itu, yang di Jakarta baru meledak pasca-kerusuhan Mei 1998, sudah menjadi bagian dari arsitektur sehari-hari jauh lebih dini di sini. Hasil penglihatan inilah yang menginspirasi karya-karyanya.

Irfan dan penyelenggara pameran memang tidak dengan gamblang menjelaskan soal apa yang terjadi pada era 1960-an di Bandung itu. Tapi, sedikit menyelami mesin pencari, kita akan menemukan kisah kelam yang menjadi akarnya: Kerusuhan Anti-Tionghoa di Bandung 10 Mei 1963, salah satu episode kekerasan rasial terbesar di Jawa Barat pada masa Orde Lama.

Kisah ini bermula dari ketegangan kecil di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) antara mahasiswa, yang cepat membesar menjadi amuk massa. Massa kemudian bergerak dari kampus Ganesha, menjarah toko-toko, rumah, dan kendaraan milik warga Tionghoa di sepanjang Jalan Braga, Asia Afrika, Pasar Baru, hingga menjalar ke wilayah lain di luar kota Bandung. Ratusan mobil dan motor dibakar, properti dihancurkan, dan meninggalkan trauma begitu dalam hingga membentuk cara hidup baru berupa rumah yang tertutup, jendela yang berjeruji, pintu yang berlapis pengaman.

Peristiwa itu mungkin menjadi awal dari rasa takut yang berkepanjangan, sebuah ingatan kolektif yang Irfan hidupkan kembali lewat karya-karyanya, yang mengajak kita bertanya apa yang sebenarnya sedang dilindungi dengan kunci berlapis dan teralis ini? Dan apakah, setelah puluhan tahun, ketakutan itu pernah benar-benar hilang?

Pada pameran “Closed”, Irfan memulai presentasi karyanya dengan deretan pengunci berwarna kuning cerah yang berjejer vertikal di sepanjang garis tengahnya. Pintu masuk itu seperti selalu kekurangan kunci meski di sana ada gembok gantung, kunci kombinasi, handle pengaman, keypad numerik dengan grid 3x3, hingga tombol-tombol mekanis yang seolah siap mengunci segala kemungkinan ancaman.

Paper Thin Protection (Dok. Hidayat Adhiningrat)

Semua elemen kuning itu sebenarnya terbuat dari potongan kertas yang diwarnai ballpoint dan dye-cut dengan presisi, kemudian disusun berlapis-lapis di atas tumpukan kertas tipis yang ditempelkan dengan magnet. Perlindungan yang seolah tak tertembus, tapi sebenarnya rapuh ini seakan sedang menyindir rasa ketakutan kita. Seperti yang juga tersirat dalam judul karyanya, “Paper Thin Protection” (perlindungan setipis kertas).

Dari pintu yang rapuh itu, pengunjung diajak melangkah lebih dalam ke ruang utama galeri. Di sinilah seri Chinatown Window Sample (2025) mengambil alih panggung. Ini adalah sekelompok karya yang terinspirasi langsung dari teralis jendela rumah-rumah di kawasan Chinatown, khususnya di Bandung.

Chinatown Window Sample (Dok. Hidayat Adhiningrat)

Setiap karya dalam seri ini dimulai dari satu lembar kertas tunggal, dicetak menggunakan teknik risograph (cetak riso) untuk menangkap pola-pola rumit, kemudian diiris dan dipotong presisi dengan dye-cut pada lapisan-lapisan kertas yang bertumpuk. Hasilnya adalah objek tiga dimensi yang tipis tapi bertekstur dalam seperti jendela sungguhan yang menonjol dari dinding, dengan bingkai berlapis abu-abu pucat menyerupai kusen kayu atau beton tua yang retak-retak.

Chinatown Window Sample (Dok. Hidayat Adhiningrat)

Salah satu yang paling mencolok adalah pola melingkar simetris berbentuk bunga atau mandala. Lingkaran-lingkaran berulang yang saling tumpang tindih terbuat dari potongan kertas berwarna metalik biru, hijau, dan keemasan. Garis-garis lengkung itu membentuk jaringan terbuka seperti ornamen tradisional Tionghoa yang elegan tapi sekaligus berfungsi sebagai jeruji yang rapat, berlapis, dan tak memungkinkan pandangan tembus sepenuhnya. Di sudut bingkai, ada elemen kecil berupa foto asli jendela bangunan yang menjadi inspirasi karya ini.

