Pertunjukan “Island” di Salihara: Siapakah Aku di Tengah Laut yang Mempertemukan

Seorang penulis seni amatir dan manusia yang senang bermain-main
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap manusia adalah pulau yang saling memanggil lewat hembusan angin dan gelombang. Pulau-pulau yang secara harfiah terpisah oleh lautan itu dipertemukan juga oleh lautan yang sama. Pertemuan ini pada akhirnya bermuara pada antrian pertanyaan: Siapakah aku? Di mana akarku? Bagaimana bisa aku bertemu dengan “pulau” lain tanpa kehilangan diriku sendiri?
Agaknya pertanyaan-pertanyaan inilah yang ingin dilontarkan oleh Wang Yeu-kwn dan Danang Pamungkas melalui karya tari kolaborasi mereka, “Island”, yang baru saja ditampilkan di Teater Salihara, Jakarta, pada 9–10 Mei 2026. Pertunjukan ini hadir di Indonesia sebagai bagian kedua dari proyek Wang Yeu-kwn bertajuk “A Trilogy – Quest of Relationships” setelah sebelumnya dipentaskan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 01-03 Mei lalu.
Kisah ini bermula dari sebuah pencarian. Pada 2019, Wang Yeu-kwn (koreografer asal Taiwan yang juga seorang nelayan) berlayar ke Indonesia. Ia terobsesi oleh legenda masyarakat Tao di Pulau Orchid, bahwa setiap ikan besar akan membawa nama seorang nelayan di punggungnya. Wang mencari ikan raksasa itu untuk menyingkap jati dirinya sendiri.
Alih-alih menemukan ikan, ia justru bertemu dengan Danang Pamungkas, seniman tari asal Indonesia yang pernah menari bersamanya di Cloud Gate 2 di bawah bimbingan maestro Lin Hwai-Min. Pertemuan itu menyulut percakapan panjang tentang tubuh, ingatan, keterasingan, dan arti menjadi “pulau” di dunia yang semakin terhubung. Percakapan itu kemudian terwujud menjadi karya tari kolaborasi, yang salah satunya kita saksikan di panggung Salihara malam itu.
Pada awalnya adalah sebuah lembaran plastik hitam besar yang terbentang di atas panggung. Lewat sentuhan cahaya dan hembusan angin, plastik itu mengembang dan lalu Danang menari di atasnya hingga membuat plastik itu berubah-ubah wujudnya. Kadang ia tampak seperti permukaan laut yang berkilauan, kadang seperti batu karang yang kokoh, pulau-pulau kecil, atau bahkan gunung yang menjulang. Seakan plastik itu menjadi kanvas yang penuh metafora.
Dia rapuh sekaligus kuat, seperti tubuh manusia yang sampai kapan pun akan terus berubah. Lama kelamaan plastik meluruh dan semakin mengecil hingga menyisakan satu area berwujud sosok tubuh manusia. Di dalamnya ada Wang Yeu-kwn yang sedang “berakrobat”. Dalam posisi lilin (kepala di bawah, kaki di atas), sosok Wang keluar dari dalam plastik yang tersingkap. Di ujung lain, Danang menari mengenakan topeng dan sisa plastik yang kini menjadi selempang di bahunya.
Topeng kayu yang dikenakan Danang adalah jembatan langsung ke akar tradisinya sebagai penari Jawa dari Surakarta. Danang Pamungkas, yang pernah menjadi penari utama di Istana Mangkunegaran, membawa kosakata gerak tari topeng Jawa (khususnya gaya Klana atau tari topeng maskulin yang energik) ke dalam ruang kontemporer.
Gerakannya yang tegas namun tetap halus, dengan penekanan pada kekuatan inti tubuh, rotasi bahu, dan ekspresi tubuh yang tertahan oleh topeng, menciptakan ketegangan visual yang kuat. Dalam pertunjukan “Islands”, topeng ini tidak lagi murni berfungsi sebagai representasi karakter wayang atau cerita Panji klasik, melainkan lebih seperti simbol wajah yang sekaligus menyembunyikan dan mengungkapkan dirinya.
Ketika Danang menari dengan plastik hitam yang melingkar di bahunya seperti selempang atau sayap yang bergoyang, terasa ada perpaduan antara kekuatan tradisi Jawa yang kokoh dengan kerapuhan material kontemporer. Plastik yang mengembang seperti lautan dan kini menyusut menjadi selempang itu, seolah sedang menggambarkan tradisi yang dibawa Danang yang ikut “mengecil” atau bertransformasi saat bertemu dengan “pulau” lain (tubuh Wang Yeu-kwn).
Keduanya lalu bertemu di tengah panggung, di atas plastik yang dibentuk seperti garis yang memanjang. Masing-masing dari mereka menarik plastik itu di dua sisi yang berbeda hingga terputus. Lalu keduanya berpindah ke belakang, bergerak dari satu sisi ke sisi lainnya dalam gerakan-gerakan yang hampir sama.
Keduanya seakan coba memadukan dua tubuh dari akar yang berbeda menjadi satu bahasa. Mereka coba mempertemukan dua pendekatan terhadap tubuh tradisi yang diwariskan turun-temurun dan eksplorasi kontemporer yang terus mempertanyakan. Hasilnya adalah sebuah tarian yang malah terasa rapuh dan tidak ajeg.
Wang Yeu-kwn kemudian mengenakan topeng tradisional yang dibawa Danang. Tubuhnya bergerak dalam kegelapan batin (topeng itu menutup hampir seluruh wajahnya dan membuat matanya terpejam rapat), menjelajahi ketidakpastian, kehilangan, dan pencarian tanpa melihat. Gerakannya lambat, penuh ketegangan, seolah setiap otot dan sendinya sedang berbicara dengan ingatan leluhur dan lautan yang pernah dilaluinya.
Kedua penari kemudian saling mendekat, menjauh, bertabrakan, menopang, dan melebur. Tubuh mereka kadang bertaut seperti akar yang saling mencari, kadang terpisah seperti dua pulau yang berdiri sendiri. Tak ada kata-kata yang terlontar tapi setiap sentuhan, setiap hembusan napas, dan setiap jatuh-bangunnya seakan sedang menceritakan kisah tentang identitas, rumah, dan upaya manusia memahami satu sama lain di tengah perbedaan budaya.
Barulah di sini, pertemuan dua tubuh itu —satu membawa warisan istana Jawa yang terstruktur, satu lagi membawa kepekaan tubuh kontemporer Taiwan— terasa sedang menyampaikan inti dialognya. Seperti plastik hitam yang terkoyak-koyak tadi, dia bisa dengan mudah dihancurkan oleh angin sekalipun tapi di sisi lain juga bisa membentuk ombak yang mengesankan. Demikianlah cara pertunjukan ini memungkasi percakapan antara keduanya.
