Konten dari Pengguna

Odyssey Bawah Air Kei Imazu di Museum MACAN

Hidayat Adhiningrat

Hidayat Adhiningrat

Seorang penulis seni amatir dan manusia yang senang bermain-main

·waktu baca 4 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Instalasi Nyai Roro Kidul dalam pameran tunggal Kei Imazu The Sea is Barely Wrinkled di Museum MACAN (Dok. Hidayat Adhiningrat)
zoom-in-whitePerbesar
Instalasi Nyai Roro Kidul dalam pameran tunggal Kei Imazu The Sea is Barely Wrinkled di Museum MACAN (Dok. Hidayat Adhiningrat)

Melangkah ke dalam pameran tunggal Kei Imazu The Sea is Barely Wrinkled (Laut Nyaris Tak Beriak) di Museum MACAN, pengunjung langsung terhanyut ke dalam dunia bawah laut yang memikat. Langit-langit galeri bertransformasi menjadi samudra yang hidup —dekorasi menyerupai sisik ikan dan riak ombak berpadu dalam gradasi biru pucat hingga nila. Cahaya remang memantul lembut, menciptakan ilusi sinar matahari yang menembus permukaan air, membangun suasana misterius yang seolah menjadi pintu masuk ke alam mistis tempat manusia berdialog dengan kekuatan alam yang tak lekang oleh waktu.

Di ambang ruang pamer, sosok Nyai Roro Kidul hadir menawan dalam instalasi tiga dimensi yang memukau. Penguasa mistis Laut Selatan Jawa ini tampil sebagai ular raksasa, tubuhnya meliuk membentuk spiral yang memikat mata. Imazu memadukan ironi visual dalam karyanya: besi hitam yang teguh berpadu dengan tekstur lembut, dihiasi motif batik parang —pola ombak khas Jawa— dalam gradasi hijau zamrud hingga pirus. Setiap lekuk logam seakan meriwayatkan perjalanan panjang, dari akar animisme Sunda Kuno, metamorfosis kosmologi Mataram Islam abad ke-16, hingga kehadirannya kini sebagai ikon budaya populer.

Kepala sang Ratu Laut dimahkotai gugusan ornamen logam yang bisa dibaca sebagai perhiasan tradisional maupun aliran air yang membeku. Tangan-tangan besi hitam menggapai udara seperti tentakel atau tarian mudra, menghubungkan mitos dengan tragedi sejarah: referensi tersembunyi pada kapal VOC Batavia yang tenggelam di perairan Australia Barat tahun 1629. Di sini, Imazu mencipta metafora, Nyai Roro Kidul bukan sekadar figur mitos melainkan personifikasi laut sebagai arsip hidup yang menyimpan memori kolonialisme, kekuasaan, dan batas keserakahan manusia.

Lewat instalasi Nyai Roro Kidul, Kei Imazu —seniman Jepang yang kini menetap di Bandung— merajut tiga lapis waktu: mitologi pra-modern, jejak kolonial, dan krisis ekologi Jakarta. Tubuh ular yang melingkar menjadi peta imajiner hubungan manusia dengan alam, menyingkap dualitas antara hasrat menguasai laut dan ketergantungan pada belas kasihnya. Diposisikan di pintu masuk, karya ini bukan sekadar hiasan, melainkan undangan untuk melihat laut sebagai entitas hidup yang memiliki otonomi dan ingatan sendiri.

Pameran The Sea is Barely Wrinkled, kolaborasi Museum MACAN dan ROH Gallery yang berlangsung dari 24 Mei hingga 5 Oktober 2025, menggali sejarah sebagai jalinan ingatan yang saling terhubung. Terinspirasi dari riset Imazu di Sunda Kelapa —pelabuhan VOC yang kini jadi bagian Jakarta Utara— tragedi Batavia menjadi titik awal yang relevan, mencerminkan kondisi pesisir Jakarta masa kini: banjir tahunan, penurunan tanah, dan kerapuhan ekologi. Imazu mengajak kita memandang sejarah seperti laut dalam novel Italo Calvino Mr. Palomar: arus besar yang tak pernah diam, di mana setiap gelombang menyatu dalam aliran abadi antara masa lalu dan kini.

