Free-Range Suns & Seaweed Stories di ROH Galeri: Puing Kosmik hingga Lagu Laut

Seorang penulis seni amatir dan manusia yang senang bermain-main
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ROH Galeri mempersembahkan dua pameran secara bersamaan. Di galeri utama ada Free-Range Suns, pameran tunggal karya seniman Stella Zhong, yang menampilkan karya-karya patung kontemporernya. Di b-side, pasar barang antik Jl. Surabaya, ada kolaborasi dengan kolektif riset visual asal Korea, ikkibawiKrrr, melalui instalasi multimedia mereka Seaweed Story (2022). Pameran ini berlangsung pada 27 September - 9 November 2025.
Dalam pameran terbaru Stella Zhong, ruang galeri ROH berubah menjadi arena sunyi yang terasa seperti dunia lain, tempat distorsi skalar khasnya terungkap dengan intensitas yang tenang. Mendominasi ruangan adalah serangkaian patung berbentuk kerikil ethereal dengan bentuk lonjong yang halus dengan warna abu-abu dan biru pucat, mengingatkan pada batu sungai kuno atau puing kosmik yang mengambang di kehampaan.
Di dinding kiri, sepasang oval memanjang ini tergantung dengan penuh risiko, diikat oleh kawat hampir tak terlihat yang melengkung anggun dari langit-langit, menciptakan ilusi melayang seolah-olah menentang tarikan gravitasi. Permukaan mereka memiliki kilauan tekstur halus, memberikan petunjuk akan kedalaman tersembunyi dan ketegangan yang tak terucapkan, sementara bayangan yang tercoreng di bawahnya memperkuat kesan keseimbangan yang rapuh.
Lebih jauh ke dalam ruangan, sebuah formasi bertumpuk menarik perhatian di lantai: lima atau enam bentuk ini disusun dalam kolom yang tampak goyah, yang paling atas memanjang secara horizontal dengan batang tipis yang menonjol ke luar seperti gerakan yang membeku di tengah-tengah. Karya tengah ini mengganggu kekosongan di sekitarnya, mengajak penonton untuk mengelilingi dan merenungkan ketidakstabilannya. Akankah ia roboh, atau sedang dipegang oleh kekuatan tak terlihat?
Di kanan, sebuah oval tunggal menonjol dari dinding dengan sudut tertentu, tepi bulatnya memotong udara, menggema tema pameran tentang dunia tertutup yang saling bertabrakan dan saling menyangkal. Penataan karya-karya Zhong seakan sedang bermain dengan persepsi dan temporalitas, mengubah dinding putih polos dan lantai beton yang dipoles menjadi kanvas untuk resonansi eksistensial.
Objek-objek ini, tampak mengambang di hamparan tak berpenghuni, berbisik tentang puing kosmik dan keseimbangan yang rapuh, menuntut perhatian penuh di tengah keheningan galeri. Di sini, arus bawah tentang perpindahan dan kekuatan tersembunyi beresonansi secara halus, menciptakan pengalaman mendalam yang berbekas lama setelah seseorang meninggalkan ruangan.
Sejak pameran pertamanya, Zhong telah mencuri perhatian dunia seni dengan lingkungan tak dapat dihuni yang penuh dengan distorsi skalar, persepsi, dan temporal, bergerak secara tak terduga antara ruang kosong dan puing kosmik. Patung-patung Zhong menciptakan dunia-dunia tertutup yang saling memainkan dan menyangkal satu sama lain, membentuk bahasa objek yang khas dan hanya dapat ditemui pada titik ekstremnya.
Pusat pameran ini adalah karya utama berjudul sama, sebuah struktur setinggi lebih dari lima meter dengan fasad kaca emas yang memantulkan cahaya langsung. Terlalu besar untuk sekadar model, namun terlalu kecil untuk menjadi nyata, “gedung pencakar langit” ini menggambarkan imajinasi ahistoris yang terinspirasi dari laboratorium urban seperti Jakarta dan Shenzhen, tempat Zhong dibesarkan. Objek perifer dan suara lagu samar memperkuat absennya kehadiran manusia, mengundang refleksi personal dan ontologis.
Lagu Laut ikkibawiKrrr
Karya instalasi kolektif riset visual asal Korea, ikkibawiKrrr, berjudul Seaweed Story (2022), yang dipajang di b-side Roh Galeri, Jakarta, memikat karena narasi intim dan puitis tentang ketahanan para haenyeo, penyelam perempuan dari Pulau Jeju. Ruangan instalasi menampilkan dinding-dinding putih yang dihiasi siluet-siluet rumput laut hitam yang elegan, menciptakan suasana organik seolah-olah lautan telah menyelinap ke dalam galeri. Lantai marmer hitam dengan pola pecah menambah dimensi dramatis, mencerminkan perairan yang dalam dan terluka, sementara bagian tengah ruangan menonjolkan patung-patung abstrak yang menggambarkan bentuk alami rumput laut dan kehidupan haenyeo.
Di tengah instalasi, layar televisi memutar video satu-saluan yang menampilkan para haenyeo bernyanyi, mengungkapkan kehidupan sehari-hari mereka sebagai bentuk penghiburan dan perlawanan terhadap pulau yang terluka. Video ini, pertama kali dipamerkan di documenta fifteen, mengaitkan tradisi panen rumput laut seperti Ecklonia cava—yang juga memiliki nilai medis dan sejarah sebagai komponen peledak—dengan peran revolusioner haenyeo dalam mengubah norma gender Confucian selama berabad-abad. Meski tradisi ini kini semakin langka dengan menyisakan sedikit penyelam, Seaweed Story mengajak pengunjung untuk merenungkan hubungan manusia dengan lingkungan melalui estetika yang memadukan kepekaan visual dan suara.
IkkibawiKrrr, didirikan pada 2021 oleh Gyeol Ko, Jungwon Kim, dan Jieun Cho, mengambil nama dari gabungan “ikki” (lumut dalam bahasa Korea), “bawi” (batu), dan “Krrr” (onomatope yang menggambarkan gerakan menggelinding). Kolektif ini dikenal karena pendekatan riset visual mereka yang inovatif, menggabungkan elemen budaya, sejarah, dan alam dalam karya-karya yang mendalam dan menggugah.
