Jejak Sanggarbambu, Di Sini Aku Temukan Kau

Seorang penulis seni amatir dan manusia yang senang bermain-main
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Komunitas Salihara menutup rangkaian pameran tahun 2025 dengan sebuah perhelatan bertajuk “Di Sini Aku Temukan Kau: Karya dan Arsip Sanggarbambu”. Pameran ini berlangsung dari 2 Oktober hingga 7 Desember di Galeri Salihara, dikuratori oleh Asikin Hasan dan Suwarno Wisetrotomo. Mengusung kisah Sanggarbambu, sebuah kelompok seni yang lahir pada akhir 1950-an, pameran ini mengajak pengunjung menyelami jejak sejarah sebuah komunitas yang pernah berperan penting dalam dinamika seni rupa Indonesia.
Nama Sanggarbambu mungkin hari-hari ini tak lagi akrab di telinga banyak orang. Bahkan, catatan dan perbincangan tentang kelompok ini semakin meredup, meskipun secara hukum Sanggarbambu masih eksis. Menariknya, menurut pemberitaan media, kelompok ini merasa tidak dilibatkan dalam pameran di Salihara. Namun, hal tersebut tidak mengurangi makna pameran ini. Justru, pameran ini bisa menjadi pengingat akan keberadaan sebuah gerakan seni alternatif yang mampu bertahan di tengah gejolak sosial dan politik pada rentang 1950-an hingga 1980-an.
Pada masa itu, Indonesia berada dalam pusaran polarisasi sosial yang kuat. Masyarakat diarahkan untuk hidup dalam bingkai politik yang kaku, mulai dari slogan “politik sebagai panglima” pada era awal kemerdekaan, hingga jargon “stabilitas politik” dan “ekonomi sebagai panglima” di bawah rezim Orde Baru pada 1970–1980-an. Di tengah situasi yang penuh tekanan tersebut, Sanggarbambu memilih menempuh jalannya sendiri. Dengan cara yang khas dan independen, mereka menghidupkan semangat seni yang tidak hanya cenderung bertahan, tetapi juga menawarkan perspektif baru di tengah arus zaman yang penuh tantangan.
Pameran ini didominasi oleh karya-karya para perupa anggota Sanggarbambu di masa itu. Figur dalam berbagai gaya nampak dominan dalam karya anggota Sanggarbambu yang muncul dalam pameran ini. Ada banyak kecenderungan karya yang digambarkan mengikuti gagasan artistik pelukisnya, antara lain potret model, potret diri, dan figur dalam sebuah suasana bergaya.
Soenarto Pr, misalnya, berulang kali melukiskan potret dirinya baik dengan menggunakan cat minyak di atas kanvas, maupun pastel atau krayon di atas kertas. Potret diri itu memperlihatkan sorot mata yang tajam seperti menantang sesuatu yang tengah berada di depannya. Lukisan potret lainnya bisa dilihat pada karya Darmadji, Handogo Soekarno, Soeharto Pr., Syahwil, Suwartono, Kuswandi, Titis Jabaruddin.
Mengutip catatan kurator Asikin Hasan, figur-figur yang dihadirkan tidak selalu digambarkan realistik. Di sini, figur juga bisa digambarkan dengan cara lain seperti terpiuh dan datar. Mereka merekam peristiwa kehidupan sehari-hari, menekankan kedalaman sensibilitas terhadap realitas, dan mengungkapkannya di atas kanvas. Ini nampak pada karya Mulyadi W.
Upaya untuk mencari akar dan identitas kebangsaan juga nampak pada sebagian karya-karya seniman Sanggarbambu. Hal itu tercermin dari upaya mencari dan menemukan bentuk-bentuk yang penuh ornamen. Obyek cenderung digambarkan datar, kaku, dan menjauh dari ekspresi yang spontan. Di era 70-an upaya menemukan identitas kebangsaan melalui elemen-elemen rupa yang khas seperti ini mengemuka secara mencolok dalam Pameran Besar Seni Lukis Indonesia pada 1974. Lukisan Irsam yang ditampilkan dalam pameran ini nampak mengembangkan aspek dekoratif itu secara intens.
