Pameran "I Will Tell You When I Am Home" di Ara Contemporary

Seorang penulis seni amatir dan manusia yang senang bermain-main
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengambil judul dari memoar Hala Alyan, pameran I Will Tell You When I Am Home di Ara Contemporary, Jakarta (11 Juli–9 Agustus 2026) menghadirkan enam seniman yang karyanya bergulat dengan kompleksitas tempat, perpindahan, identitas, dan rasa memiliki. Pameran ini menavigasi medan yang tak menentu antara hasrat akan keterikatan dan keniscayaan pergerakan, seraya mengajak kita merenungkan satu pertanyaan yang tampaknya sederhana: di mana sebenarnya rumah itu? Jawabannya, tentu saja, tidak pernah tunggal.
Lahir di Amerika Serikat dari ayah Palestina dan ibu Kuwait, Alyan merenungkan sifat identitas yang terfragmentasi. Ia menulis, "Kamu ada dalam kedua identitas itu seperti hantu, tidak sepenuhnya menjadi bagian dari salah satunya." Di pameran ini, melalui lukisan, patung, instalasi, fotografi, dan medium campuran, para seniman merefleksikan pengalaman migrasi, ingatan, dan warisan budaya, sembari mempertimbangkan bagaimana semua itu terus membentuk identitas personal dan kolektif.
Karya Mar Kristoff, seniman termuda dalam pameran ini, berjudul Taman Ayun, menjadi yang pertama terlihat di ruang galeri. Mar merekonstruksi foto sebuah keluarga di Pura Taman Ayun, Bali. Di atas lukisan ini terdapat gambar grafit dari arsip keluarganya sendiri—foto-foto orang tuanya di tempat yang sama dengan foto keluarga tadi. Pada karya ini, Mar seakan melapisi realitas masa lalu dan masa kini, antara orang lain dan diri sendiri, di tempat yang sama dalam waktu yang berbeda. Hasilnya adalah pertanyaan tentang apa yang terjadi ketika sebuah tempat bukan lagi tempat yang kita ingat?
Di karya lainnya yang bertajuk Castle, Mar merekonstruksi interior Kastil Windsor dari kartu pos turis abad ke-20 yang ditemukannya di toko barang bekas di Melbourne. Sebagai seseorang dengan keturunan campuran Polandia-Kanada dan Indonesia, ia menggunakan gambar temuan itu untuk menavigasi ketegangan antara ingatan pribadi dan sejarah yang diwariskan.
Setelah karya-karya Mar, kita dipertemukan dengan seri The Unrealized Utopia karya Arlette Quỳnh-Anh Trân. Di atas halaman-halaman jurnal Bauhaus yang direproduksi, ia melapiskan gambar-gambar hasil kecerdasan buatan dan sketsa tangan. Bauhaus adalah gerakan yang lahir di Jerman awal abad ke-20, kemudian diadopsi oleh negara-negara pascakolonial sebagai simbol modernisasi. Namun, seperti yang ditunjukkan Trân, banyak dari cita-cita itu tak pernah benar-benar terwujud.
Karya-karya Trân terasa seperti percakapan antara masa lalu dan masa depan, antara arsip sejarah dan imajinasi algoritmik. Di atas kertas, ia mempertemukan apa yang tampaknya bertentangan, menciptakan ruang untuk membayangkan kembali sejarah yang selama ini kita terima begitu saja.
Di samping karya Trân, instalasi tekstil Nazif Lopulissa mengisahkan sejarah yang selama ini tersembunyi di timur Indonesia. Melalui karya Trying to Compose It, Not to Bury It, yang sekilas tampak seperti lukisan, Nazif membuat karya tenun berukuran besar yang menggabungkan potret Ratu Wilhelmina di Istana Kerajaan Amsterdam dengan gambar Anggrek Larat (lambang flora Maluku).
Dalam karya ini, dua gambar dan dua narasi hadir dalam satu permukaan. Inilah yang tampaknya membuat Nazif memutuskan menggunakan teknik tenun, karena teknik ini memungkinkan hal-hal yang bertentangan untuk hidup berdampingan, meski harus tetap terpisah.
