Pameran Imba: Ketika Realitas Digugurkan, Imaji Lahir

Seorang penulis seni amatir dan manusia yang senang bermain-main
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah banjir karya seni figuratif saat ini, pameran Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme di Galeri Salihara hadir sebagai pengingat yang kuat. Seolah menyatakan bahwa kekuatan seni rupa Indonesia justru terletak pada kemampuannya menyimpang, menjadi “imba”, dan menciptakan dunia baru di atas kanvas. Pameran ini, yang diselenggarakan bekerja sama dengan ArtSociates dan dikuratori oleh Asikin Hasan, menyajikan lebih dari 80 karya seni abstrak dari rentang tahun 1950-an hingga 2025.
Secara konsep, pameran ini menyoroti transisi atau evolusi dari abstraksi (sebagai pendekatan atau teknik artistik individu) menuju abstrakisme (sebagai fenomena yang lebih luas, dipelajari, diikuti, dan menjadi arus atau “isme” yang mapan dalam seni Indonesia). Hal pertama yang patut diperhatikan adalah tajuknya: “Imba”. Istilah ini dipopulerkan oleh Sanento Yuliman—seorang kritikus seni rupa, esais, dan pemikir seni Indonesia yang sangat berpengaruh (1941–1992)—untuk menandai sesuatu yang menyimpang, menonjol, dan tak lazim. Persis seperti esensi abstraksi yang tidak sekadar menolak realitas, melainkan menciptakan imaji baru yang personal dan berani.
Sanento Yuliman memang sering menggunakan istilah-istilah berbahasa Indonesia (atau Sunda/Jawa) yang tidak biasa, seperti “imba” (dalam bahasa Sunda berarti “berbeda”, “aneh”, “menonjol”, atau “tak lazim”), untuk menggambarkan karakteristik tertentu dalam karya seni rupa Indonesia. Ia memakai istilah ini (bersama kata-kata seperti wanda, pendusunan, pemingitan, dan lain-lain) untuk menganalisis bagaimana seniman Indonesia menciptakan bahasa visual yang otonom, bukan sekadar meniru Barat.
“Imba” menjadi salah satu konsep kritiknya untuk menunjukkan kualitas estetika yang menyimpang dari norma konvensional atau menonjol karena keunikan serta keberaniannya dalam menjauh dari representasi langsung/realistis. Dalam konteks abstraksi/abstrakisme, “imba” merujuk pada sifat karya yang “berbeda” atau “menyimpang” dari realitas yang biasa dicerap indra, seperti yang juga dijelaskan kurator Asikin Hasan: sebuah proses yang menggugurkan elemen realitas dan melahirkan hal baru yang tak terduga.
Dua karya yang terletak di dekat pintu masuk pameran memperlihatkan proses ini dengan sangat gamblang. Lukisan pertama menampilkan gambar tiga tubuh wanita bertelanjang dada, merujuk pada representasi realitas secara langsung. Tepat di sampingnya, karya lain dari seniman yang sama hadir dengan nuansa yang terasa serupa, namun tanpa figur realistis sama sekali. Kesamaan nuansa kedua lukisan itu “hanya” muncul dari warna dan beberapa goretan garis di atas kanvas.
Kehadiran dua karya ini mencerminkan konsep estetika yang digambarkan dalam esai kuratorial pameran. Di sana disebutkan bahwa realitas tidak akan pernah sama persis ketika digambarkan di atas kanvas atau medium lain. Sebab, di dalamnya terjadi proses yang menggugurkan banyak hal, sekaligus melahirkan hal-hal baru yang tak terduga. Apa yang kita sepakati sebagai gambar realis, surrealis, hiperrealis, atau sebutan lainnya sebenarnya sudah berjarak dari objek yang digambarkan. Semua itu disebabkan oleh satu hal: sebelum ada gambar di atas kanvas atau pahatan di atas batu, telah terbentuk imaji dan mungkin ide terlebih dahulu yang khas dalam diri sang perupa.
