Orfeus dalam Sajak dan Tari

Seorang penulis seni amatir dan manusia yang senang bermain-main
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kisah cinta dan kematian yang lahir sekitar tiga ribu tahun silam, tepatnya pada 530 tahun Sebelum Masehi di Yunani, kembali menemukan wujudnya di panggung Teater Salihara pada 1-2 Agustus 2026. Orfeus, sebuah teater-tari kontemporer garapan koreografer Melati Suryodarmo, resmi menandai pembukaan Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2026.
Mitos tentang musisi agung yang nekat menembus dunia bawah untuk membawa pulang kekasihnya, Euridice, itu memang telah berabad-abad mengembara dalam pelbagai ciptaan baru. Di tangan Melati, legenda klasik itu dihembuskan napas baru yang sangat kontemporer yang ia ambil langsung dari sajak berjudul sama karya Goenawan Mohamad.
Sajak Goenawan hadir sebagai jantung narasi pementasan. Pertunjukan dibuka dengan suara aktor Rebecca Kezia yang membacakan bait pertama puisi tersebut: "Lima menit sebelum kereta berangkat / perempuan itu berkata kepadanya, 'Orfeus, aku tak akan kembali.'" Di panggung, terjemahan visual dari bait ini terwujud dalam sebuah ruang peralihan yang sunyi: sebuah stasiun imajiner di mana "peron terbujur. Dan loko tak bergerak. Bangku, jam, tiang lampu, seakan hanya tableau."
Sri Hanuraga duduk di hadapan pianonya di bawah sorot lampu hangat memainkan not-not jazz yang menyayat. Di hadapannya, para penari tak bergerak seperti patung hidup, membeku membentuk tableau (adegan patung hidup) pertama yang menandai waktu terhenti. Ada duka yang membeku di udara. Stasiun di sini adalah ruang sunyi antara kehidupan dan kematian, di mana kepastian akan perasaan kehilangan sudah mulai tertorehkan.
Koreografi Melati kemudian bergerak seperti puisi yang diucapkan oleh raga. Ketika bait ketiga Goenawan terucap, "Rel yang meregang / sampai ke hutan / seperti dua frase / tak bersentuhan," gerak para penari pun membentuk pertentangan itu. Mereka saling menopang, namun tidak pernah benar-benar bersentuhan; mereka berputar di sekitar kursi-kursi kayu putih yang menjadi beban, lalu jatuh berguling, dan kaki telanjangnya menyeret lantai dingin. Kursi yang jatuh itu pun menjadi tableau baru tentang runtuhnya harapan. Sebuah visualisasi dari metafora "dua frase tak bersentuhan" yang menjerit dalam diam.
Puncak tragedi lantas dihadirkan melalui adegan yang merepresentasikan bait puisi ini: "Tapi laki-laki itu menengok. Ia ingin tahu benarkah waktu hilang jejak, benarkah Ajal tertinggal... Ia ingin sebuah perjalanan pulang, (meskipun tak tahu apa artinya 'pulang')." Seorang penari (barangkali dialah sang Orfeus) yang berdiri di tengah kehampaan stasiun akhirnya menengok. Tapi ia salah. "Euridice tak ditemukannya lagi." Tafsir Melati di sini seakan bercerita tentang ketidakmampuan manusia untuk menahan rindu akan sebuah kepastian, sebuah jawaban dari masa lalu yang memang "selalu tak utuh lagi."
Di ujung pertunjukan, momen mengguncang datang dari adegan yang memaknai bait keenam puisi. Ketika mereka, para penari, duduk membelakangi penonton, menengadahkan tangan ke hadapan proyeksi dinding, syair sajak Goenawan berseru melalui gerak mereka: "Kemudian Orfeus bercerita: 'Aku menghelamu dari gelap bawah-sadar. Tubuhmu lembab air tanah. Rambutmu tersibak seperti arus hitam, dan sedetik kulihat bekas pada pelipis: kematian.'"
Di sinilah adegan baskom logam itu kemudian hadir. Para penari membawa baskom berisi air ke tengah panggung. Mereka berjongkok, lalu menundukkan kepala, membenamkan wajah mereka ke dalam air, berulang kali. Gerakan tenggelam dan muncul ini sangat visceral dan terasa seperti laku fisik dari penghelaan "gelap bawah-sadar" yang diutarakan Orfeus. Mereka muncul dan tenggelam lagi, membasuh wajah, seolah mencari "tilas tak tersentuh" di permukaan air yang pecah.