Varian lain menampilkan pola lebih geometris seperti lingkaran-lingkaran berulang dalam grid, dengan warna hijau kebiruan yang dingin, dibingkai kusen abu-abu bertekstur kasar seperti dinding plester yang sudah usang. Ada pula yang vertikal dan sempit, seperti jendela samping rumah toko lama, dengan pola anyaman organik yang rumit, menggabungkan elemen dekoratif klasik (seperti motif awan atau bunga teratai Tionghoa) dengan kepraktisan defensif. Cukup terbuka untuk cahaya dan udara, tapi cukup rapat untuk menghalangi tangan atau pandangan yang tak diinginkan.

Chinatown Window Sample (Dok. Hidayat Adhiningrat)

Dalam seri ini, Irfan Hendrian seperti sedang membongkar makna di balik bentuk-bentuk teralis itu. Keindahan pola-pola yang dulu mungkin dimaksudkan sebagai hiasan estetis di rumah-rumah Tionghoa berubah menjadi simbol ambivalen yang indah sekaligus menakutkan. Apa yang terlihat sebagai ornamen budaya sebenarnya adalah lapisan perlindungan tambahan, lahir dari trauma historis yang sama yang memicu pemasangan teralis berlapis sejak 1960-an di Bandung.

Di ujung ruang pameran, instalasi raksasa berjudul Emas Beras (2025), yang membentang seperti gunung emas mini di sudut galeri, hadir. Karya ini terbuat dari kertas yang diolah melalui teknik deboss dan dye-cut, di mana lapisan-lapisan tipis kertas dipotong dan ditekan untuk membentuk ratusan "batang emas" mungil yang berkilau keemasan. Ditata dalam formasi piramida atau lereng yang menumpuk, instalasi ini menyerupai tumpukan beras (atau emas batangan) yang melimpah, tapi sebenarnya hanyalah ilusi dari bahan paling sederhana: kertas.

Emas Beras (Dok. Hidayat Adhiningrat)

Irfan Hendrian, berkomentar tentang karyanya ini, “Banyak yang bilang orang Tionghoa suka menimbun emas dan beras. Memang orang Tionghoa punya kebiasaan menimbun emas, tapi tidak sebanyak ini.” Di sini, "emas" dan "beras" menjadi metafora budaya Tionghoa tentang persiapan menghadapi masa sulit, tapi juga sindiran atas stereotip yang melekat pada komunitas tersebut sejak era 1960-an, ketika kerusuhan 1963 di Bandung atau 1998 di Jakarta membuat banyak keluarga Tionghoa menyimpan cadangan makanan dan harta untuk bertahan dari ketidakpastian.

Kontrasnya, di dinding seberang, karya Constructed (dari seri serupa atau karya terkait 2025) menampilkan transformasi yang lebih gelap dan mentah. Dinding galeri seolah "dihidupkan" dengan panel-panel besar dari kertas yang dibentuk menyerupai lembaran seng bekas terbakar, bertekstur kasar, berlubang, dan berwarna hitam kecokelatan seperti logam yang hangus oleh api. Di balik permukaan "seng" yang robek-robek itu, tersembunyi lapisan poster-poster usang berupa potongan gambar lama, iklan pudar, atau arsip foto yang samar-samar menggambarkan kehidupan sehari-hari komunitas Tionghoa.

Constructed (Dok. Hidayat Adhiningrat)

Tekniknya lagi-lagi memanfaatkan paper sebagai medium utama, dilipat, dibakar secara terkendali (atau disimulasikan melalui pewarnaan dan pemotongan), lalu disusun untuk menciptakan ilusi destruksi. Kedua karya ini memperkaya narasi Closed. Emas Beras berbaring di lantai seperti harta karun yang rentan dirampas, sementara Constructed menempel di dinding sebagai "tembok ingatan" yang terbakar tapi tetap berdiri.

Di akhir perjalanan pameran, pengunjung mungkin akan ditinggali pertanyaan yang sama yang mengawali semuanya: apa yang sebenarnya kita lindungi dengan tembok-tembok ini? Perlindungan yang tampak kokoh, berlapis-lapis, dan berlebihan sebenarnya setipis kertas yang mudah robek, mudah terbakar, mudah hilang. Tapi agaknya dalam kerapuhan itulah kekuatannya bersemayam. Trauma tidak pernah benar-benar tertutup rapat. Ia hanya dibungkus ulang, dibentuk kembali, dan ditempelkan lapis demi lapis pada ingatan kolektif.