Pada karya-karya abstrak yang bertolak dari representasi suatu objek, kondisi ini jauh lebih ekstrem. Bentuk-bentuk yang dicerap indra penglihatan sebagai kebenaran objektif sengaja disimpangi melalui pemihakan bentuk, bahkan menjauh sama sekali dari watak awalnya. Bentuk-bentuk itu kemudian mengalami abstraksi, yaitu upaya menangkap intisari suatu objek di satu sisi, dan di sisi lain menjadi pemberontakan terhadap realitas yang dianggap sebagai kebenaran umum sehingga melahirkan pengalaman personal yang unik dan sama sekali baru. Hal ini mengantarkan kita pada tesis bahwa batas antara karya yang disebut sebagai representasi suatu objek dan karya yang bukan representasi apa pun menjadi kabur maknanya.
Kedua lukisan tanpa judul tersebut adalah karya Simon Admiraal. Nama ini dikenal lama di kalangan seni rupa Indonesia karena gaya melukis abstrak di Indonesia pada awalnya diperkenalkan melalui pendidikan seni di Bandung oleh dirinya dan Ries Mulder. Awalnya terkait pola kubistis-geometris, kemudian dalam perjalanannya gaya ini dianggap sebagai “pembaharuan” di era 1950-an yang masih didominasi lukisan representasional (realis). Pengaruhnya sangat kuat di ITB dan membentuk lingkungan akademis seni rupa di Institut Teknologi Bandung.
Pengaruh itu terlihat pada karya seniman “ITB” seperti A.D. Pirous, G. Sidharta Soegijo, Mochtar Apin, Umi Dachlan, Kaboel Suadi, Amrizal Salayan, hingga generasi baru seperti Gabriel Aries, Galih Adika Paripurna, Mujahidin Nurrahman. Di luar ITB, abstraksi tumbuh di berbagai tempat dengan corak khas, misalnya pada karya Aming Prayitno, Lian Sahar, Fadjar Sidik. Di generasi kontemporer, muncul pendekatan baru berbasis eksplorasi gagasan dan kajian mendalam terhadap material.
Pada pameran Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme, karya-karya dari para perupa tersebut dihadirkan bersamaan. Pengunjung diajak berjalan melalui “jejak waktu” tanpa dipaksa kronologis. Ini memang bukan pameran yang “mudah dicerna” bagi pecinta seni figuratif, tetapi justru di situ letak kekuatannya: mengundang penonton untuk berlama-lama, meresapi bagaimana bentuk-bentuk “imba” ini menciptakan pengalaman estetis yang unik.
Mari kita bahas beberapa contohnya. Lukisan-lukisan Simon Admiraal bertarikh 1951 sampai 1989 dipajang berhadapan dengan lukisan Galih Adika Paripurna yang dibuat tahun 2025. Entah disengaja atau tidak, peletakan ini seolah memberikan tanda sudah sejauh mana gaya abstrak berkembang dari awal masuknya ke Indonesia hingga yang terbaru saat ini.
Karya-karya Admiraal yang dihadirkan berupa lima lukisan kecil hingga sedang, kebanyakan cat air di atas kertas, dibingkai kayu cokelat. Di antaranya yang paling menonjol adalah dua lukisan kecil di sisi kiri yang masih mempertahankan figurasi wanita bertelanjang dada, dengan garis kontur tebal dan warna hangat seperti cokelat, oranye, serta hijau samar. Bentuk tubuhnya sudah terdistorsi ala kubisme, tetapi masih mudah dikenali sebagai representasi figur manusia.
Lukisan-lukisan tengah dan kanan semakin menjauh dari realitas: bentuk organik dan geometris saling tumpang tindih, warna biru, merah muda, kuning, serta hijau membentuk komposisi terfragmentasi, dengan garis hitam tegas membingkai area warna. Secara keseluruhan, karya Admiraal mencerminkan abstraksi awal yang masih berpijak kuat pada figurasi. Realitas manusia dipecah menjadi bentuk geometris dan ekspresif, tapi tidak pernah sepenuhnya hilang.