Ada pula kesan tentang keinginan bercerita dalam karya-karya seniman anggota Sanggarbambu. Keinginan bercerita ini tidak hanya diangkat dari peristiwa kehidupan sehari-hari yang serba permukaan, melainkan juga melalui cerita-cerita yang lebih mendalam yang dipetik dari naskah kuno. Termasuk, mengambil atau menyalin gambar-gambar melalui relief yang terdapat di badan candi.
Cerita tersebut kemudian dikembangkan menjadi bacaan baru dalam bentuk lukisan dari relief-relief tersebut. Lukisan pada pokok bahasan ini cenderung digambarkan secara ilustratif dan maksimalis, hal-hal rinci dari setiap obyek digambarkan selengkap-lengkapnya, seperti pada karya Danarto dan Soeharto Pr.
Untuk diketahui, Sanggarbambu mengembangkan tradisi melukis figuratif dan ekspresif sebagaimana yang telah diamalkan seniman-seniman generasi sebelumnya, serta membuka jalan bagi seni lukis dekoratif dan ilustratif di Indonesia yang nantinya akan marak di 1970-an. Hal ini dilakukan dengan memadukan seni lukis modern ala “Barat” dengan pokok perupaan atau ornamen-ornamen tradisional/kerakyatan. Paduan ini menghadirkan seni lukis dekoratif yang unik di antara kelompok seniman sezaman.
Karya-karya yang ditampilkan dalam pameran di Salihara ini adalah milik sejumlah kolektor pribadi dan koleksi negara. Mengambil karya-karya dari masa keemasan Sanggarbambu. Selain karya seni rupa, pameran ini juga menampilkan arsip-arsip lama perjalanan kelompok seni Sanggarbambu yang terekam media.
Catatan-catatan lama yang tersimpan dalam arsip perpustakaan dan catatan pribadi para anggotanya dikumpulkan dalam masa setahun oleh tim pameran. Arsip-arsip yang terserak di media cetak di masa itu (koran maupun majalah) dipajang di satu sudut khusus pameran bersama dengan video wawancara para tokoh yang pernah bersinggungan dengan kelompok ini.
Siapa itu Kelompok Sanggarbambu?
Sanggarbambu berdiri pada 01 April 1959 di Yogyakarta, dipelopori oleh Kirjomulyo dan Soenarto Pr., bersama sejumlah seniman muda. Nama “Bambu” dipilih karena bambu adalah lambang kesederhanaan sekaligus kekuatan. Ia bisa tumbuh di mana saja, berguna bagi banyak hal, serta menjadi simbol perjuangan rakyat dalam wujud bambu runcing pada masa revolusi. Semangat itu pula yang dihidupi Sanggarbambu: sederhana, teguh, dan berpihak pada rakyat.
Sejak awal, Sanggarbambu hadir bukan sekadar sebagai sanggar seni rupa. Ia berkembang menjadi ruang lintas bidang, tempat pelukis, pematung, sastrawan, musisi, hingga teaterawan bertemu, berkarya, dan berdialog. Para anggotanya hidup dalam suasana paguyuban. Mereka tinggal bersama, berdiskusi, melukis, bermain musik, hingga merancang pertunjukan. Di sana, seni menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Nama-nama yang pernah bergiat di Sanggarbambu, di hari ini dikenal luas di dunia seni Indonesia. Di antaranya adalah Mulyadi W., Syahwil, Wardoyo, Danarto, Putu Wijaya, hingga Arifin C. Noer. Bahkan, tokoh-tokoh lain seperti Emha Ainun Najib dan Ebiet G. Ade juga pernah bersentuhan dengan atmosfer kreatif sanggar ini. Jaringan persahabatan yang terjalin membuat Sanggarbambu menjadi ladang tumbuhnya banyak seniman besar.
