Ketidak-Kekalan Albert Yonathan Setyawan

Seorang penulis seni amatir dan manusia yang senang bermain-main
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu kalimat yang diyakini oleh Albert Yonathan Setyawan, seniman keramik asal Bandung yang kini tinggal di Tokyo, Jepang itu.
“Tidak ada bentuk yang lahir dari kekosongan.”
Kalimat itu diucapkannya di depan karya instalasi videonya berjudul Squaring the Circle, Circling the Square, yang dipamerkan dalam pameran tunggalnya di Ara Contemporary, Jakarta, bertajuk “Hypnagogia | Tracing Time”.
Video tersebut menampilkan tiga layar secara bersamaan. Pada layar pertama, sepotong tanah liat berbentuk kotak perlahan diolah menjadi bulat. Sementara pada layar lainnya, tanah liat berbentuk bulat justru diubah mendekati bentuk kotak. Berkali-kali tangan dalam video itu berusaha mencapai kesempurnaan, namun selalu gagal. Bentuk ideal yang dicari seolah terus menghindar.
“Maka saya lebih suka kata to compose daripada to create,” jelas Albert. “Create terdengar terlalu religius, seperti pekerjaan Tuhan. Bagi saya, hal itu tidak ada. Semuanya selalu berangkat dari sesuatu yang sudah ada, lalu berkembang dan berubah menjadi sesuatu yang baru.”
Pemikiran tentang perkembangan dan perubahan itulah yang tampaknya menjadi fondasi utama karya-karya Albert, termasuk dalam pameran ini. Ia kerap menggunakan temuan sehari-hari —baik berupa found object maupun pengamatan visual— sebagai titik awal. Dari sana, ia mengubah objek tersebut secara alamiah menjadi bentuk-bentuk baru.
Dalam praktik seninya, Albert memang dikenal sebagai seniman yang sangat tertarik pada tema pengulangan, serta sifat dan asal-usul tanah liat dalam konteks budaya. Melalui keramik kontemporer, ia juga mengeksplorasi berbagai medium lain seperti gambar, instalasi multimedia, pertunjukan, dan video.
Pada karya keramik terracotta-nya, kita sering melihat objek-objek yang disusun dalam pola serupa dan hampir identik. Namun, jika diamati lebih saksama, terdapat variasi kecil dan perbedaan halus pada setiap bagian. Albert juga menerapkan pendekatan meditatif melalui pengulangan bentuk dan gerakan dalam proses pembuatannya.
Pameran “Hypnagogia | Tracing Time” dibagi menjadi dua bagian utama sesuai dengan judulnya. Di ruangan atas galeri Ara Contemporary, pada bagian “Hypnagogia”, Albert memamerkan seri terbarunya Form Constants. Bentuk-bentuk keramik yang identik disusun seperti lukisan tiga dimensi. Ada pula seri lukisan murni. Baik susunan keramik maupun lukisan, semuanya menampilkan pengulangan bentuk arsitektural dan geometris.
Salah satu contohnya adalah instalasi dinding monumental yang terdiri dari puluhan unit keramik berwarna abu-abu gelap. Setiap modul kecil berbentuk seperti tangga miniatur atau piramida bertingkat itu dibuat dengan pola berulang secara presisi.
Dari kejauhan, susunan tersebut menciptakan ilusi optik yang menyerupai gelombang, kedalaman, dan gerak meski secara fisik semuanya diam. Cahaya yang menyentuh permukaan keramik menghasilkan bayangan yang berubah seiring waktu, seolah arsitektur itu perlahan bertransformasi di hadapan mata penonton.
Melalui modul-modul arsitektural ini (tangga, ruang, ambang pintu, dan perspektif interior) Albert mengajak kita memasuki keadaan hypnagogia: zona kabur antara sadar dan tidur, di mana realitas mulai meluruh. Ruang yang semula logis menjadi terfragmentasi. Pola yang tampak teratur pun menyimpan ketegangan antara ketertiban dan kekacauan, kestabilan dan transformasi.
Di ruangan bawah galeri Ara Contemporary, bagian pameran Albert lainnya ditampilkan. Di bagian ini, tema “Tracing Time” menjadi benang merah bagi semua karya yang dipajang. Karya yang cukup mencuri perhatian di ruangan ini adalah instalasi berjudul Annica. Dari kejauhan, karya ini sekilas tampak seperti susunan objek identik yang tertata rapi. Namun, saat dilihat lebih dekat, terlihat bahwa detail tiap bentuk ternyata sedikit berbeda satu sama lain.
Lebih dari 300 karya terracotta dalam seri Annica ini dibuat menggunakan satu cetakan yang sama melalui teknik slip-casting. Seiring proses pengulangan yang terus dilakukan, cetakan perlahan kehilangan detailnya. Semakin sering cetakan itu digunakan, semakin pudar pula detail aslinya. Akibatnya, karya-karya yang dihasilkan pun perlahan berubah menjadi bentuk-bentuk baru yang tidak terduga.
Judul Annica diambil langsung dari salah satu konsep dasar Buddhisme. Anicca berarti “ketidak-kekalan” atau impermanence. Konsep ini mengajarkan bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat tidak abadi dan terus-menerus berubah. Tidak ada yang tetap, segala bentuk hanya muncul sementara, lalu bertransformasi atau lenyap.
Melalui karya Annica, Albert menjadikan konsep ini menjadi terasa dan tangible. Proses degradasi cetakan yang disengaja itu menjadi metafor yang kuat tentang ketidak-kekalan. Tanah liat yang awalnya diulang dengan presisi, berubah seiring waktu. Semakin banyak repetisi, semakin jauh pula hasilnya dari bentuk asal.
Sifat plastis tanah liat sangat mendukung proses replikasi dan pengulangan yang bisa diaktifkan melalui teknik slip-casting. Karena efisiensinya, teknik ini banyak diadopsi dalam produksi industri, khususnya peralatan meja makan. Namun, ketika dipindahkan ke ranah seni, metode ini menjadi sarana untuk menggoyahkan gagasan keaslian. Albert menonjolkan ketegangan antara pengulangan yang sempurna dengan jejak perubahan yang tak terhindarkan.
Sifat kontradiktif antara ketepatan replikasi dan bagaimana jejak perubahan itu tetap tersisa adalah inti yang dieksplorasi dalam karya Annica ini. Melalui karya tersebut, Albert seperti mengajak kita merenung tentang betapa sia-sianya berusaha mempertahankan kesempurnaan, karena pada akhirnya, segala sesuatu akan berubah.