Sebaliknya, dua lukisan besar Galih Adika Paripurna berjudul Two Figurines and a Boutonniere dan Just Married tampil sebagai dinding dominan di area depan ruang pameran. Menggunakan cat minyak berlapis-lapis, permukaannya didominasi gradasi gelap pekat (hitam, abu-abu, cokelat tua, dengan hembusan samar hijau, merah muda, atau krem) yang muncul seperti kabut tebal atau asap yang perlahan menyelimuti ruang. Efek kilap membuat lukisan berubah-ubah tergantung sudut cahaya dan posisi pengunjung.
Jika diamati dengan teliti dari jarak dekat, lapisan dalam kedua lukisan ini menyimpan figur-figur samar. Pada Two Figurines and a Boutonniere, terlihat siluet dua manusia kecil (figurines) bersama elemen boutonniere (bunga kecil jas pria) yang tersembunyi di balik kabut cat. Pada Just Married, ada bayangan pasangan pengantin, gaun, bunga, atau dekorasi pernikahan yang terdistorsi menjadi garis melengkung dan noda-noda lembut. Semua itu tidak eksplisit, hanya muncul sebagai intisari emosional, kenangan yang pudar, atau memori yang tertutup waktu.
Dari kedua karya ini terlihat bahwa karya Admiraal mewakili tahap awal abstraksi di Indonesia: abstraksi yang masih “mengenal” objek nyata (tubuh manusia), memecahnya menjadi bentuk geometris dan warna datar sebagai pembaharuan formal di era 1950-an. Sementara karya Galih Adika Paripurna menunjukkan abstraksi kontemporer yang jauh lebih radikal: realitas hampir sepenuhnya “digugurkan” dari permukaan, hanya menyisakan esensi emosional dan atmosferik melalui lapisan material yang dalam serta efek kabut.
Selain kontras mencolok antara karya Simon Admiraal dan Galih Adika Paripurna, pameran ini juga memperlihatkan keragaman corak abstraksi melalui karya lain yang tersebar. Di salah satu dinding, terpampang deretan lukisan kecil berbingkai kayu cokelat dengan paspartu krem yang memamerkan palet warna hangat dalam komposisi mozaik bertekstur. Di bagian lain, lukisan-lukisan bertekstur tebal mendominasi dengan warna biru tua yang dalam, dihiasi titik-titik emas atau pola berulang yang minimalis, mengundang perhatian pada permukaan material itu sendiri.
Ada pula karya berbentuk lingkaran besar dari material putih yang membentuk pola mandala simetris, ditemani karya kecil berbingkai hitam dengan motif serupa berwarna emas di atas latar gelap. Pola-pola ini menciptakan kesan meditatif, di mana kekosongan dan pengulangan menjadi elemen utama. Di sudut lain, panel-panel besar berwarna cokelat tua bertekstur kasar dengan garis-garis emas vertikal tipis yang sangat minimalis menonjol. Permukaan yang berpasir dan berlapis ini menekankan keheningan, ketenangan, serta kekuatan material itu sendiri. Jauh dari narasi rumit, lebih kepada pengalaman sensorik yang murni.
Secara keseluruhan, pameran ini menunjukkan bahwa abstrakisme di Indonesia bukanlah cerita linier tentang “kemajuan”, melainkan percakapan berkelanjutan yang terus bertransformasi. Dari pendekatan struktural-geometris di masa awal, melalui tekstur ekspresif dan warna emosional di generasi menengah, hingga kabut atmosferik, materialitas radikal, serta keheningan minimalis di masa kini, abstraksi tetap relevan karena kemampuannya menangkap intisari realitas yang tak pernah bisa ditangkap secara utuh.