Secara simbolik, air adalah cermin jiwa. Memasukkan wajah ke dalamnya berulang kali bisa dimaknai sebagai sebuah keinginan untuk membasuh diri dari segala dosa dan trauma masa lalu, atau justru simbol keputusasaan. Tenggelam dalam lautan masalah yang tak kunjung usai, hingga mereka harus mengapung sekadar untuk bernapas.
Namun puisi Goenawan pulalah yang kembali mengingatkan lewat bisikan yang terpahat di tubuh mereka: "Jangan menengok, Orfeus. Masa lalu selalu tak utuh lagi." Air itu, meski jernih, tak pernah bisa menghadirkan kembali bayangan yang seutuhnya.
Keseluruhan pertunjukan ini terasa seperti sebuah puisi panjang yang dibacakan lewat gerak. Jika puisi tersusun dari baris dan bait, maka di pertunjukan ini tableau-tableau dari para penari lah yang menjadi bait-bait puitis tersebut.
Saat mereka membelakangi penonton dan menengadahkan tangan ke atas di hadapan bayangan proyeksi, itulah bait tentang doa dan kepasrahan. Ketika mereka saling mengunci tubuh, membentuk susunan manusia yang rumit (saling mendorong dan menopang dada), itulah bait tentang ikatan sosial, cinta, atau bahkan jerat hubungan yang toksik.
Dengan ritme gerak yang kadang mengalir halus, lalu tiba-tiba tersentak, koreografi ini menjadi sebuah antologi gerak yang sangat manusiawi. Setiap tableau mengingatkan penonton bahwa di balik fisik yang diam sekalipun, ada gejolak batin yang menggelegak.
Dan setelah sekian lama terjatuh dari kursi dan tercebur ke dalam air, akhirnya pertunjukan ini meninggalkan pertanyaan, apakah kita sedang mencari wajah kita sendiri atau menenggelamkannya?
***
Sajak "Orfeus" karya Goenawan Mohamad
(dari kumpulan sajak Tigris, 2019)
I
Lima menit sebelum kereta berangkat
perempuan itu berkata kepadanya,
"Orfeus, aku tak akan kembali."
Di halte dusun itu ia terdiam.
Dan peron terbujur. Dan loko tak bergerak. Bangku, jam, tiang lampu, seakan hanya tableau. Pintu gerbong tetap tertutup. Tangga tetap mengidap debu dan tak ia lihat jejak.
Apa yang bisa dilakukannya? Ia, tersenyum, mencoba mengulurkan tangan, tapi hanya menyentuh syal:
"Euridice, tempat ini terlalu sering mengucapkan selamat tinggal."
II
Pada pukul 7:10, sep stasiun mengenakan petnya,
dan melambai.
"Lihat, Orfeus, selalu ada sinyal yang sampai."
III
Rel yang meregang
sampai ke hutan
seperti dua frase
tak bersentuhan -
"Euridice!" orang-orang mendengar suara itu
"Euridice!" tebing menyahut.
IV
"Pada tiap tikungan kali
kau akan dapatkan aku menyanyi
dengan merih yang merah.
Aku mencarimu, Euridice, sampai kau hilang lagi."
V
Seperti basah hutan
sehabis badai
Seperti asap panjang
yang tak singgah
Pekik peluit lepas
yang tak dipastikan
Barangkali di sana yang hilang
akan selalu dikekalkan.
VI
Kemudian Orfeus bercerita: "Aku menghelamu dari gelap bawah-sadar. Tubuhmu lembab air tanah. Rambutmu tersibak seperti arus hitam, dan sedetik kulihat bekas pada pelipis: kematian. Sebuah liang yang memutih, meskipun samar, seperti tera. Barangkali ia telah tertoreh di sana, sebuah tanda mula, seperti titik genetik, seperti tilas tak tersentuh. Benarkah kulihat kau senyum, bibirmu yang kembali fana? Aku menghelamu dari dingin, Euridice."
"Jangan menengok, Orfeus. Masa lalu selalu tak utuh lagi."
VII
Tapi laki-laki itu menengok. Ia ingin tahu benarkah waktu hilang jejak, benarkah Ajal tertinggal, benarkah yang kini ada di detik ini. Ia ingin sebuah perjalanan pulang, (meskipun tak tahu apa artinya "pulang") yang asyik tapi lempang, selurus rakit sebelum muara di bengawan yang terlindung. Ia salah. Euridice tak ditemukannya lagi.