Lukisan The Sea is Barely Wrinkled (2025) (Dok. Hidayat Adhiningrat)

Berpindah dari “Nyai Roro Kidul”, pandangan tertarik pada lukisan megah berjudul The Sea is Barely Wrinkled (2025). Karya minyak di atas kanvas ini bagaikan jendela waktu, mengundang kita menyelami lanskap arkeologi bawah laut tempat sejarah kolonial dan geologi purba bertemu dalam harmoni sunyi.

Lukisan ini menghadirkan pemandangan serupa situs arkeologi bawah laut, dengan artefak-artefak dari bangkai kapal Batavia —simbol era kolonial Belanda— tersusun penuh makna. Komposisi yang kaya detail ini mengajak kita menelusuri lapisan waktu, memori bersama, dan perubahan geologis, sekaligus merenungkan bekas kekuasaan kolonial yang masih membayang di pesisir Jakarta.

Artefak-artefak tampak melayang atau tersusun rapi, menciptakan ilusi kedalaman dan gerak. Di tepian, gapura Kastil Batavia yang retak namun gagah berdiri sebagai lambang kekuasaan kolonial. Di sekitarnya, keramik Tiongkok berpola halus dan tembikar kasar memancarkan nuansa kuno, bersama astrolab perunggu dan meriam tua yang menceritakan sejarah maritim dan militer. Rempah seperti cengkeh, tersebar kecil di antara artefak, mengingatkan pada ekonomi kolonial yang digerakkan perdagangan rempah.

Di bagian depan, kerangka manusia dan fosil laut purba seperti amonit atau kerang raksasa menonjol dengan detail anatomi yang lembut, seolah menyimpan kisah kehidupan yang telah sirna. Fosil-fosil ini, dengan bentuk dan tekstur khas, menandai pergeseran geologi ribuan tahun, menghubungkan pra-sejarah dengan zaman kolonial. Cahaya lembut yang memantul pada fosil menambah aura misterius dan sendu, seakan kita sedang menatap dasar laut penuh rahasia.

Latar lukisan menyuguhkan kejutan: kutipan visual dari sketsa Wijnand Otto Jan Nieuwenkamp yang diolah secara sureal. Bangunan kolonial bergaya Indies dengan jendela tinggi berubah menjadi rumah panggung Tionghoa di Pelabuhan Sunda Kelapa, atap merahnya muncul di antara riak air seperti fatamorgana. Perubahan ini bukan hanya estetika, tetapi terasa sebagai sindiran halus tentang kota yang terus berganti wajah, mengubur satu sejarah demi melahirkan yang baru.

Garis-garis melengkung tipis, menyerupai akar atau ranting, menghubungkan elemen-elemen dalam lukisan. Berwarna cokelat tua dan ungu, garis-garis ini memberi kesan organik namun kacau, mencerminkan kompleksitas sejarah kolonial penuh konflik dan perubahan. Di sudut kanan bawah, sisa kapal karam dengan tiang patah dan ikan-ikan kecil yang digambar halus menambah nyawa pada pemandangan yang hening.

instalasi bertajuk Batavia Ship (Dok. Hidayat Adhiningrat)

Di jantung ruang pamer, instalasi bertajuk Batavia Ship berdiri menghadirkan narasi tentang tragedi kapal Batavia yang kandas pada 4 Juni 1629 di Morning Reef, lepas pantai Australia Barat. Kerangka besi yang kokoh namun melengkung secara artistik berdiri sebagai tulang punggung karya ini, menyerupai lambung kapal Batavia yang hancur diterjang ombak dan waktu. Rangka ini, dengan sudut-sudut tajam dan permukaan yang sedikit berkarat, memancarkan kekuatan sekaligus kerapuhan, mencerminkan kapal yang pernah menjadi simbol ambisi kolonial Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC).