Nazif Lopulissa, yang berasal dari keturunan Maluku-Turki, menelusuri sejarah keluarganya sendiri. Kakeknya adalah salah satu dari 12.500 tentara Maluku yang dibawa Belanda ke negeri kincir angin setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada 1949. Mereka dijanjikan tinggal sementara, namun kenyataannya menghabiskan bertahun-tahun dalam ketidakpastian tanpa status kewarganegaraan dan tanpa masa depan.
Berhadapan dengan karya Nazif, lukisan besar Khairulddin Wahab berjudul A Forest of Names menyita perhatian. Figur-figur bertebaran di atas lanskap surealis yang terang. Mereka adalah buruh perkebunan yang tanpa nama dan tanpa identitas. Wahab, seniman asal Singapura, merujuk pada cara seniman dan kartografer kolonial menggambarkan Timur.
Karyanya menjadi kritik halus namun tajam tentang bagaimana struktur kekuasaan kolonial tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berubah bentuk, sembari tetap mempengaruhi cara kita melihat dan mengkategorikan "yang lain". Para buruh dalam lukisannya menjadi metafora bagi kita semua yang masih dilihat melalui kacamata yang diwariskan.
Di ujung galeri bagian atas, Shuyi Cao memajang karya-karya yang terasa seperti fosil dari masa depan. Patung-patungnya terbuat dari fragmen cangkang, kayu apung, kaca pantai, dan konglomerat mineral—semua dikumpulkan dari berbagai garis pantai yang ia datangi. Cao merujuk pada Xenophora, moluska laut yang menempelkan benda-benda asing dari lingkungannya ke cangkangnya sendiri. Organisme ini menjadi arsip bergerak, membawa catatan tempat-tempat yang telah dilintasi.
Dalam karya berjudul Every Name Carries a Deity dan Dew nester, Cao menunjukkan bahwa rasa memiliki mungkin muncul bukan dari asal-usul, melainkan dari akumulasi semua yang kita kumpulkan, bawa, dan ubah sepanjang perjalanan.
Di galeri bagian bawah, Nguyễn Phương Linh membawa kita ke ruang yang lebih intim. Di pojok ruangan, karya berjudul Trung mủ - Endless, Sightless hadir diiringi kepulan asap yang memenuhi ruangan. Ini adalah karya video yang mengambil latar salon kecantikan, tempat di mana perempuan Vietnam kelas pekerja di seluruh dunia menemukan ruang untuk mendengar bahasa ibu mereka.
Lalu di karya lain berjudul 7 Lights, panel kayu dari gereja Katolik yang dibongkar di Nam Dinh, Vietnam Utara (dikumpulkan oleh ayah Nguyễn Phương Linh) diubah menjadi perlengkapan lampu. Kayu-kayu itu pernah menjadi perahu selama residensi seniman di Amerika Serikat pada 2012. Kini, mereka kembali ke bentuk yang sama sekali lain. Rasanya Nguyễn ingin menunjukkan bagaimana ingatan dan sejarah bisa bergerak, berubah, dan menemukan makna baru, seperti para migran itu sendiri.
Di akhir perjalanan menyusuri ruang pameran, pertanyaan awal kembali muncul. Frasa "I will tell you when I am home" dalam kehidupan sehari-hari adalah isyarat sederhana saat kita memberitahu seseorang bahwa kita telah tiba dengan selamat di ruang yang aman dan akrab. Namun kita tahu, pameran ini tidak sedang ingin memperlihatkan keakraban tersebut.
Pameran ini seakan ingin menunjukkan bahwa rumah bukanlah destinasi. Ia adalah proses, negosiasi, dan akumulasi. Ia ditemukan dalam ketegangan antara dua gambar yang berusaha menjadi satu, dalam lapisan ingatan yang saling tindih, dalam transformasi material yang melintasi benua, dan dalam ruang-ruang familiar di negeri asing di mana bahasa ibu masih terdengar.
Barangkali pulang ke rumah memanglah perjalanan panjang. Dan barangkali pula, kita tidak perlu benar-benar tiba untuk merasa bahwa kita telah pulang.