Yang menjadikan Sanggarbambu istimewa adalah visinya untuk mendekatkan seni kepada masyarakat. Mereka tidak membatasi diri hanya pada galeri atau ruang eksklusif, melainkan giat menyelenggarakan pameran keliling. Rombongan Sanggarbambu berkeliling dari kota kecil ke kota kecil di Jawa dan Madura, membawa lukisan, patung, dan pertunjukan. Mereka juga mengadakan drama arena, lomba penulisan seni, ceramah kebudayaan, hingga konser musik sederhana. Aktivitas ini bukan hanya pertunjukan, melainkan juga pendidikan seni yang terbuka bagi siapa saja.
Asikin Hasan mencatat, berbeda dari sejumlah sanggar di masa itu, yang memihak pada ideologi kiri atau kanan, di mana seni adalah sebuah sarana untuk menarik perhatian publik, dan meraup sebanyak mungkin suara sebagai kartu untuk berkuasa, Sanggarbambu berusaha menjadi sesuatu yang benar-benar bisa berdiri di tengah. Sayup-sayup dari pernyataan sejumlah anggota Sanggarbambu menunjukkan bahwa terbersit juga bayang-bayang kebangsaan, dan kedekatan dengan nilai-nilai falsafah Pancasila.
Sesuatu yang sangat khas pada sanggar ini adalah semangat gotong royong, dan keinginan menyambangi daerah-daerah untuk mempercakapkan nilai dan gagasan sederhana tentang kebangsaan. Mereka bahu membahu dalam mempersiapkan acara bersama itu, termasuk mengatasi keperluan hidup sehari-hari seperti makan dan tempat tinggal. Nilai-nilai guyub dan membuka diri bagi siapa saja yang ingin mendekat dan bergabung inilah yang memandu mereka untuk bersama-sama menghidupi kegiatan sanggar dari waktu ke waktu.
Mereka melukis dengan material cat minyak di atas kanvas, dan pastel di atas kertas. Rata-rata dari mereka membuat banyak sketsa pensil dan pen di atas kertas, sebuah tradisi mencatat gagasan-gagasan dalam visual, dan merekam realitas dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga dilakukan sebagai sebuah gambaran untuk menguji bisa dan tidaknya seseorang melukis. Di antara mereka juga tidak sungkan-sungkan untuk mengkritik yang lainnya. Bahkan, seperti yang diterangkan Butet Kartaredjasa ketika diwawancarai tim dokumentasi Komunitas Salihara (2025), tersebut sebuah istilah yang khas untuk karya yang dikritik: “jelek saja belum”.
Frasa itu menjadi semacam lelucon yang mengena ke sasarannya. Dari tarikan garis pada sketsa mereka, kita bisa segera melihat sebuah kaji yang sangat lancar. Begitu pun dalam lukisan di atas kanvas, di mana sapuan-sapuan ekspresif yang merepresentasikan emosi terdalam. Karya-karya mereka juga memperlihatkan keragaman, menunjukkan kebebasan untuk mengembangkan diri sesuai dengan karakter dan minat masing-masing.
Kendati lima tokoh utama; Soenarto Pr., Soeharto Pr., Handogo Soekarno, Syahwil, dan Danarto, sangat memberi warna pada karya-karya Sanggarbambu, namun tidak ada satu pun yang benar-benar dominan dalam konsep dan pemikiran seperti S. Sudjojono pada PERSAGI, atau Hendra Gunawan pada Sanggar Pelukis Rakyat. Hal ini menunjukkan bagaimana Sanggarbambu selalu mempertahankan keberagaman para anggotanya bahkan hingga pada proses penciptaan karya. Sebuah prinsip komunitas kolektif yang patut diapresiasi.