Lantai galeri tertutup hamparan pasir halus yang merata, membawa pengunjung seolah berpijak di pantai terpencil Houtman Abrolhos, tempat lebih dari 300 penyintas Batavia berjuang mempertahankan hidup. Berdiri di depan instalasi ini, pengunjung tak hanya melihat, tetapi juga merasakan. Skala besar karya, mengundang Anda untuk berjalan mengelilinginya, menelusuri setiap sudut dan menemukan cerita yang tersembunyi.

Lantai kayu hangat di sekitar instalasi kontras dengan elemen dingin seperti besi dan pasir, menciptakan pengalaman sensorik. Cahaya yang bergerak dan bayangan yang menari-nari mengajak Anda untuk tenggelam dalam suasana bawah laut atau pantai terpencil, merenungkan nasib para penumpang Batavia —dari harapan yang pupus hingga kekejaman yang lahir dari keputusasaan.

Karya Slanted Portico of the Batavia Fort (2025) (Dok. Hidayat Adhiningrat)

Di ujung ruang pamer, karya Slanted Portico of the Batavia Fort (2025) menunggu seolah menutup penjelajahan bawah laut Imazu. Instalasi ini menampilkan struktur gapura yang tampak kokoh namun rapuh, dengan desain yang menggabungkan elemen arsitektur klasik dan sentuhan modern. Struktur utamanya terdiri dari balok-balok yang menyerupai batu pasir tua, dicat dengan cat minyak dengan detail erosi dan kerusakan yang memberikan kesan usang. Posisi miring gapura menciptakan ilusi bahwa struktur ini tengah runtuh atau tenggelam, memperkuat narasi kehancuran.

Secara konseptual, karya ini mengangkat narasi sejarah yang penuh makna. Gapura asli terdiri dari 137 balok batu pasir dengan total berat 37 ton, yang dikirim dari Belanda pada tahun 1628 menggunakan kapal Batavia. Balok-balok ini juga berfungsi sebagai pemberat kapal. Namun, kapal tersebut karam di perairan Houtman Abrolhos, Australia Barat sebelum mencapai tujuan, mengubur ambisi kolonial VOC bersama reruntuhan kapal.

Komponen arsitektural seperti kolom, puncak pilar, lengkungan setengah lingkaran, ditemukan kembali melalui ekskavasi bawah laut antara tahun 1972-1976. Dalam karyanya, Imazu menghidupkan kembali gapura tersebut dengan menempatkannya dalam posisi miring, melambangkan kegagalan ambisi kekuasaan kolonial yang digagalkan oleh kekuatan alam —laut, waktu, dan peristiwa tak terduga.

Dus, melalui pameran The Sea is Barely Wrinkled, Kei Imazu mengajak kita menelusuri lapisan ingatan, kekuasaan, dan waktu yang terjalin dalam hubungan manusia dengan laut. Menggabungkan mitologi lokal, jejak kolonial, dan ekologi masa kini, karyanya menjadi peta imajiner yang menawarkan cara baru membaca sejarah —bukan sebagai garis lurus, melainkan arus yang terus mengalir dan saling terhubung. Saat melangkah keluar dari pameran, kita membawa kesadaran akan posisi kita dalam narasi luas, di mana setiap riak adalah bagian dari kisah yang tak pernah usai.

Pameran ini adalah perenungan mendalam tentang bagaimana masa lalu hidup berdampingan dengan masa kini, sebagaimana laut dalam Mr. Palomar karya Italo Calvino —luas, misterius, dan penuh cerita yang menanti untuk diungkap. Imazu, yang kini berpijak di Indonesia, menangkap esensi pandangan lokal tentang sejarah yang melingkar, di mana alam, ritual, dan tradisi menjadi jembatan antara zaman. Dalam perjalanan bawah air ini, kita bukan hanya penonton, tetapi bagian dari dialog abadi antara manusia dan dunia yang terus berubah.