Melihat Goenawan Mohamad Sebagai Seorang Perupa

Seorang penulis seni amatir dan manusia yang senang bermain-main
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Saya kira saya bisa menebak. Saya kan sudah 85 tahun. Jadi, mungkin ini pameran saya terakhir.”
Ucapan Goenawan Mohamad itu disampaikannya dengan senyum tipis, campuran antara gurauan dan refleksi yang mendalam. Audiens pun langsung tertawa, menganggap itu hanya lelucon. Namun, Goenawan buru-buru menegaskan dengan nada setengah serius, “Loh, kenapa tertawa? Saya serius,” katanya, sambil tetap tersenyum tipis.
Pada Sabtu, 23 Mei 2026 lalu, Komunitas Salihara Arts Center resmi membuka pameran tunggal Goenawan Mohamad (GM) bertajuk Teks, Gambar, Kitab di Galeri Salihara, Jakarta Selatan. Pameran ini dapat dikunjungi publik mulai 24 Mei hingga 28 Juni 2026 dan merupakan pameran tunggal ke-18 GM —yang untuk pertama kalinya diadakan di Salihara, komunitas dan ruang kesenian yang didirikannya.
Prosesi pembukaan berlangsung sederhana meski dihadiri lebih dari 230 orang, termasuk Boediono, Wakil Presiden RI ke-11. Pameran ini dibuka oleh seniman Tisna Sanjaya dan dikuratori oleh Asikin Hasan. Sebagai kado ulang tahun ke-85 (meski ia lahir di 29 Juli), pameran ini bisa menjadi kesempatan langka untuk melihat sisi GM yang sering tersembunyi di balik reputasinya sebagai penyair, esais, dan intelektual publik.
Bagi banyak orang, GM adalah sosok yang lekat dengan kata. Ia penulis rutin Catatan Pinggir di Majalah Tempo yang tajam selama berpuluh tahun, penyair yang introspektif, dan pemikir yang kerap mengkritik kekuasaan. Namun di Salihara, ia juga hadir sebagai seorang perupa.
Di tangannya, teks dan gambar bukan lagi dua dunia yang terpisah, melainkan saling meresap. Karya-karya drawing yang dibuatnya dari 2017 hingga 2025, grafis terbaru, serta seri Kitab-nya mengajak pengunjung memasuki dunia di mana garis, coretan, dan kata-kata bisa lahir dari catatan harian yang sama.
Pameran ini melanjutkan perjalanan visual GM yang mulai dikenal publik sebagai perupa sejak pameran tunggalnya di tahun 2016. Kali ini, ia seolah mengumpulkan segala yang selama ini berproses secara pribadi. Di sana kita bisa melihat sketsa-sketsa spontan, imaji yang gelap dan penuh teka-teki, serta teks yang menjadi bagian integral dari gambar itu sendiri alih-alih sekadar berfungsi sebagai keterangan. Pada karya-karyanya kita bisa merasakan nuansa kontemplatif yang kuat, seperti seorang seniman yang sedang berdialog dengan usia, waktu, dan ingatan.
Salah satu kekuatan pameran ini adalah bagaimana GM memperlakukan kertas dan kanvas sebagai ruang kebebasan. Garis-garisnya sering kali kasar, tidak sempurna, bahkan lebih terasa seperti coretan cepat yang lahir dari dorongan batin. Namun justru itu sisi menariknya, ketidaksempurnaan itu bisa dimaknai sebagai kejujuran. Ia tidak berusaha “cantik” dalam arti konvensional. Ia lebih tertarik pada ketegangan antara yang terucap dan yang tak terucap, antara teks yang terbaca dan imaji yang mengganggu.
Bagi pengunjung yang telah mengikuti perjalanan GM, pameran ini mungkin akan terasa begitu personal. Kita tahu, Salihara bukan sekadar tempat berpameran bagi GM sebab tempat ini adalah “rumah”nya sendiri. Di sini, GM tidak hanya memamerkan karya, tapi juga mengundang kita untuk melihat proses kreatif yang selama ini berjalan paralel dengan kepenulisannya. Teks dan gambar saling mengisi, seperti dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.
Melihat satu persatu karya yang ditampilkan dalam pameran ini, kita bisa dengan mudah menebak bahwa gaya visual GM adalah kelanjutan langsung dari dunia kata-katanya. Ia bukan seniman visual yang terdidik secara formal, melainkan seorang pencari yang menggunakan garis dan coretan sebagai perpanjangan dari catatan-catatan dan puisinya. Gaya visual GM memanglah lahir dari spontanitas. Garis-garisnya sering kasar, tidak rapi, bahkan terlihat ragu-ragu dan penuh ketidaksempurnaan.
Salah satu ciri paling kuat dari karyanya adalah perpaduan erat antara teks dan gambar. Teks muncul sebagai coretan kaligrafi yang terputus-putus, fragmen kalimat, atau catatan yang menyatu dengan imaji. Di pameran ini, teks dan gambar saling silang menciptakan lapisan makna, seolah GM sedang mengajak kita untuk membaca sekaligus melihat. Dari segi warna, GM terlihat sangat setia pada dunia monokrom. Ia lebih suka bermain dengan hitam, putih, dan segala nuansa abu-abu di antaranya. Permainan terang dan gelap menjadi bahasa utamanya.
Figur-figur dalam karyanya pun jarang tegas. Wajah, tubuh, hewan, atau makhluk mitologis sering muncul secara samar, kabur, atau setengah tersembunyi dalam kegelapan. Ada nuansa surealis dan grotesk yang halus, terutama dalam seri Kitab. Di sana, manusia dan hewan bercampur, menjadi metafora tentang naluri, kekuasaan, absurditas hidup, dan sisi gelap kemanusiaan. Humor gelap pun kerap hadir, namun tetap disampaikan dengan sikap kontemplatif.
Konon, proses kreatif GM juga sangat intuitif. Ia jarang membuat sketsa sebelumnya. Ia lebih suka mengikuti dorongan sesaat dan menerima “kejutan” dari bahan yang ia pakai. Ketidakpastian itu menjadi bagian penting dari proses kreatifnya.
Secara keseluruhan, gaya visual GM —jika kita ingin sok-sokan menggolong-golongkan atau mengkategorikan— dapat disebut sebagai puitik-kontemplatif dengan sentuhan ekspresionis dan surealis yang ringan. Ia tidak sedang berusaha menjelaskan tentang dunia, melainkan mempertanyakannya melalui garis yang ragu.
Dus, Pameran Teks, Gambar, Kitab pada akhirnya memperlihatkan pada kita bahwa Goenawan Mohamad adalah sosok yang tidak pernah berhenti mencari. Di usia 85 tahun, ketika banyak orang memilih untuk beristirahat, ia justru membuka lagi lapisan dirinya yang lain.
Apakah ini benar-benar pameran terakhirnya? Entahlah, kita tidak tahu dan tidak pernah benar-benar tahu. Tapi jika memang iya, maka biarkanlah ini menjadi penutupan yang indah dari kisah seorang seniman yang tetap setia pada hasratnya untuk terus mencipta, dengan garis, kata, dan imaji.
